Warung Tegal: Harapan Hidup Mahasiswa


Agak lebay bila diperhatikan dengan lebih teliti judul artikel ini. Tetapi tak apalah, saya hanya ingin menunjukkan kalau di saat ini yang harga bahan makanan sudah melambung tinggi sehingga harga jualan makanan di warung-warung sekitar kampuspun naik, warung tegal menjadi harapan satu-satunya para mahasiswa yang hidup pas-pasan untuk makan.

‘Tragedi Mahasiswa’ ini saya rasa tidak hanya terjadi di Bandung, namun juga di kota-kota besar lainnya. Bagi mahasiswa yang hidup sejahtera, biaya makan tidak jadi persoalan namun untuk mahasiswa yang mengaku ‘hidup sederhana’ padahal pas-pasan, penghematan dan pengiritan adalah hal yang sudah semestinya untuk dijalankan.

Nah, salah satu tips yang saya tawarkan bagi mahasiswa-mahasiswa pas-pasan seperti saya, caranya adalah makan di warung Tegal. Warung Tegal sendiri sudah dari dulu terkenal sebagai warung makan yang sangat murah. ‘Murah’ namun bukan ‘Murahan’ menjadi tagline yang selalu diusung oleh jenis warung ini dimana saja mereka berada.

Di Bandung contohnya, sekarang saya tinggal Galeri Cieumbeluit No.821. Jangan sarankan saya untuk makan resto yang ada di Galeri tersebut, karena memang harganya sangat tidak cocok untuk kantong saya. Nah, kalau sedang lapar ada 4 alternatif yang harus saya pilih :

1. Warung Padang

Warung ini memang enak, enak sekali. Tapi harganya itu lho yang saya rasa kagak nahan untuk saat ini. Sekali makan di warung tersebut biasanya harus menghabiskan jatah makan 2 hari saya. Kalau sudah begini, yah mau gimana lagi. Hari besoknya harus puasa. Cuma minum air doang. (eh, gak segitunya juga kali..lebay ane)

2. Ayam Sabana

Franchaise ini tergolong cukup terkenal di Bandung, sekarang lagi ramai-ramainya gitu. Entah mengapa saya tidak begitu suka Ayam Sabana yang ada di Cieumbeluit, sepertinya karena harganya lebih mahal dan tidak ada paket promosi seperti yang ada pada Ayam Sabana di Cisitu Lama. Hmm, mungkin  kalau ingin fastfood biasanya saya membelinya.

3. Warung Pecel

Harga disini cukup murah mulai dari 6000-8000an. Mulai dari Pecel Telur sampe Pecel Ayam. Nah, sayangnya untuk warung pecel biasanya hanya buka mulai petang hari. Yah, kalau mau cari aman habis maghrib dah ane harus kesini untuk membeli makan. Padahal kan makan itu 3 kali sehari dan variasi menu itu-itu aja

4. Warung Tegal

Warung ini buka hampir 24 jam. Menu yang disediakan sangat beraneka ragam. Sepertinya kebosanan hampir dipastikan tidak ada. Harganyapun sangat kakilima. Bayangin, saya makan nasi+Telur dadar + Udang = 6ribu plus Pisang gede cuma gopek. Kalau di tempat lain mungkin udah diatas 10ribuan.

Nah, dengan begini budget makan yang 15-20ribu perhari sepertinya bisa dijalankan. Hehe..

Tentang andihendra

Andi hendra paluseri adalah perantau asal medan yang menyelesaikan pendidikannya S1 di ITB jurusan teknik elektro (Tenaga Listrik).
Pos ini dipublikasikan di pengalaman di ITB. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s