Jangan Mendiskriminasikan Pemulung


Jangan Mendiskriminasikan Pemulung
Andi Hendra Paluseri
Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB

 

Pemulung adalah orang/sekelompok orang yang beraktivitas/bekerja dengan mengumpulkan barang-barang bekas/sisa yang sudah tidak digunakan oleh pemiliknya. Aktivitas/pekerjaan ini kerap dipandang rendah oleh masyarakat golongan menengah keatas. Padahal tidak ada yang salah dengan pekerjaan ini. Jumlah pekerjanyapun tidaklah sedikit berdasarkan statistik BPS. Di Bantar Gebang saja jumlahnya mencapai 6.000 orang.

Kontribusi pemulung terhadap kebersihan di Indonesia cukup berpengaruh. Sekitar 5% dari sampah yang ada. Dimana perharinya, sampah Indonesia mencapai 167 ton. Bayangkan bila tidak ada pemulung, 8.35 ton sampah perhari siapa yang mau bersihin? Anda?. Namun seringkali kita masih melihat diskriminasi dan tindakan kasar yang dialamatkan kepada salah satu golongan masyarakat ini. Kata-kata dan tulisan kasar seperti “ Pemulung dilarang masuk. Kalau berani,  MATI!” dan sejenisnya kerap kita jumpai di berbagai sudut masyarakat.

Tulisan Kasar

 

Memang ada beberapa pemulung yang nakal. Dengan mengambil kesempatan untuk mencuri barang-barang milik masyarakat. Namun, tidak semua pemulung seperti itu. Masih banyak dari mereka yang berusaha untuk mengumpulkan barang bekas/sisa yang layak untuk dibototkan (Botot adalah istilah Medan yang artinya sama dengan pemulung). Pekerjaan mengumpulkan barang bekas ini merupakan harapan hidup mereka untuk mengais sesuap nasi bagi diri dan keluarganya. Apalah salahnya bila mereka diijinkan untuk mengumpulkan barang-barang yang memang sudah tidak kita gunakan/butuhkan.

Di masyarakat, bentuk diskriminasi yang kerap terjadi pada keluarga mereka adalah penghinaan baik melalui kata-kata ataupun tulisan. Kita bisa lihat kondisi di lapangan bagaimana anak dari pemulung ini sering disindir oleh teman-temannya tentang pekerjaan orangtuanya (Pekerjaan orangtua penulis adalah Militer, namun tetap saja bisa merasakan penderitaan batin yang mereka alami).

Pandangan negatif yang sering dibuat masyarakat bahwa keluarga pemulung sangat jauh dari kesuksesan dan biasanya berandalan/bergajulan malah penyebab paling besar yang membuat generasi/keturunan mereka untuk sulit maju/sukses. Memang lingkungan keras yang kerap mereka dapati di lingkungannya mau tidak mau membentuk karakter mereka yang lebih sedikit kasar. Tapi tetap saja ada yang ingin maju dan meraih kesuksesan. Bahkan kitapun bisa turut menyemangati mereka untuk membangun kesuksesannya kelak di masa depan.

Caranya bagaimana? yah, hapus semua citra negatif yang melekat pada diri pemulung. Hal ini tentunya akan membuat mereka semakin percaya diri untuk berani bermimpi. Bermimpi untuk mendapatkan secercah harapan pasti berupa kesuksesan keturunan mereka kelak di masa depan.

Pemerintahpun sebaiknya lebih mengutamakan kaum-kaum marjinal ini untuk mendapatkan pendidikan yang layak mengingat masih sering ditemukan anak-anak dari keluarga pemulung yang terpaksa memutuskan harapan pendidikan mereka karena alasan tidak ada biaya. Kalau sampai ini terjadi terus, dapat disimpulkan bahwa orasi pemerintah terhadap pendidikan gratis hanyalah bualan besar.

Kesimpulan :

Mari sama-sama kita bangun rasa persaudaraan setanah air dengan membantu sesama. Tanpa adanya paradigma rasial yang malah hanya akan memperparah kesenjangan sosial. Akan tetapi sebaliknya, satukan paradigma berfikir untuk mampu mengubah bangsa menjadi lebih baik.

 

Tentang andihendra

Andi hendra paluseri adalah perantau asal medan yang menyelesaikan pendidikannya S1 di ITB jurusan teknik elektro (Tenaga Listrik).
Pos ini dipublikasikan di pengalaman di ITB. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Jangan Mendiskriminasikan Pemulung

  1. A. Faiz F berkata:

    Setuju…Tulisan yang Bagus…! semoga memberi perspektif objektif bahwa pemulung juga manusia, punya hak yang sama sebagai warga negara..Hapuskan diskriminasi..! kalo sekedar kenakalan, suka comot sana-comot sini..saya rasa di kepolisian dan di gedung DPR mungkin jauh lebih banyak…kalo ada oknum pemulung yang nakal biasanya karena sudah di ujung tekanan kebutuhan hidup…tapi kalo dikalangan orang berseragam dan berdasi umumnya karena KESERAKAHAN…! Thanks atas dukungan terhadap para pemulung..
    Salam kenal
    FAIZ
    Ketua Umum PPBR
    ( Persaudaraan Pemulung Bogor Raya )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s