Kamis, H-2 RAT XXVII KOKESMA ITB


Yah, kamis ini para pengurus inti baru dikumpulkan kembali oleh Mas Sofyan Reza, untuk mengerjakan laporan berbentuk html. Bayangin, ini H-2 Lho. Untungnya, saya sudah mengerjakan berbulan-bulan yang lalu. Karena melihat pengalaman tahun lalu yang deadliners dan that’s very annoying membuat saya mengerti akan artinya proses.

Setelah mengerjakan tugas masing-masing di sore harinya, kami mendapati masih ada 2 divisi lagi yang belum ada kejelasan tentang LPJnya, yaitu Fanny Aditya yang sedang sakit dan satu lagi, lha.. orangnya ini ini lagi, Mas Dhito Prihardhanto. Kalau LPJ Fanny, rencananya mau dipresentasikan oleh Sofyan Reza, Berarti saya harus menemui Dhito lagi untuk menyadarkannya.

Sedikit bercerita tentang masa dimana saya sebagai tim formatur diberi amanah untuk mencari kadiv KBL dan kadiv Tokema. Kalau untuk kadiv KBL sendiri, sepertinya tidak ada orang lain selain saya. Nah, kalau untuk Tokema, tidak ada orang yang mau awalnya. Mulai dari Samratul Fuady, mahasiswa Jenius STEI-ITB, menolak amanah tersebut. Lalu, Lestian Atmopawiro juga menolak. Kemudian Raditya Wahyu aka Itong-pun menolak. Para kaum hawa yang menjadi staf-staf Tokema lalupun menolak. Tinggallah, sahabat saya Mas Dhito Prihardhanto yang memang sudah tidak mau. Namun, dengan berbagai cara saya membujuknya untuk menerima amanah ini. Yah, alasan who else adalah alasan yang paling masuk akal yang dimaklumi banyak orang.

Ok, setelah waktu bergulir. Ada moment2 dimana sahabat saya tersebut merasa tidak diperhatikan dan tidak mendapatkan keluarga (sepertinya) di Kokesma. Sehingga ketika beliau mendapatkan kegembiraan di tempat lain, amanah di tokema terlalaikan. Disini semuanya berperan dalam kesalahan. Mulai dari Mas Dhito sendiri yang lalai, lalu kami, pengurus inti yang tidak begitu peka juga staf yang membiarkan semuany berlarut-larut. Mungkin kami (Penguin dan Staf) mengira ini merupakan bagian dari kejenuhan yang hanya sementara, namun ternyata berlangsung berlarut-larut sampai berbulan-bulan. Biasanya kalau sudah seperti ini, saya mendatangi rumahnya dan mengingatkannya kembali. Walhasil, besoknya dia sadar. Ini sudah dilakukan 2 kali.

Sempat benci dan Muak sekali melihat sahabat saya yang satu ini, terutama dalam hal komunikasi. Saking sebelnya, saya sempat men-CAP beliau sebagai ‘Pelari Ulung’. Yah, lari dari setiap komunikasi yang kami (pengurus inti) bangun melalui sms,message fb,telp dsb.  Insya Allah, dari pelajaran yang telah dia dapatkan kebiasaanya tersebut bakalan berubah.

Ok, singkat kata. Akhirnya, kamis sore saya bersama Iqul (Magangernya di Tokema) bergerak menuju kosannya di Sangkuriang. Setelah sampai, kami diajak untuk mengobrol di lantai 2. Disitu saya nasehatin abis-abisan sahabat saya ini, entah didengarkannya atau tidak. Saya katakan bahwa pengurus inti adalah keluarga dekatnya yang seharusnya mengetahui kondisinya apapun itu sehingga bila terjadi kelalaian kami langsung bisa mengambil sikap. Janganlah menganggap pengurus inti yang lain (yang sudah seyogyanya menjadi keluarga dekat di perantauan), adalah monster. Disitu, beberapa rintik airmata sempat saya jatuhkan, pertanda cukup kecewa dengan sahabat saya yang satu ini. Azan maghrib membuat kami menghentikan obrolan tersebut, dilanjutkan seusai sholat. Si Iqul-pun izin untuk beranjak kembali ke kampus. Karena saya tidak mau kecolongan lagi akan kelalaian sahabat satu ini, maka malam tersebut saya habiskan untuk meyakinkan diri sendiri kalau tugas LPJ dikerjakan malam itu oleh beliau, tak lupa juga saya menghabiskan malam dengan menonton Serial Glee Season 2 hehe… karena kecapekan, beliau berjanji untuk menyelesaikan laporannya jam 1 pagi. Kemudian kamipun tertidur pulas.

Tentang andihendra

Andi hendra paluseri adalah perantau asal medan yang menyelesaikan pendidikannya S1 di ITB jurusan teknik elektro (Tenaga Listrik).
Pos ini dipublikasikan di Koperasi Kesejahteraan Mahasiswa / KOKESMA-ITB. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Kamis, H-2 RAT XXVII KOKESMA ITB

  1. Kyaligonza berkata:

    While Cory was alive she stuck to her guns as to her idealism. However when she dediced the GMA government the so called idels that put her into power failed and failed miserably to galvanize the public. GMA simply spread the butter amongst the men with the guns and they did not budge to unseat their benefactor. This anachronism that is the Philippine style of feudalism prevails by the ability of the state to use public handouts directly and indirectly to maintain power. GMA’s example of expert management of keeping everyone happy to extend to the economic planning agencies the monetary authorities and the highest levels of the judiciary is unequaled in history. Marcos declared martial law at a time of revolutionary changes in the worlds monetary system. The country finds itself once again in the crossroads of global economic history that has seen the globalization of financial capitalism explode and is threatening to destroy old alliances and create new ones all along the lines of the role of the state and corporations that could swallow whole states in the world. The Philippines being one of them.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s