Andi Hendra Paluseri
Alumni Teknik Tenaga Listrik-ITB
Seiring dengan berkurangnya pasokan minyak bumi dunia, saat ini gas telah mengalami era keemasan. Di Indonesia, dimulai dengan mulainya program konversi minyak tanah ke LPG dan saat ini juga sudah mulai digalakkan penggunakan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai bahan bakar kendaraan baik hybrid dengan gasoline maupun full-CNG.
Eksplorasi gas sendiri yang dulunya masih mencari gas-gas konventional, sekarang para perusahaan migas sudah mulai melirik ke unconventional sources mengingat potensinya yang cukup besar, teknologi sudah semakin canggih dan trend menurunnya biaya investasi yang dibutuhkan untuk itu. Sebut saja CBM (Coal Bed Methane) dan Shale Gas sebagai gas unconventional yang saat ini mulai gencar dieksplorasi baik diluar maupun di Indonesia sendiri.
Bahkan di Amerika yang dulunya sempat berencana menjadi importir gas dengan membangun terminal-terminal regasifikasi, malah akan menjadi negara eksportir gas sehubungan dengan penemuan sumber-sumber Shale Gas yang sangat besar di negara tersebut. Alhasil terminal regasifikasi yang telah dibangun akan dialihfungsikan sebagai terminal liquifaksi.
Selain CBM dan Shale Gas, sebenarnya ada jenis sumber gas yang sangat berlimpah jumlahnya di dunia. Nama jenis gas tersebut adalah Gas Hidrat. Gas Hidrat adalah sumber energi gas yang terbentuk di darat maupun di laut dalam suhu yang rendah dan tekanan yang tinggi berbentuk es yang bersenyawa dengan air. Pertama kali gas hidrat ditemukan pada tahun 1811 oleh Sir Humphrey Davy. Hidrat adalah senyawa kimia (Gas alam, O2, N2, Kripton, Xenon, Argon, CO2, H2S dll) yang bersenyawa dengan air.
Intinya sih Gas Hidrat adalah gas yang terkurung dalam air dan akan keluar dari kurungan bila air tersebut mengalami pemanasan. Gak tanggung-tanggung, potensinya di Indonesia diperkirakan mencapai 3.000 TCF. Sebagai ilustrasi, bila 3.000 TCF ini dipergunakan sebagai energi, maka kita tidak memerlukan minyak bumi lagi selama 300 tahun. Potensi tersebut, diperkirakan sebagai besar berada di perairan Sumatera Utara bagian barat, Selat Sunda, Selat Makassar, perairan sebelah utara Manado, serta di perairan Maluku dan Papua.
Negara-negara yang saat ini sudah mengembangkan gas hidrat adalah Jepang, Kanada, Italia, USA, China dan Rusia. Jepang sendiri sangat intensif mengembangkan gas hidrat. Seperti yang kita ketahui bahwa saat ini Jepang adalah negara yang miskin sumber daya alam sehingga konsumsi energi di negara tersebut sangat bergantung dari impor energi. Indonesia adalah salah satu eksportir energi terbesar ke negara tersebut.
Pada Maret 2013 lalu, Jepang telah melakukan percobaan pertama untuk memproduksi gas hidrat lepas pantai. Teknologi yang digunakan adalah depressurisation dengan mengubah hidrat methane menjadi gas methane. Hasil dari penelitian lain di Jepang memperkirakan bahwa setidaknya 1.1 TCF hidrat methane mengendap di lepas pantai. Potensi tersebut setara dengan konsumsi gas Jepang selama satu dekade. Ditargetkan komersialisasi gas hidrat di Jepang sendiri akan dapat dilakukan pada tahun 2016.
Bayangkan bila Jepang sukses dengan rencana produksi dan komersialisasi gas hidrat tersebut, hal ini tentu akan mempengaruhi peta jual beli gas dunia either dalam bentuk LNG maupun gas pipa. Harga LNG Jepang yang sampai saat ini relatif tinggi, tentu akan menurun karena demand di negara tersebut terhadap sumber energi dari luar akan berkurang. Berita baiknya, produksi gas Indonesia mungkin sebagian besar akan digunakan untuk kebutuhan domestik.
[tulisan akan dilanjutkan..]
-6.914744
107.609811