Mengeluarkan kata-kata Negatif, Perlukah ?


Apakah pembaca memiliki saudara atau teman yang sering mengeluarkan kata-kata negatif ?. Kata-kata negatif disini bukan hanya kata-kata kotor namun kata-kata yang bernada merendahkan. Nah, ternyata selama hampir 3 tahun di ITB, sekarang saya menyadari bahwa tipikal orang seperti ini emang ada. Bukan berniat untuk mengkonfrontir, namun disini saya hanya ingin berbagi luka dan pedih hati kepada para pembaca.
Awalnya saya berfikir yang dilakukan oleh salah seorang teman adalah reaksi berlebihan karena mungkin beliau sedang emosi. Namun, tahun demi tahun sifatnya tetap saja tidak berubah. Hal ini mungkin merupakan lelucon yang dia buat, namun saya menanggapinya sebagai hal serius. Kata-kata yang masih saya ingat dari beberapa orang yang sering mengeluarkan kata-kata negatif ini adalah tamak, menusuk dari belakang, duri dalam selimut dsb. Padahal kata-kata ini dikeluarkan tidak ada hubungannya dengan percakapan yang sedang dibicarakan sebelumnya. Begini ceritanya :
1. Tamak
Saya : (mencoba menegur seorang teman dengan sebuah lelucon hangat) woi, acara ini ada free lunch-nya g?
Teman : Ga ada lunch buat orang tamak kayak lu, Ndi!! (sambil berlalu pergi)
“ coba bayangin, betapa sakitnya hati saya ketika mendengar kata ini. Mungkin niatnya juga bercanda, namun saya menganggap itu adalah ungkapan serius”
2. Menusuk dari belakang
Ketika sedang berjalan dengan beberapa teman untuk menemani mereka menuju Himpunan di daerah timur dan berniat untuk memfotocopy sesuatu, saya ngobrol dengan teman-teman. Karena merasa bosan dengan isi obrolan mereka, saya coba alihkan pembicaraan ke daerah yang sedang saya lihat.
Saya : woi, disitu ada seminar lho, makanannya udah disiapkan. Ga mau masuk dulu ? (ini juga bercanda lho)
Teman1: wah, parah lu ndi, serakah banget, jangan-jangan ntar demi itu, lu mau ngorbanin temen (meskipun dengan nada tertawa, namun saya menganggapnya ini kelewatan. Apa coba hubungannya makanan dengan ngorbanin temen)
Teman2: Iya nih ndi, parah lu. Yang lebih parahnya lagi kalo lu ngorbanin diem-diem alias menusuk dari belakang, ternyata ada yah yang menusuk dari belakang. Wah bahaya nih.
“perkataan semacam apa ini, sial gw, padahal niatnya bercanda. Kok bisa-bisanya inferensi semacam ini keluar dari mulut anak elektro. Meskipun memang masih dalam nada bercanda”
3. Duri dalam selimut (sumpah!!, yang ini paling tidak masuk akal)
Sekarang di ITB, beberapa mahasiswa lagi seneng-senengnya ikutan students exchange. Yah, mencoba peruntungan di belantara kaum muda, saya juga ikutan. Niat awal sebagai pembalasan dendam karena sudah tiga kali gagal dalam interview in English. Jadi pengen melewati seleksi interview yang pastinya juga ada.
Saya : Eh, kau test toefl dimana?
Teman1: Lho, kok lu tau? Lu daptar students exchange juga yah?
Saya : iyalah, coba-coba
Teman1: Wah, gw doain lu mudah-mudahan gagal. (sambil tertawa dan saya ikutan tertawa). Bisa-bisa gw gak kalah gara-gara lu ndi.
Saya : ah, gak mungkinlah. IPK kita juga sama. Malah kamu lebih besar 0,01
(ada seseorang teman yang sangat saya hargai ikutan nyeletuk)
Teman2: Hati-hati sama andi, dia ini duri dalam selimut (DARIMANA INFERENSI SEMACAM INI BISA DATANG!!!)
Teman1: bukan duri lagi, tapi belati. (dengan tertawa lagi, dan saya juga terpaksa tertawa meskipun harus menahan ludah karena mendengar kata-kata sepahit itu)

Setelah seperti itu, biasanya darah saya naik dan memutuskan pergi untuk menyendiri. Menikmati ciptaan Tuhan dengan sangat senangnya. Melupakan segala sesuatu aktivitas yang telah dan akan dikerjakan. Mendengarkan kicauan burung di sepanjang pepohonan bagian barat ITB. Seakan-akan semua manusia telah mati, tinggal aku dan Rabbku saja dan kami saling berkomunikasi. Menceritakan semua perih karena percakapan jahat seperti itu. Tentu saja dengan mengayuh sepeda yang aku miliki.
Ketika mencoba menceritakan dengan teman,
Saya : eh, sial… kok aku agak sakit hati, ketika ada kata-kata negatif yang keluar dari beberapa teman yah? Padahal kata-kata itu buat ngebanyol
Teman : iyah, Ndi. Abisnya lu banyakan bercandanya daripada seriusnya. Makanya mereka nganggep yang candaan lu tuh udah serius. Makanya jangan banyak bercanda Ndi.
(saran ini akan coba aku lakukan , my friend)

Mungkin karena saya memiliki rasa yang sangat tinggi terhadap kata-kata dan sering menggunakan kata yang pujangga abis juga. Sehingga kata-kata tersebut sudah termasuk kata-kata tabu bagi saya. Saya mencoba mencari arti kata tersebut dalam kamus dan internet,
1. Tamak : an excessive desire for wealth, power, etc for oneself, without consideration for the needs of other people. (dari kamus oxford, jadi artiin ndiri yah)
2. Menusuk dari belakang : menghancurkan seseorang secara diam-diam terutama kepada teman dan orang-orang terdekat
3. Duri dalam selimut : bagian dari kelompok yang ternyata adalah oknum jahat dalam kelompok tersebut
Dari ketiga kata tersebut, saya menyimpulkan bahwa menurut pandangan beberapa orang (jika kata-kata ini keluar secara serius tanpa ada bumbu lelucon dari percakapan tsb) bahwa saya adalah ‘penghancur yang serakah’ . Jika ini benar, APA SALAH YANG SAYA PERNAH BUAT SEHINGGA INFERENSI INI TERJADI!!!. Padahal sejak masuk ITB 3 tahun silam, saya sudah bertekad untuk menjadi orang yang menyenangkan bagi tiap orang. Hushh…
Ok, kalau begitu. Jika lelucon yang saya buat ternyata dianggap serius. Maka, saya tak akan mencoba lagi untuk me-floor-kan lelucon garing andalan saya. hikss… hikss..
Oiya, tulisan ini bukan untuk mengajak gulat/berkelahi dengan seseorang karena saya memang tidak bisa gulat dan berkelahi dengan baik dan benar, namun untuk mengajak para pembaca untuk dapat mengerti apa yang saya rasakan dan mencoba memberitahu kepada semua orang untuk tidak menggunakan kata-kata negatif meskipun maksudnya hanya untuk bercanda. Karena ini juga dapat berpengaruh terhadap psikis dan fisik terhadap objek penderitanya. Apalagi jika Anda adalah orangtua yang sering menggunakan kata-kata negatif terhadap anak Anda. Kalau mau berhasil dan hidupnya bahagia, lakukanlah apa yang banyak orang-orang sukses buat terhadap anaknya yaitu senantiasa menggunakan kata-kata positif.
Pesan bijak artikel ini : Mari bersama-sama menggunakan kata-kata positif!! Yuuukk….

Tentang andihendra

Andi hendra paluseri adalah perantau asal medan yang menyelesaikan pendidikannya S1 di ITB jurusan teknik elektro (Tenaga Listrik).
Pos ini dipublikasikan di pengalaman di ITB. Tandai permalink.

5 Balasan ke Mengeluarkan kata-kata Negatif, Perlukah ?

  1. yono berkata:

    Coba Anda introspeksi diri sendiri, apakah Anda bisa menempatkan diri waktu bercanda, jangan2 waktunya serius berpikir Anda malah guyon yg gak mutu gak ada hubungannya dgn situasi.
    Saya maklum, Anda dan temen2 masih muda, masih penuh emosi, jadi kadang2 guyon “agak” keterlaluan itu biasa, tapi kalau melihat cerita di atas kok guyonnya dah sangat keterlaluan sekali untuk ukuran mahasiswa yg berpendidikan
    Saya lebih tua dari Anda tapi seumur hidup belum pernah saya diguyoni temen, bahkan diguyoni temen deket pun separah itu.
    Salam

  2. Andi hendra berkata:

    @fdan, gapapa
    ngapain make sori? Hehe

  3. Fdan berkata:

    mungkin karna gak lucu & monoton jadi kayak cerminan realita hati yang bocor dan keluar lewat ‘lelucon’.
    sory kalo gak jelas.

  4. yeris berkata:

    Andi,,

    Kamu terlihat baik saat kamu menjadi dirimu sendiri.
    Semua orang tidak semestinya menjadi orang lain…

    Jika ingin berubah jadi lebih baik,
    jangan berubah karena manusia,,
    niscaya kamu akan kecewa,
    karena tidak semua orang menyukai sikap kita..

    Maka, berubahlah untuk menjadi lebih baik karena TuhanMu. Tuhan yang jiwa kita ada pada genggamanNya.

    • Telma berkata:

      Dude, you will need to tell us the style and maaritl art, I know heaps about maaritl arts but i don’t know a lot about how some things are spelt, so if you include it i can help betetr.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s