MLM di mata Andi Hendra Paluseri


Pohon Manusia

Sejak tingkat satu sampai sekarang, ajakan untuk mengikuti MLM ini terus bergulir. Baik dari kalangan teman bahkan karyawan sekalipun. Hmm, sebenarnya apa yang terjadi dengan MLM sekarang? sampai-sampai banyak orang sudah menutup telinga mereka rapat-rapat sebelum aktivitas ‘presentasi/prospek’ itu dijalankan. Tidak perduli entah bagaimana bonus dan iming-iming hebat lainnya yang biwarakan [duh, kata-kata ane berat banget ya?].

Saya mempunyai seorang temen sebut saja namanya azzam, yang sebenarnya mempunyai kans yang besar untuk mewarisi tahta kerajaan sebuah MLM di Bandung. Namun karena beberapa hal yang menjadi pertimbangannya, dia menolak untuk masuk ke dunia MLM ini. Alasan yang kerap saya dengar dari beliau adalah “itu kezholiman ndi!’ “hukumnya masih syubhat” dll. Bisnis yang menurutnya aman adalah bisnis franchise, “karena cuma ada 1 pusat, yang membawahi semua yang pengen buka cabang, ga ada pusat-pusat lain kayak MLM” begitu alasan yang saya dengar dari beliau.

Posisi Level Atas

Tentu alasan seperti itu, bukan hanya pendapat satu orang saja namun pendapat kebanyakan yang lain. Nah, adakah MLM yang tidak zhalim? saya sampai sekarang sih belum menemukan bila definisi kezhaliman diukur dengan seseorang level atas mendapat keuntungan dari transaksi bisnis yang dilakukan oleh level bawahnya (kalau kata rizal, temen saya juga.. Downliner).

Ok, saya sebagai pihak yang netral karena sampai saat ini dan mungkin sampai beberapa bulan kedepan masih belum berminat mengikuti hal serupa, akan mencoba mengulas dengan singkat analogi marketing dengan sistem ini. Begini, Anda pernah tahu sistem jualan konvensional, katakanlah jualan tanah/rumah. Beberapa puluh tahun lalu, orang berjualan tanah/rumah dengan sistem perantara 1, perantara 2, perantara 3, perantara 4 dst. Bagaimana bila perantara 4 menemukan pembeli?, yah penjual harus membagi keuntungan juga ke perantara 1,2 dan 3. Namun dengan pembagian perantara 4 mendapat keuntungan paling besar. Bila dijanjikan keuntungan untuk perantara adalah 10%, mungkin perantara keempat dapet 8.5% sisanya buat perantara yang lain. Apakah ini adil? saya rasa cukup adil karena proses informasi itu berharga lho! setidaknya saat perantara sebelumnya menyampaikan informasi ke orang lain, dia sudah berupaya untuk bekerja keras.

Nah, mungkin itu sistem yang dipakai oleh MLM sekarang. Akan tetapi, bagaimana dengan pembagian keuntungannya?, hal tersebut ane kurang tau. Mungkin porsi pembagian keuntungan ini yang harus dijelaskan ke para MLM-ers secara transparan oleh founder MLM tersebut agar terasa lebih adil.

MLM dan Traditional Marketing

Mungkin kalau dari strategi bisnis tidak masalah karena mengurangi biaya marketing yang maha dahsyat bila harus mengiklan dan blablabla. Akan tetapi, yang menjadi sudut negatifnya dari beberapa MLM saat ini adalah mereka malah lebih mengutamakan mencari downliner daripada menjual produk. Hal itu yang patut dipertanyakan. Mungkin ada alasan seperti 'kalau tidak ada orang bagaimana bisa menjual produk?' , jawaban saya "kesannya di masyarakat seperti itu, jadi buatlah menjual produk sebagai tujuan utama bukannya mencari downliner". Bila seperti itu, mungkin namanya bisa diubah menjadi MLPM (Multi Level Product Marketing). Sistem bonuspun menjadi hal yang patut dipertanyakan? karena hal ini berarti didapat dari kas bagi hasil penjualan produk yang tadi. Ngomong2 tentang kas MLM, mungkin saja beberapa MLM yang didagangkan utamanya bukan produk tapi uang pendaftaran awal yang disetorkan oleh para downliner? who knows.

Bagian Kesimpulan

Hmm, kalau sudah begini kesimpulan yang dapat saya ambil adalah, tidak mengapa bila kita ikut MLM yang pembagian keuntungannya jelas. Maksudnya jelas adalah siapa yang mencari dan mendapat pelanggan maka dia yang mendapatkan untung lebih besar. Masalah bonus mungkin saja seperti reward non-rutin yang diberikan bos kepada anak buahnya. Namun, agak aneh bila reward tersebut diberikan secara rutin padahal upliner tidak melakukan apa-apa. Kemudian, MLM haruslah berorientasi kepada produk bukannya anggota karena tujuan awalnya kan untuk memasarkan produk bukan memasarkan anggota :P. Mungkin mencari anggota bisa dibuat sebagai pekerjaan tambahan.

Btw, sampai sekarang saya belum menemukan MLM yang cocok dan sejalan dengan saya. Adakah yang berminat untuk memprospek saya? TANPA ADANYA PENIPUAN DAN DUSTA TENTUNYA :P

Tentang andihendra

Andi hendra paluseri adalah perantau asal medan yang menyelesaikan pendidikannya S1 di ITB jurusan teknik elektro (Tenaga Listrik).
Pos ini dipublikasikan di pengalaman di ITB. Tandai permalink.

2 Balasan ke MLM di mata Andi Hendra Paluseri

  1. novi berkata:

    saya juga ikut mlm

  2. lunks berkata:

    Ndi, MLPM tuh sama dengan yang menamakan dirinya Network Marketing, karena emang menggunakan barang real sebagai sumber uangnya…

    dari info2 yang saya tahu, ada beberapa masalah dalam sistem ini:

    1. Seseorang tidak hanya membeli satu produk saja dalam seumur hidupnya, melainkan harus kontinu setiap bulan. Ibaratnya, kita mesti beli produk Unilever (pepsodent, lifebuoy, ponds, etc) terus per bulan dengan target pembelian tertentu, misal 1juta rupiah /bulan… kalo kamu melihat lebih dalam org2 yang join, kebanyakan mereka membeli ato menyuruh downline membeli produk yang tidak disukainya, dengan kata lain, mereka memaksa diri sendiri atau orang lain untuk membeli produknya demi mendapatkan prosentase income yang semakin besar…. wallahua’lam

    2. Kebanyakan orang yang join sistem ini menjadi money oriented, bahkan dalam hubungan persahabatan maupun keluarga, mereka semua ujung2nya dimanfaatkan secara tidak langsung untuk membuat dirinya semakin ber-uang.. akhirnya hubungan persahabatan dan persaudaraan menjadi tidak murni lagi…wallahua’lam

    3. Dalam sistem ini anggotanya dididik menjadi materialistis, karena iming2nya pasti berhubungan dengan uang, mobil, jalan2 ke luar negeri, dll… yang mereka gembar gemborkan bahwa itu semua merupakan arti dari kebahagiaan, bahagia itu identik dengan banyak duit…. terlihat kebanyakan anggotanya merupakan manusia yang ambisius terhadap uang… wallahua’lam…

    4. Menurut saya, bullsh*t kalo Network Marketing disebut sistem yang menghargai jasa informasi ato jasa marketing… karena perusahaan yang digerakkan oleh sistem ini hampir sama terkenalnya dengan perusahaan Unilever dll…. kebanyakan orang udah tau… kenapa ga langsung beli ke distributor aja, kenapa mesti jadi bawahan/downline/kaki….??
    jawabannya satu: karena ini tidak lagi murni sistem jual informasi ato jasa marketing, ini sudah merupakan sistem kapitalis, yang hanya menginginkan semakin byk downline, sehingga semakin banyak passive income…. wallahua’lam…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s