Mubahalah pada Zaman Rasulullah


Mubahalah dalam Al-Quran

Marilah kita menyeru anak-anak kami serta anak-anak kamu, dan perempuan-perempuan kami serta perempuan-perempuan kamu, dan diri kami serta diri kamu, kemudian kita memohon kepada Allah dengan bersungguh-sungguh, serta kita meminta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang berdusta.” [‘Ali Imran 3:61]

Ayat tersebut diturunkan saat Rasulullah mencoba mengajarkan Islam kepada kaum Nasrani Bani Najran. Karena tidak menghasilkan kesepakatan apapun, akhirnya mereka bermufakat untuk memohon kepada Allah supaya menimpakan laknat dan azab kepada pihak yang berdusta. Untuk pelaksanaannya, dua belah pihak menetapkan tempat dan waktu penyelenggaraannya. Pada hari H,Rasulullah saw datang mengajak orang-orang yang beliau pandang layak diikutsertakan, yaitu Imam Ali bin Abi Thalib, Fatimah az- Zahra dan dua orang cucu beliau, al-Hasan dan al-Husain yang waktu itu masih kanak-kanak, sambil menggandeng al-Hasan yang sudah agak besar. Di belakang beliau berjalan Fatimah az-Zahra r.a memakai kerudung dan Imam Ali r.a. berjalan di belakangnya.

Dalam waktu yang bersamaan, datang pula dua orang wakil kaum Nasrani Najran yang semuanyaberpakaian serba indah. Mereka diikuti oleh beberapa penunggang kuda dari Bani al-Harits. Segala sesuatunya telah dipersiapkan demikian rapi. Dua belah pihak bertemu, disaksikan orang banyak dengan hati berdebar-debar memastikan peristiwa penting apa yang akan terjadi. Ketika mubahalah hendak dimulai, dua orang wakil kaum Nasrani Najran mendekati Rasulullah saw, dengan wajah gelisah. Kepada beliau mereka bertanya, Hai Abul-Qasim (nama panggilan Rasulullah saw), siapa sajakah orang-orang yang anda ajak ikut bermubahalah ? Beliau menjawab,Dalam ber-mubahalah dengan kalian sekarang ini, aku mengajak orang-orang terbaik di muka bumi dan termulia di sisi Allah! Sambil mengucapkan jawaban itu beliau menunjuk kepada Imam Ali, bumi dan termulia di sisi Allah! Sambil mengucapkan jawaban itu beliau menunjuk kepada Imam Ali, Fatimah az Zahra, al-Hasan dan al-Husein. Dengan rasa keheranan, dua orang wakil Nasrani Najran itu bertanya lagi, mengapa Anda tidak mengajak orang-orang besar, gagah dan tampan dari pengikut anda ? Rasulullah saw menjawab, ketahuilah, dalam bermubahalah dengan kalian sekarang ini kami mengajak mereka, penghuni bumi yang terbaik dan makhluk Allah yang utama.

Mendengar jawaban itu, orang-orang Nasrani terpukau,hati mereka menjadi kecut dan gundah. Lalu mereka mendatangi pemimpin tertinggi mereka, seorang uskup, bernama Abu Haritsah. Dengan pikirannya yang terpengaruh oleh kewibawaan Rasulullah saw, uskup itu berkata kepada dua orang wakil Nasrani Najran, Kusaksikan sendiri wajah-wajah mereka (Rasulullah dan Ahlul Bait beliau) sekarang.  Seandainya di antara mereka ada yang memohon kepada Allah supaya gunung-gunung itu dipindahkan dari tempatnya, Allah nisacaya akan memindahkannya. Setelah berhenti sejenak, uskup melanjutkan kata-katanya, Tidakkah kalian melihat, Muhammad mengangkat tangan ke atas pada saat ia menjawab pertanyaan kalian ? Benarlah apa yang telah dikatakan al-Masih, Jika orang itu mengeluarkan kata-kata dari mulutnya, kita tidak akan dapat kembali bertemu dengan keluarga dan harta benda kita. Usai mengucapkan kata-kata tsb, uskup yang bernama Abu Haritsah tiba-tiba berkata keras-keras kepada para pengikutnya, Hai, apakah kalian tidak melihat matahari di atas kalian sudah berubah warna ? Bukankah di ufuk sana sudah penuh dengan gumpalan awan tebal ? angin hitam dan merah sudah mulai bertiup kencang dan gunung-gung itu sudah mengepulkan asap tinggi menjulang ! Lihatlah, burung burung mulai beterbangan pula ke sarang masing2 di atas pepohonan!Lihatlah, dedaunan sudah mulai berguguran dan tanah di bawah telapak kaki kita sudah mulai berguncang!

Maha Benar Allah ! Kaum Nasrani yang turut serta dalam mubahalah itu sunguh-sungguh tenggelam di bawah pengaruh wajah-wajah suci, dan pada akhirnya mereka mempercayai kemuliaan Rasulullah saw di sisi Tuhannya. Mereka terpesonan seraya menundukkan kepala di hadapan Rasulullah saw. Pada saat itu beliau berkata, Siksa Allah menimpa orang-orang Nasrani itu. Kalau bukan karena pengampunan Allah, mereka niscaya akan diubah menjadi kera dan babi. Bagi mereka lembahpun akan berubah menjadi api. Allah akan memusnahkan daerah Najran beserta penduduknya, termasuk burung2 di atas pepohonan. Semua yang ada pada mereka akan musnah.

Mubahalah yang Beliau lakukan adalah untuk meneguhkan Hujjah pada kaum Nasrani Bani Najran tentang kebenaran islam. Pada saat ini, mubahalah langsung dijadikan cara cepat untuk memutuskan sesuatu hal. Padahal Rasulullah juga tidak menjadikan mubahalah sebagai metode utama untuk menambah hujjah atas kebenaran islam, Beliau mencoba ikhtiar lain yang jauh lebih sopan dan menyejukkan hati

Tentang andihendra

Andi hendra paluseri adalah perantau asal medan yang menyelesaikan pendidikannya S1 di ITB jurusan teknik elektro (Tenaga Listrik).
Pos ini dipublikasikan di Muslim in Reality. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Mubahalah pada Zaman Rasulullah

  1. sugih berkata:

    assalamualaikum, luar biasa tapi benarkah RASLULLAH berkata imam Ali dan keluarganya yang termulia didunia, sumbernya mana????????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s