Orang-orang Musyrik Yang Pandai Berlogika


Segala puji hanya milik Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa. Shalawat dan salam 
semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah tercinta, Muhammad bin 
Abdullah, segenap keluarga, para sahabat dan umatnya yang setia.

Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan 
Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang 
telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka 
akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui 
suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?". (QS. Al Baqarah : 170)

Mengandalkan Logika Semata

Orang-orang musyrik ternyata pintar berlogika. 
Logika / akal mereka membuat sesuatu yang aslinya haram menjadi “tidak 
haram”.
Bangkai itu “halal” menurut mereka, karena yang mematikan hewan tsb adalah 
Allah Ta’ala. Secara logika kenapa hewan yang dimatikan atas Kehendak 
Allah tak boleh dimakan, tetapi hewan yang disembelih muslim dengan tangan 
manusia boleh dimakan. Apa sembelihan manusia lebih baik dari Kehendak 
Allah? Begitulah kalau terlalu mengandalkan logika. 

Dalam hadits Ibnu ‘Abbas yang diriwayatkan Al Hakim dengan sanad yang 
shahih: “Orang-orang Quraisy datang kepada Rasul: “Hai Muhammad, kambing 
mati siapa yang membunuhnya ?”, beliau berkata: “Allah yang mematikannya”, 
lalu mereka berkata: “Kambing yang kalian sembelih kalian katakan halal, 
sedangkan kambing yang disembelih Allah dengan Tangan-Nya yang mulia 
dengan pisau dari emas (maksudnya bangkai) kalian katakan haram ! berarti 
sembelihan kalian lebih baik daripada sembelihan Allah”. 

Dan ucapan ini adalah bisikan atau wahyu syaitan kepada mereka dan 
ketahuilah: “Jika kamu menuruti mereka (ikut setuju dengan hukum dan 
aturan mereka yang bertentangan dengan hukum dan aturan Allah) 
sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik”. 
Dalam hal ini ketika orang mengikuti hukum yang bertentangan dengan aturan 
hukum Allah disebut musyrik, padahal hanya dalam satu hal saja, yaitu 
penghalalan bangkai. Sedangkan orang yang membuat hukumnya disebut 
syaitan, dan hukum tersebut pada dasarnya adalah wahyu syaitan atau 
bisikan syaitan, kemudian digulirkan oleh wali-wali syaitan dari kalangan 
manusia, dan orang yang mengikuti hukum-hukum tersebut disebut sebagai 
orang musyrik…!
Lalu bagaimana dengan orang yang mengikuti banyak hukum yang bertentangan 
dengan aturan hukum Allah?

Tafsirnya Bagaimana?

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam QS Al-An ‘aam: 121 yang artinya 
:
“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama 
Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu 
adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada 
kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, 
sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik”
﴿وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ﴾
“dan jika kamu menuruti mereka”, yaitu dalam memakan bangkai 
﴿إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ﴾
“sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik”
Demikian pula apa yang dikemukakan oleh Mujahid, adh-Dhahhak dan beberapa 
orang dari kalangan salaf.
Firman Allah:
﴿وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ﴾
﴿إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ﴾

“dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi 
orang-orang yang musyrik”
Artinya, Jika kalian berpaling dari perintah, dan Syariat Allah bagi 
kalian, kepada ucapan selain dari-Nya, lalu kalian mendahulukan ucapan 
selain dari-Nya itu, maka yang demikian itu merupakan perbuatan syirik. 
Seperti Firman-Nya: 
﴿اتَّخَذُواْ أَحْبَـرَهُمْ وَرُهْبَـنَهُمْ أَرْبَاباً مِّن دُونِ 
اللَّهِ﴾
“Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai 
Rabb selain Allah (QS. At-Taubah: 31)
Mengenai penafsiran ayat ini, at-Tirmidzi telah meriwayatkan dari Adi bin 
Hatim, bahwa dia berkata: “Ya Rasulullah, mereka itu tidak menyembah 
mereka (orang-orang alim dan para rahib).” Maka beliau SAW pun menjawab: 
“Tidak demikian, sesungguhnya orang – orang alim dan para rahib 
menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal bagi mereka, lalu 
mereka mengikuti orang – orang alim dan para rahib itu, maka yang demikian 
itu merupakan penyembahan kepada orang-orang alim dan para rahib tersebut. 
(Sumber : Tafsir Ibnu Katsir)

Sesunguhnya syahadat tauhid Laa ilaaha Illallaah itu memiliki dua rukun 
yang sangat mendasar yang di mana salah satunya tidak bisa berdiri sendiri 
tanpa yang satunya lagi.
Untuk diterima dan sahnya syahadat ini harus didatangkan kedua rukun itu 
seluruhnya, yaitu penafian (Laa ilaaha) dan penetapan (illaallaah) atau al 
kufru bith thaghut wal iimaan billah, sebagaimana yang telah Allah 
subhaanahu wa ta’aala jelaskan dalam firman-Nya:
“Karena itu barangsiapa ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, 
maka sesungguhnya dia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat 
yang tidak akan putus” (QS. Al Baqarah: 256).

Siapa orangnya yang tidak menggabungkan antara dua rukun ini maka dia itu 
tidak berpegang kepada al ‘urwah al wusqaa (tauhid), dan sedangkan orang 
yang tidak berpegang kepada al ‘urwah al wusqaa maka dia itu binasa 
bersama orang-orang yang binasa, karena dia bukan tergolong dalam jajaran 
kaum muwahhidiin, akan tetapi dia berada dalam deretan kaum musyrikin atau 
orang-orang kafir.

Jadi iman mereka terhadap Allah tanpa kufur terhadap thaghut adalah sama 
seperti imannya orang-orang Quraisy terhadap Allah tanpa disertai kafir 
terhadap thaghut-thaghut mereka. Dan merupakan suatu yang maklum bahwa 
iman semacam ini sama sekali tidak bermanfaat bagi orang-orang Quraisy, 
darah dan harta mereka tidak terjaga dengannya sehingga mereka menyertakan 
terhadapnya baraa’ah dan kafir kepada thaghut-thaghut mereka. Dan adapun 
sebelum itu dilakukan maka keimanan mereka yang masih bercampur dengan 
kemusyrikan yang nyata itu sama sekali tidak berguna bagi diri mereka, 
baik di dunia ataupun di akhirat, Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman:
“Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan 
dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan yang lain),” 
(QS. Yusuf: 106).

Syirik itu membatalkan keimanan dan menghapuskan seluruh amalan, Allah 
subhaanahu wa ta’aala berfirman:
“Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapus amalanmu dan 
tentulah kamu termasuk orang-orang yang rugi,” (Qs. Az Zumar: 65).

Demokrasi dengan Islam itu tidak bisa kedua-duanya bersatu, sebab Allah 
subhaanahu wa ta’aala tidak akan menerima kecuali Islam yang khaalish 
(murni tidak bercampur syirik). Sedangkan Islam yang merupakan dienullah 
al khaalish telah menjadikan tasyri’ (wewenang membuat 
aturan/perundang-undangan / hukum) serta putusan adalah hanya milik Allah 
saja, sedangakan demokrasi adalah dien syirik lagi kafir yang telah 
menjadikan putusan dan tasyri’ hanyalah milik rakyat bukan milik Allah, 
dan Allah subhaanahu wa ta’aala tidak menerima dan tidak rela bila 
seseorang menggabungkan antara kekafiran dengan Islam atau antara tauhid 
dengan syirik.

Bahkan Islam dan tauhid itu tidak sah kecuali bila seseorang kafir dan 
berlepas diri dari setiap paham (dien) selain dien Al Islam al Khaalish.
[sumber :milis mencintai islam]

Tentang andihendra

Andi hendra paluseri adalah perantau asal medan yang menyelesaikan pendidikannya S1 di ITB jurusan teknik elektro (Tenaga Listrik).
Pos ini dipublikasikan di Muslim in Reality. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s