Muslim KTP yang tidak menunaikan sholat


subhanMengenai hukum meninggalkan shalat lima waktu, tak ada perselisihan di kalangan ulama tentang kekafiran orang yang meninggalkan shalat dengan keyakinan bahwa perbuatan itu tidak wajib atau menghalalkan untuk meninggalkannya. Yang menjadi perbedaan pendapat, adalah hukum orang yang meninggalkan shalat karena bermalas-malasan dan lalai. Sebagian ulama, antara lain Imam Ahmad bin Hambal dan lainnya, menyatakan bahwa pelakunya kafir dan keluar dari Islam. Sebagian ulama lainnya, menyatakan bahwa ia melakukan kekufuran namun tidak keluar dari Islam.

Inilah pangkal perbedaan pendapat di kalangan ulama, yang berimbas pada silang pendapat tentang boleh tidaknya menshalatkan atau mendoakan orang yang meninggalkan shalat. Sebab, jika ia dihukumi kafir, maka ia tidak boleh didoakan. Sebagaimana larangan terhadap Nabi Ibrahim  memohonkan ampun untuk ayahnya.

Pendapat yang paling kuat dalam masalah ini, wallahu a’lam, adalah bahwa pelakunya dihukumi kafir, namun tidak keluar dari Islam (kufrun duna kufrin). Ini adalah pendapat banyak ulama salaf maupun khalaf, di antaranya: Abu Hanifah, Malik, dan Syafi’i. Pelakunya teranggap fasik dan diperintahkan bertaubat. Jika ia tidak bertaubat, maka menurut Malik, Syafi’i  dan lainnya, ia dibunuh sebagai hukuman untuknya. Ini terjadi dalam sebuah pemerintahan Islam. Adapun menurut Abu Hanifah, ia dikenai ta’zir (hukuman dari bentuknya ditetapkan oleh pemerintah Islam) dan dipenjara hingga ia menunaikan shalat. Mereka memalingkan makna yang terkandung dalam hadits-hadits yang menjelaskan kekafiran orang yang meninggalkan shalat, kepada makna orang yang mengingkari dan membolehkannya untuk meninggalkannya.

Apapun, semua itu menunjukkan besarnya kedudukan shalat dalam Islam. Rasulullah saw bersabda, “(Batas) di antara seseorang dan kekufuran adalah meninggalkan shalat,” (HR Ahmad, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Karenanya, tak mengapa Anda mendoakan dan memohonkan ampun untuk beliau dan bersedekah atas namanya. Adapun untuk umrah, karena itu termasuk ibadah, maka tidak boleh digantikan oleh orang lain. Firman Allah: “(Yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya,” (QS an-Najm: 38-39).

Memang ada beberapa perkecualian, seperti puasa dan haji, karena terdapat dalil tentang hal itu, sebagaimana disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Adapun yang lain tak dapat diqiyaskan, karena tak ada qiyas dalam masalah ibadah. Wallahu a’lam.

Tentang andihendra

Andi hendra paluseri adalah perantau asal medan yang menyelesaikan pendidikannya S1 di ITB jurusan teknik elektro (Tenaga Listrik).
Pos ini dipublikasikan di Muslim in Reality. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s