Sistem Pembangkitan 16 2/3 Hz dan Perbandingan Kereta-Kereta Listrik di Dunia


Pagi ini saya kembali mengikuti kuliah Sistem Transportasi Elektrik yang disampaikan oleh Prof. Yanuarsyah Haroen. Pukul 07.30 tepat, saya tiba di Lab konversi dan ternyata Pak Prof sudah tiba terlebih dahulu beserta 2 mahasiswa peserta kuliah tersebut. Dengan penuh semangat Pak Prof memberitahukan gambar Pembangkitan Kereta Listrik yang dikeluarkan oleh Kraftwerk Schkopau, kalau tidak salah ini adalah jenis perusahaan pembangkitan di Jerman.

Awalnya kami kesulitan membaca gambar tersebut, maklumlah ternyata gambarnya juga baru didiskusikan kali ini. Gambar ini tergolong baru karena dibuat sekitar awal tahun 90-an disaat terjadi penyatuan Jerman Barat dan Jerman Timur.

Setelah beberapa lama melihat dan memperhatikan akhirnya disadari bahwa sistem pembangkitan tersebut menghasilkan 900 Mwe untuk menyuplai bukan hanya kereta listrik tetapi juga untuk keperluan publik. Sehingga sistem pembangkitan tersebut terbagi menjadi dua sistem yaitu 50 Hz dan 16 2/3 Hz. Sistem 50 Hz digunakan untuk menyuplai publik sedangkan 16 2/3 Hz digunakan untuk menyuplai kebutuhan kereta listrik.  Adapun untuk yang 50 Hz adalah 3 phase sedangkan 16 2/3 adalah satu phase.

Setelah panjang lebar berdiskusi tentang sistem pembangkitan ini, Pak Prof-pun mengajak kami untuk mengerti tentang kereta-kereta listrik yang ada di dunia. Saya disuruh belajar tentang Shinkansen (kereta yang ingin saya naiki). Lalu TGV Korea dibebankan ke Bang Okto dan TGV Inggris yang bernama Eurostar diserahkan ke Mas Felix.

Berikut hasil yang didapatkan

No Kereta Listrik Kecepatan Maks (km/h) Kapasitas Penumpang
1 Shinkansen 270 1255
2 TGV Korea 300 900
3 TGV Inggris (Eurostar) 300 794

Dari hasil diatas, dapat disimpulkan bahwa teknologi perkeretaapian di negara-negara maju sudah cukup sama. Untuk negara yang membutuhkan kapasitas penumpang yang sangat besar maka kecepatan kereta listrik yang diterapkan kurang cepat dibandingkan negara yang menomorsatukan kecepatan dibandingkan kapasitas penumpangnya.

Sembari berkelakar, Pak Prof menyampaikan bahwa kecepatan 270 dan 300 km/h untuk orang Indonesia tidak ada bedanya. Sama-sama cepat!. Kalau ada mahasiswa yang mampu membuat kereta dengan kecepatan 200 km/h saja di Indonesia, beliau akan angkat topi hehe…

*dari mas Felix:  sekadar menambahkan, tgv eurostar itu bukan hanya di Inggris, tapi juga dari Perancis (25 kV, 50 Hz), Belgia (3kV DC), selat Inggris-Perancis (namanya eurotunnel; 25 kV 50 Hz), dan Inggris (7,5kV DC; lewat London sampai Glasgow di utara Inggris).

Tentang andihendra

Andi hendra paluseri adalah perantau asal medan yang menyelesaikan pendidikannya S1 di ITB jurusan teknik elektro (Tenaga Listrik).
Pos ini dipublikasikan di pengalaman di ITB. Tandai permalink.

3 Balasan ke Sistem Pembangkitan 16 2/3 Hz dan Perbandingan Kereta-Kereta Listrik di Dunia

  1. Gadis Lugu berkata:

    nice post… 🙂

  2. ardian eko berkata:

    dari perbincangan dengan kepala humas kereta api beberapa tahun lalu, penyebab di indonesia tidak bisa membuat kereta cepat karena infrastrukturnya belum siap.

    Jalur kereta yang dibuat hanya sanggup untuk dilewati kereta dengan kecepatan maksimal 80 km/jam. Selain itu, jalur yang berkelok2 juga tidak memungkinkan kereta melaju dengan cepat.

    Mungkin alternatifnya harus dibuat terlebih dahulu jalur yang lurus2 dengan menembus gunung, menyusuri underground atau melayang dipermukaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s