Kebiasaan Angkot ‘Ngetem’ di Bandung


Bagi anda yang belum mengerti tentang apa itu ngetem, saya akan memberi tahu. Ngetem adalah ungkapan sehari-hari yang biasa digunakan di berbagai kota khususnya Bandung kepada supir Angkot/Angkutan umum yang berhenti berlama-lama di suatu tempat demi membuat angkotnya penuh. Kondisi ini sebenarnya sangat menjengkelkan terutama bagi mereka yang membutuhkan kecepatan dalam beraktivitas. Namun apalah daya, karena supir dalam hal tersebut adalah pemimpin maka mau tidak mau para penumpang harus bersabar (baca: mengalah).

Di Medan sendiri, saya jarang menemui kejadian ngetem ini sehingga agak sangat terkejut ketika mendapatinya di Bandung saat awal pertama menginjakkan kaki di tanah Priangan ini. Saat itu, saya benar-benar kesal sama pak Supir. Seakan sedang menunggu seseorang yang akan memasuki angkotnya. Padahal ketika melihat ke kiri/kanan/depan/belakang masih tidak ada orang. Mungkin si Pak Supir benar-benar frustasi sampai-sampai haruslah mempersilahkan makhluk lain untuk menempati angkotnya. Karena tidak ada manusia lain selain saya dan pak Supir di angkot tersebut.

Biasanya kalau sudah terjadi seperti ini, saya menghitung 1-30. Dengan menghitung tersebut, saya berniat untuk segera turun. Namun, seringnya meskipun sudah menghitung sampai angka 300, tetep aja saya tidak mau turun 😛 (baru nyadar bodohnya gw, kenapa gak bertasbih aja biar itung-itung dapet pahala). Pak Supirnyapun tidak kehabisan akal. Kalau sudah dirasakan penumpang merasa resah, supir tersebut memaju-mundurkan angkotnya (biar serasa bergerak kali yah!). Dan cara ini kalau diperhatikan cukup jitu, banyak penumpang yang terkecoh karena merasa angkot akan segera berangkat padahal ternyata masih menunggu lama lagi.

Kalau sudah begini, sebenarnya kedua pihak haruslah empati, baik dari pihak supir maupun penumpang. Supir tentunya haruslah mendapatkan nafkah dengan membuat angkot mereka penuh penumpang. Penumpang sadar betul akan hal itu. Namun di sisi lain, supir juga haruslah menyadari bahwa dalam transportasi bukan hanya ada kepentingannya saja. Kepentingan orang lain seperti rapat, kuliah dan sebagainya yang membutuhkan kecepatan waktu haruslah diperhatikan. Jangan sampai karena perilaku sewenang ini, akhirnya pihak penumpang yang paling dirugikan. Jadi, perlu adanya tenggang rasa/empati bersama yang harus dimiliki oleh kedua belah pihak

Tentang andihendra

Andi hendra paluseri adalah perantau asal medan yang menyelesaikan pendidikannya S1 di ITB jurusan teknik elektro (Tenaga Listrik).
Pos ini dipublikasikan di pengalaman di ITB. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s