Mungkin masih melekat di ingatan kita tentang peristiwa longsor di TPA Leuwigajah pada tahun 2005 yang menewaskan 157 orang. Setelah peristiwa tersebut, Bandung yang awalnya dikenal sebagai Lautan Api mendapat julukan baru yaitu Lautan Sampah akibat tidak ada lagi TPA yang dapat digunakan untuk menampung sampah Bandung. Perlu waktu yang cukup lama untuk mengatasi masalah tersebut salah satunya dengan membangun TPA baru di Gedebage.
Kisah tersebut merupakan salah satu contoh sekelumit problematika pengolahan sampah di Indonesia. Pemerintah harus bekerja ekstra keras untuk berjibaku dengan sesuatu yang dianggap useless ini. Eitss, tapi anggapan sampah adalah barang useless sepertinya akan berubah dengan gencarnya pemanfaatan sampah di negara-negara lain menjadi sumber energi. Kata ‘sampah’ mungkin tidak akan dipakai lagi sebagai kata cacian karena kesadaran akan berharganya barang yang satu ini.
Salah satu bentuk panen energi sampah adalah dengan memanfaatkan gas methane yang dihasilkan dari tumpukan sampah tersebut menjadi fuel bagi gas engine untuk menghasilkan listrik atau biasa disebut sebagai Teknologi Landfill Gas.
Bayangin deh, dulu untuk mendapatkan gas alam, perusahaan migas harus drilling lapisan bumi ratusan meter dengan risiko kegagalan yang besar dan investasi yang diperlukan juga sangat besar. Ternyata di depan mata kita, gas alam juga tersedia berlimpah ruah, yaitu dari tumpukan sampah. Dengan potensi sampah yang sangat besar di Indonesia, tidak perlu ditakutkan lagi akan kelangkaan migas kedepannya. Kita tinggal berusaha memanfaatkan energi sampah ini dari sekarang sehingga bila nanti migas sudah benar-benar habis, energi dari sampah ini menjadi salah satu alternatif utama energi pengganti.
Dari sisi lingkungan, emisi gas methane hasil landfill gas tersebut yang bahayanya 21 kali lebih merusak dibandingkan gas karbondioksida dalam hal global warming dapat berkurang signifikan karena dimanfaatkan sebagai fuel pembangkit listrik. Jadi selain memanfaatkan energi sampah sebagai bisnis, investor juga sudah menabung pahala dengan bertindak sebagai pendekar lingkungan yang mengurangi efek rumah kaca.
Malah di beberapa negara Eropa, gas methane yang berasal dari sampah tersebut digunakan sebagai bahan campuran (blending) 20% dari BBG untuk kendaraan-kendaraan disana. Jadi tidak usah heran bila di masa depan di setiap TPA di Indonesia akan dibangun stasiun pengisian bahan bakar yang berasal dari gas methane dari sampah di tempat tersebut.
Teknologi yang lebih efektif dalam menghasilkan listrik dari sampah adalah Incenerator. Prinsipnya sederhana, sampah-sampah tersebut dibakar lalu akan memanaskan air sehingga menghasilkan uap yang akan menggerakkan turbin uap. Namun karena saat ini teknologi tersebut masih menghasilkan by-product yang cukup berbahaya berupa dioksin, tar, SOx dan NOx, penggunaannya masih menjadi masalah tersendiri. Lihat saja rencana proyek PLTSa Gedebage di Bandung yang sampai saat ini belum jalan. Masalah utamanya karena isu lingkungan ini. Meski para pakar sudah menjamin bahwa by-product handlingnya akan berjalan dengan baik sehingga plant akan berjalan dengan aman, tetap saja masih mendapat penolakan dari masyarakat.
Sebenarnya ini karena syndrome NIMBY (Not In My Back Yard) masih sangat kuat di masyarakat Indonesia sehingga sangat resistan terhadap ide proyek energi. Bila mau membuka mata saja, di Singapura malah sudah menggunakan byproduct incenerator tersebut untuk mereklamasi pulau Semakau. Berikut adalah 10 TPA terbesar di Indonesia untuk menghasilkan listrik dari sampah di daerah tersebut dengan menggunakan teknologi Incenerator.
| No. | Lokasi | Nama TPA | Potensi Sampah (ton/hari) | Potensi(MW) |
| 1 | DKI Jakarta | Bantar Gebang, Sumurbatu | 8,733 | 157.19 |
| 2 | Kota & Kab. Tegal | Sarimukti | 3,519 | 63.34 |
| 3 | Kota Surabaya | Benowo | 2,562 | 46.12 |
| 4 | Kota Medan | Namo Bintang, Terjun | 1,812 | 32.62 |
| 5 | Kota Tangerang | Rawakucing | 1,352 | 24.34 |
| 6 | Kota Semarang | Jatibarang | 1,345 | 24.21 |
| 7 | Kota Depok | Cipayung | 1,217 | 21.91 |
| 8 | Kota Palembang | Sukawinata, Karya Jaya | 1,171 | 21.08 |
| 9 | Kota Malang | Supit Urang | 761 | 13.70 |
| 10 | Kota Padang | Air Dingin | 682 | 12.28 |
*Data TPA dari EBTKE dan Potensi dihitung dengan ketentuan 1 ton sampah/hari setara untuk pembangkit 18 kw (menurut Dr. Ir. Ari Dharmawan Pasek. Ketua Tim FS PLTSa Gedebage).
Alternatif teknologi lain yang lebih ramah lingkungan dibandingkan incenerator adalah Gasifikasi. Dengan teknologi gasifikasi, Sampah yang masuk akan dibakar tanpa mengalami oksidasi sempurna sehingga dihasilkan syngas (synthetic gas) berupa CO dan H2. Syngas yang diproduksi tersebut selanjutnya dapat dibuat menjadi bahan baku biofuel ataupun listrik. Kapasitas reduksi sampah dengan teknologi gasifikasipun lebih bagus dibandingkan dengan incenerator.
Adapun bentuk improvisasi yang telah dilakukan dari teknologi gasifikasi saat ini adalah dalam bentuk plasma gasifikasi. Plasma gasifikasi adalah gasifikasi yang dilakukan terhadap sampah namun dengan suhu yang super tinggi (4000-5000 derajat celcius). Dengan teknologi ini, syngas yang dihasilkan akan lebih banyak, reduksi sampah sangat optimal dan minim dampak lingkungan. Bila takut akan bahaya lingkungan yang ditimbulkan oleh Incenerator, plasma gasifikasi bisa menjadi teknologi alternatif yang ramah lingkungan namun berefisiensi tinggi. Dengan potensi yang besar, Indonesia selayaknya bisa menjadi salah satu pelopor realisasi teknologi plasma gasifikasi ini karena beberapa negara termasuk India-pun sudah mulai mengembangkannya tidak hanya sebagai pilot project namun sudah berskala besar.
Bila saja tiap daerah memanfaatkan sampah yang mereka miliki untuk menghasilkan listrik bagi kebutuhan lokal, PLN-pun akan semakin terbantu dalam penyediaan tenaga listrik. Untuk memancing appetite para investor di bidang energi ini, awal tahun 2012 Pemerintah-pun sudah mengeluarkan Feed-in-tariff. Feed-in-tariff ini salah satunya tertuang dalam Peraturan Menteri ESDM No.4 tahun 2012 terkait harga beli listrik dari energi biomassa, biogas dan sampah kota.
Feed-in-tariff adalah harga beli listrik yang ditetapkan oleh Pemerintah terhadap energi yang dihasilkan dari jenis energi tertentu dengan telah mempertimbangkan kelayakan keekonomian dari bisnis energi tersebut. Feed-in-tariff ini sangat diperlukan oleh investor untuk menjamin keekonomian bisnis yang mereka jalankan. Berikut adalah daftar harga listrik yang ditetapkan dari Permen No.4 tahun 2012 :
| Energi Terbarukan | Harga Beli | |
| 1.Biomassa & Biogas | 975/kWhxF | |
| 2.Sampah Kota dengan Teknologi Incenerator&Anaerob Digestion | 1,050/kWh | |
| 3.Sampah Kota dengan Teknologi Landfill | 850/kWh |
Ket :
F = 1, untuk wilayah Jawa, Madura, Bali dan Sumatera
F = 1.2, untuk wilayah Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara
F = 1.3, untuk wilayah Maluku dan Papua
Dahulu sebelum feed-in-tariff diterbitkan, investor harus melakukan negosiasi dengan PLN dan biasanya memakan waktu yang cukup lama. Dengan ditetapkannya feed-in-tariff selain tidak perlu bernegosiasi dengan PLN terkait masalah harga, investor juga diuntungkan karena dalam peraturan tersebut PLN diwajibkan untuk membeli energi listrik yang dihasilkan. Jadi selain bahan baku yang melimpah ruah, regulasi dari pemerintahpun sudah mendukung untuk realisasi ‘Panen Energi Sampah ini’.
Dengan begini saya yakin Target bangsa untuk merealisasikan 100% elektrifikasi di ulang tahun yang ke-100 pada tahun 2045 sepertinya bukan hanya mimpi lagi.
Terakhir dari saya, Jangan Lagi Habiskan Energi Untuk Sampah. Mari Habiskan Sampah Untuk Energi.

Wah, artikelnya cukup menarik Di, Meminimalkan produksi sampah dirasa cukup penting sekarang ini, apalagi dengan adanya teknologi baru yg bisa mengolah sampah menjadi sumber energi seperti ini. Selain mengurangi polusi, manfaat lainnya jg bisa didapat.
Semoga implementasi pengelolaannya yg baik ini bisa segera cepat terlaksana ya.
yoi ren
btw potensi sampah di Sumatera Utara juga menarik lho buat dijadikan bahan baku pembangkit listrik
mungkin kamu mau memulai dari sumatera utara hehe
luar biasa..!
tidak disangka, hal – hal yang kita pandang remeh akhirnya dapat menjadi sesuatu yang dapat menyambung nafas kita..
Yoi bro
Bukan hanyajadi duit tapi jadi amal juga
Lupa nulis id, ud main submit aja haha
Andi, mantap!! Nice article
“Jangan Lagi Habiskan Energi Untuk Sampah. Mari Habiskan Sampah Untuk Energi”
Great quote tuh Ndi
Ya apalagi kamu di Pertamina sekarang, semoga semakin bs berkontribusi untuk negeri ini aaminn
Sorry for late response, baru bisa online hehe
Good luck for you
Hehehe.. makasih ria
Btw slogan yang diatas itu asli slogan aku yang buat lho
Tp didedikasikan untuk sebuah proyek di pertamina
Nothing impossible, and we never know until we try. Talking about Gas is out of mind, because my economics majoring background . But from business side, it could be a great opportunity for future. hope it can be implemented soon. Nice idea, and wunderbares writing, good luck for andy!
Thanks mas suharsa for your optimism and support..
I’m sure we will build this great dream as soon as possible…
Regards,
Andi
Gooddddd..
Terima kasih didiet
Konversi energi dari sampah memang bagus, namun bagi anak TL pemusnahan sampah dengan insinerator bukanlah jawaban karena menghilangkan masalah dengan masalah.
Perlu diperhatikan juga mengenai karakteristik Sampah di TPA-TPA Indonesia karena 70% adalah sampah basah yang punya nilai kalori rendah dalam artian sulit terbakar.
Mungkin lebih oke klo konversi energi dari air banjir (kota2 besar yg punya drainase buruk banjir mlulu bukan?), hehee….
Mas sarinah club terima kasih atas tanggapannya
Untuk yang konversi energi dari air banjir, dosen saya pernah mencoba menghitungnya namun tidak signifikan energi banjir karena intermittent dan water handlingnya juga susah berhubung air banjir umumnya air kotor yang harus ditreatment lagi.
Benar 70% sampah di Indonesia adalah sampah basah/organik, menurut saya sampah organik ini tetaplah dijadikan sebagai sumber gas landfill. Bila memang tidak ekonomis dijadikan fuel untuk gas engine, jadikan saja BBG minta subsidi dari pemerintah. Sedangkan sampah nonorganiknya kita gunakan untuk fuel pembangkit incenerator.
Sebaiknya jangan takut akan incenerator ini, bermacam2 negara sudah sukses mengaplikasikannya. Contohnya negara terdekat Singapura. Jepang dll. Bila mereka bisa, kenapa kita tidak?
Salam
Andi Hendra P
- konversi energi dari air banjir sudah ada yang studi toh. Btw, treatment apa ya yang harus dilakukan ke air banjir sebelum dipake buat ngegerakin turbin? (diendapin aja dah cukup keknya)
- yup betul sekali di singapura & jepang sudah berhasil, malah casing reaktor2 insineratornya dibuat layaknya gedung perkantoran. Tapi hal ini dilakukan setelah mereka menerapkan 3R di masyarakatnya. Lagipula insinerator punya mereka harganya mahal-mahal deh. Pada akhirnya balik lagi ke tujuan awal sih, mau konversi energi atau mereduksi sampah?
Mas sarinah club thanks atas komentarnya
Bisa aja sih kalau diendapin tapi yah udah keburu banjir duluan deh dan nantinya bukan pembangkit tenaga banjir tapi pembangkit tenaga sisa banjir hehe.. tapi oke juga tuh sarannya
Bener incenerator itu memang tujuan utamanya untuk mereduksi sampah, makanya tipping fee untuk incenerator ini gila2an. Rencana ITF yang di jakarta setahu saya tipping feenya mencapai 400.000 perton sampah. Kalau yang di Gedebage kan masih 250.000 perton (kalau tidak salah).
Teknologi semakin proven akan semakin murah, pemenangnya adalah yang berani mulai seawal mungkin dan Indonesia pasti bisa menjadi salah satu penggerak di bidang ini. Insya Allah optimis…
Energi dari sampah memang selalu menarik, dan angkanya cukup signifikan untuk diperhitungkan sebagai alternatif. Namun, selama ini di Indonesia, kita tahu bahwa TPS maupun TPA merupakan badan terpisah yang dikelola oleh operator swasta tertentu, dimana selama ini sudah menjadi rantai pasok yang sangat panjang dan detil, tentunya merupakan hajat hidup orang banyak. Mulai dari pemulung, sampai penguasa TPA berkepentingan terhadap bisnis sampah ini.
Challenge kita di Indonesia untuk penerapan waste-to-energy antara lain, bagaimana kita reformasi metode pengelolaan sampah yang sudah begitu solid sejak dulu kala menjadi sampah yang terorganisir sehingga bisa dikelola menjadi energi. Kedua, sampah yang tersebar dimana-mana tidak akan memberi nilai tambah signifikan, kecuali memang dikumpulkan di satu tempat sebelum diubah menjadi energi. Biasanya TPA atau TPS jauh dari pemukiman karena kita cenderung tidak mau tinggal ‘bersama’ sampah. Sehingga, PR berikutnya adalah mentransport si listrik ke grid lokal terdekat.
Secara investasi, waste-to-energy ini cukup menarik, tapi hanya dengan supply yang kontinu. Di luar, kebanyakan memang sampah sudah terkelola sehingga menambah equipments pembangkitan saja. Di sini, sebagai alternatif, kita bisa mulai dengan memanfaatkan sampah industri (perkebunan, dll) yang memang memiliki jumlah cukup besar dan signifikan untuk dijadikan energi. Good point adalah, sampah ini memang bisa menjadi pengisi kekurangan energi yang saat ini terjadi di berbagai wilayah, terutama di pelosok.
Yuk kita ubah potensi sampah menjadi energi. Dengan demikian, kita komit untuk mengubah tata kelola sampah yang ada saat ini, tidak hanya mengumpulkan sampah di ujung rantai namun dari proses produksi atau konsumsi awal sudah memperhitungkan kemanakah sampahnya nanti bermuara *cradle to cradle*. Terima kasih info updatenya ya Andi, sukses ya dan tetap semangat!
Mbak shana terima kasih atas tanggapannya.
1. Benar sekali pemanfaatan sampah rantainya sangat panjang dan detail. Oleh karena itu menurut saya bila energi sampah ini dilakukan sebaiknya memanfaatkan sampah dari bahan organiknya saja karena yang dibutuhkan para pemulung itu adalah sampah nonorganiknya seperti besi, kaca, dan plastik
2. Untuk tpa yang tersebar-sebar, benar sekali solusinya adalah TPA Regional. Selain biaya pengolahan sampah menjadi relatif lebih murah/ton-nya, investasi yang diperlukan untuk EPCnya pun akan lebih murah untuk tiap MW pembangkitnya.
3. Untuk mendapatkan Feedstock sustainability, para investor haruslah melakukan contract of supply sehingga tidak akan seperti yang terjadi di sebuah negara dimana pembangkitnya harus tutup karena kekurangan pasokan feedstock.
Salam
Andi Hendra Paluseri
Wah, mantaps benar ulasannya bung andi….
1. Kalau bicara sampah di Indonesia, saya jd ingat dengan perilaku kebnykn orang Indonesia yg buang sampah sembarangan. Mungkin dengan sosialisasi yg efektif dan efisien terkait pemanfaatan sampah ini sebagai sumber energi alternatif, masyarakat indonesia bisa lebih teratur buang sampah dan ngolahnya.
2. Setuju dengan poin 2 master daud terkait pemerintah juga harus nekanin 3R terkait sampah ini. Kalau bisa dikuranginlah sampah2 nonorganik di Indonesia ini. Moga perusahaan2 juga ikut partisipasi mikirin sekaligus ciptain produk yg awalnya gunain bhn anorganik ke depanny gunain bahn organik.
3. Bicara TPA terbesar Bantar Gebang, saya sudah pernah mengunjunginya satu kali. Saat itu, saya ikut kegiatan bakti sosial yg diorganize dan disponsorin sama General Electric (GE). Kalau lihat dari pengaturan tata letk sampah di sana, berantakan sekali, campur aduk sampah organik dan nonorganik. Kasihan juga sama anak bangsa yg kerja di sn harus misah2in sampahny.Kan kalau udah dipshin dari asal, merk jd mudah kerjanya. Moga masyarakat indonesia lain sadar untuk lebih mengorganisaikan sampahny. Setahu saya, GE juga punya teknologi pengolah sampah ini, tp sy kurg tahu teknologi persisnya sperti apa. Kalau bisa ngasilin teknologi yg byproduct nya enviro-friendly pasti sangat bagus.
sekian dulu pandangan dari saya
salam hangat,
Peran Gatra Pinem
Peran Gatra
setuju sekali bila melihat kondisi pemulung disana yang sangat tidak higienis salah satunya karena memang campur aduk sampah yang organik dan nonorganik yang kamu sebutin diatas.
Oiya, ngasi tau fakta juga kalo sebenarnya kesalahan pemilahan sampah itu juga bukan pada user pembuang sampah lho, tim yang mengumpulkan sampah juga ternyata gak gitu aware. Coba deh misal kamu di rumah milahin sampah organik dan nonorganik, nah nanti yang mengumpulkan sampah tetep aja mencampurkan sampah yang sudah kita pilah sebelumnya. Nah ini kan sama aja sia-sia wae pekerjaannya.
Nah, untuk menyelesaikannya adalah penyadaran ke semua pihak bahwa pemilahan sampah memang sangat dibutuhkan sejak saat ini..
Salam
Andi Hendra Paluseri
1. Secara engineering mengubah sampah, produk yang tidak berguna, menjadi energi listrik yang dibutuhkan oleh rakyat banyak merupakan teknologi yang sangat baik.
2. Sampah pada dasarnya harus dikurangi. Walaupun PLTSa ini dapat mengolah sampah, tetap saja pemerintah harus menekankan konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle) kepada masyarakyat untuk mengurangi produk sampah. Pengurangan sampah akan mengakibatkan berkurangnya output listrik pada PLTSa, tetapi kita harus mengingat bahwa PLTSa dibuat sebagai salah satu cara untuk mengolah sampah, PLTSa tidak dibuat untuk mengoptimalkan input pembangkitannya (dalam hal ini, sampah).
3. Pengelolaan pembangkitan harus selalu diperhatikan, karena gas CH4 maupun teknologi incenator akan menghasilkan gas2 beracun. Juga proses distribusi sampah ke PLTSa harus diperhatikan karena akan menimbulkan pencemaran bila sampah berjatuhan atau mengeluarkan bau sewaktu melewati rumah warga. Penentuan lokasi PLTSa juga harus dipertimbangkan dengan baik, mengingat tidak sedikit warga yang menolak untuk tinggal di dekat tempat penampungan sampah yang mengeluarkan bau tidak sedap, dimana hampir setiap hari jalanan depan rumahnya dilalui mobil pengangkut sampah, sebagai contoh ketika PLTSa Gedebage Bandung dibuat berdampingan dengan perumahan Griya Cempaka Arum, yang menimbulkan keresahan warga.
Sukses proyekannya ya bg Andi Hendra Paluseri, kalau ke bdg kabari ya, hahaha.
widih bung daud, dalam banget analisisnya very very appreciate lha…
Sip ane jumat ini ke Bandung, sabtu atau minggu pagi kita jalanin rencana kita yah
Saya sepakat mas. Tapi bukan berarti kita harus memproduksi sampah lebih banyak untuk menghasilkan energi lebih banyak kan? Hehehe….
Suatu ketika saya membayangkan seandainya di masa depan itu manusia Indonesia sadar untuk tidak nyampah, nanti PLTSa jadi bangkrut karena kekurangan bahan baku. Jadi nanti ada seruan “ayo nyampah demi mempertahankan produksi energi”. #ngenes
terima kasih atas komennya mas nahdhi,
wkwkwk tidak sampai begitu juga dong,
Kan untuk landfill dan incenerator yang dimanfaatkan sampah organiknya which is pasokannya akan selalu ada sepanjang tahun meski kita tidak usah menyampah. Contohnya sekam padi sisa padi yang yang digiling, bonggol jagung, ampas tebu, daun2 yang berguguran dsb. Sampah2 organik tersebut memang akan ada tanpa perlu kita harus menyampah
Sedangkan untuk sampah non-organiknya akan didaur ulang seperti kaca, plastik dll.
Salam
Andi Hendra P
Nice article ndi..
Well, handling proses side-product yang dikeluarkan oleh incenerator itu bentuknya seperti apa ndi?? Efisiensinya berapa persen?
Fyi, Kalo di Singapura sih setahuku, mereka memberdayakan sampah dikarenakan lahan yang terbatas sehingga produksi sampah rumah tangga atau pabrik itu dibatasi, kalo buang sampah lebih dari batas, ya disuruh bayar. Jadi keadaan ini jg yg maksa gimana caranya sampah mereka “terberdayakan”. Hoho.
Good luck, semoga lombanya menang ya. Aamiin,
Mbak riss,
kalau tidak salah side-product yang dihasilkan kan berupa tar,dioxine NOx dan SOx. Biasanya kalau limbah udara/gas, harusnya dicapture dulu sebelum direlease ke udara. Kalau limbah cair seperti air leachate itu ditreatment dulu disuatu kolam khusus.
dan setahu saya kalau incenerator itu efisiensi reduksi sampahnya sekitar 70-80%. Jadi cukup besar kemampuannya untuk mengatasi permasalahan sampah di Indonesia yang volumenya gila-gilaan (sebagaimana tercantum dalam tabel 10 tpa terbesar).
Benar di singapura memang ada peraturan seperti itu. Bayangkan singapura yang negara kecil dan potensi sampahnya pun pasti jauh lebih kecil daripada Indonesia namun masih bisa memanfaatkan sampahnya menjadi listrik, apalagi kita?
Salam
ahp
Mantap Mas Andi H. Paluseri, semoga lancar proyeknya, demi kemandirian energi bangsa. Waste to energy perlu segera direalisasikan untuk menciptakan siklus energi yang berkelanjutan di Indonesia
wah proyek sampah ini bukan hanya proyek saya,
tapi proyek kita sebagai pemuda bangsa indonesia mas alex hehe…
Amin semoga cita2 akan adanya sustainable energy dapat terwujud dalam waktu dekat..
Salam
ahp
ini dulu kakak saya pernah usaha wiraswasta daur ulang sampah. saya diajak sebagai logistik.. (angkut2 aja).. hahaha
tapi akhirnya bangkrut karena ada karyawannya malah menggelapkan uang yang udah diraih… sampe dilaporin ke polisi.
makanya ide yang menarik ini perlu pemikiran yang se-visi diantara anggota2 yang menggerakkannya dan saling menjaga nih bang.. hehe
salam pembaca blog bang.. wkwk
Bener itu, sense of belonging dan kredibilitas dari masing2 pihak yang terlibat harus menjadi hal utama dalam menjalankan bisnis ini..
wah saya jadi inget bisnis peternakan ayam yang pernah saya kembangin niam hehe..
Dik coba kenalan sama bapak Fence (tetangga saya) ini link-na saya kasih di blog saya yang lain. :
http://menyonyo.wordpress.com/bio-qita/
tentang energi juga yah mas?
btw makasih yah udah komen..
Salam
andi hendra
Mantap ulasannya Mas Andi.
Kalau tidak salah sudah ada perusahaan yang memanfaatkan ‘sampah’ utk menghasilkan energi listrik. Dulu sewaktu saya pernah main ke kompleks PT Gunung Madu Plantation di Lampung, dikasih tahu bahwa mereka menghasilkan listrik secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan listrik kompleks mereka dengan memanfaatkan ampas tebu.
Oh ya, untuk sampah yang akan ‘dipanen’ ini ada perlakuan khusus nggak antara sampah organik dan non-organik?
Mas dhito, emang di Indonesia sudah ada yang melakukannya. yaitu PT Navigat Organic Energi Indonesia di TPST Bantargebang. Wew, saya malah baru tahu kalau di Lampung ada yang memanfaatkan biomassa ampas tebu untuk menghasilkan listrik.
Nah mengingat potensi biomassa di Indonesia 49.000 MW (menurut EBTKE), kalau bisa kita kembangkan 60% saja, pembangkit lain sudah tidak diperlukan lagi, Cukup make potensi energi baru terbarukan biomassa saja,
Gila gak tuh?
Hayu ah kita buat perusahaan kecil2an untuk membangun bisnis pembangkit dari biomassa ini.. berani gak?
Lupa jawab pertanyaan terakhir,
Mas dhit, kalau untuk yang landfill langsung ditimbun gak perlu pemisahan
Namun yang incenerator dilakukan pemisahan, dulu waktu di ITB kan kita pernah dapet selebaran terkait pola kerja pemanfaatan sampah disana, salah satu proses yang dilakukan adalah pemisahan sampah organik dan anorganiknya…
Salam
ahp
Tulisan yang mantab OM,…..
Terima kasih mas tora
Salam wordpresser yah
Artikel yang sangat bagus demi kemajuan bangsa Indonesia. Ilmiah tetapi cukup mudah dimengerti.
Dari segi SDM, mengingat risiko dari hasil samping tersebut, apakah sudah siap? Menurut bayangan saya, operator yang akan mengoperasikan pembangkit listrik di lapangan mungkin berasal dari kalangan teknisi yang terampil karena pengalaman/pelatihan. Sementara teknologi ini masih baru, menurut saya belum cukup SDM yang berpengalaman langsung dalam pengelolaan ini.
Bung christian Hadiwinoto terima kasih atas pertanyaannya
Begini bung, karena teknologi landfill itu sudah common dan simple saya yakin 100% SDM kita mudah untuk mengoperasikannya.
Namun untuk teknologi yang lebih modern seperti Incenerator, Gasifikasi, Pirolisis kita memang masih perlu banyak belajar sehingga perusahaan manufakturing yang menciptakan benda dan teknologinya haruslah diikat kontrak untuk melakukan sharing knowledge kepada operator/SDM yang akan menjalankannya.
Ditunggu yah partisipasi dan aplikasi ilmu yang didapat di NUS untuk diterapkan di Indonesia bung Christian hehehe…
hmmm,, menarik2,, setuju sama benefit2nya. pengen nanya aja, kan sampahnya dibakar ya? incineratornya pake apa sih? apa pake BBM juga? lalu energi dari BBM itu apakah surplus? soalnya ga semua sampah bisa dibakar dengan mudah kan?
Iqbal faruqi,
terima kasih atas pertanyaannya
kalo incenerator itu memang pake BBM, tapi tentu saja dalam jumlah kecil dan hasil energinya pun jauh lebih besar dibandingkan energi yang dikeluarkan dari penggunaan BBM tersebut,
Benar tidak semua sampah memang mudah dibakar. Dulu waktu kita masih kuliah di itb, ada selebaran terkait PLTSa gedebage, nah yang saya lihat itu ada proses separation treatmentnya sebelum dijadikan fuel pembangkit.
Salam
Andi Hendra Paluseri
soal teknologi landfill gas ini,
bisa dijelaskan hingga orang awam ngerti ga?
biar tulisannya lebih bermanfaat buat pencerdasan publik
Bang adit,
makasih atas masukannya
Begini bang, landfill gas itu adalah gas yang keluar secara alamiah dari sampah yang ditumpuk dalam waktu lama. Secara teorinya sih, bila sampah dalam jumlah yang besar ditumpuk dalam suatu lokasi maka akan mulai menghasilkan landfill gas sejak setahun ditumpuk sampai 20 tahun sejak penumpukan.
Nah, komposisi landfill gas ini terdiri dari Methane (55%),CO2 (35-40%) dan yang lain. Landfill gas yang berisikan dominan methane dan CO2 tersebut bila keluar dari tumpukan sampah awalnya tidak dimanfaatkan hanya keluar begitu saja.
Hasilnya? methane dan CO2 akan menimbulkan emisi ke udara dan merusak ozon. Methane sendiri yang memiliki kekuatan merusak 21kali lebih buruk terhadap ozon dibandingkan CO2.
Nah, cara pemanfaatan landfill gas ini sangat sederhana. Landfill gas yang dihasilkan disedot melalui pipa-pipa yang sudah ditanam di tumpukan sampah tersebut melalui blower. Lalu akan diproses di Knock out drum untuk menghilangkan/mengurangi kandungan moisture didalamnya dengan harapan yang masuk ke Gas Engine adalah gas yang kering.
Setelah didapat gas yang kering, langsung saja dimasukkan di Gas Engine untuk dicombusted dan jadilah listrik.
Sederhana bukan?
Salam
Andi Hendra Paluseri
Andi, apakah listrik yang dihasilkan dari sampah bernilai ekonomis? (maksud saya sebanding atau lebih besar keuntungan yang diperoleh daripada biaya prosesnya kah?)
Pertanyaan super sekali pak, saya lupa nyantumin di tulisan kalo program waste to energy di negara manapun itu sampai dengan saat ini revenue utamanya adalah dari tipping fee. Tipping fee adalah biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah setempat untuk pengelolaan sampah tersebut. Kalau tidak salah yang di gedebage itu tipping feenya antara 200 sampai 300ribu untuk tiap ton sampah yang masuk ke tpa. Nah dengan menggabungkan tipping fee dan hasil penjualan listrik, baru bisnisnya akan feasible…
Wih gak nyangka review pak rinaldi sudah sedalam ini
Makasih banyak pak
nice share bang..
sampah, sesuatu yang “habis manis sepah dibuang”. tapi setelah dibuang diabaikan begitu saja. akhirnya menjadi masalah.
nah, manajemen limbah sangat diperlukan untuk menangani menggunungnya sampah ini, salah satu solusinya ialah dg PLTSa, apakah dengan Landfill ataupun insenerator , namun satu masalah disini ialah dalam segi sortir sampahnya bang, soalnya di Indonesia sampah2 itu masih selalu bercampur dari berbagai jenis sampah dalam satu tempat TPA sehingga lebih banyak sampah basah. sedangkan untuk PLTSa sendiri harusnya sampah kering agar mudah untuk dikonversikan.
salah satu upaya ini yaitu penyediaan tempat sampah dengan jenis yang berbeda, ya kembali lagi ke pemerintah yang membuat tempat penampungan akhir dengan sortir jenis sampah. kemudian disosialisasikan kepada masyarakat, sehingga terjadi kerjasama yg baik untuk kebaikan semuanya.. semoga untuk kedepannya manajemen limbah indonesia semakin baik dan berkembang agar sampah tidak menggunung begitu saja.
#maaf panjang, hehe
senang bisa sharing ilmu, mudah2n brmnfaat yaa..
terima kasih juga atas kunjungannya k blog saya bang http://bit.ly/Energi10
hehe..
sama
Salam
kalo ibarat kata, sekali tepuk 2 kena. sembari mengurangi sampah, menghemat energi juga. salut buat pemikiranya. Namun perlu dipikirkan juga konsep pembakaranya agar efisiensinya tinggi dan sesedikit mungkin meninggalkan sisa pembakaran.
mau topik yang menarik lainya? kunjungi [http://bit.ly/Energi17]
Mantap di, Semangat terbarukan
silahkan mampir : http://bit.ly/Energi4
asek, gw ngetag MacBook 13″ yah bang. Abang hadiah yang lain aja hahaha…
silahkan kunjungi http://bit.ly/Energi60
punya list kapasitas TPA se-Indonesia gak kak/
ada, saya dapat dari EBTKE-Indonesia
tapi untuk yg kali ini ditampilkan 10 besarnya saja.
Lalu bagaimana dengan rencana ITF di jakarta?
ITF di jakarta itu menggunakan incenerator
kalau itf yang di cakung berhasil seharusnya yang di Gedebage juga dapat dibangun segera.
ditunggu posting mengenai energi ini berikutnya…