Perjalanan ke Jakarta : Interview di Perusahaan Kuda Laut


Bismillah! Keputusan yang berat dan insya Allah tepat akhirnya saya ambil dimana memilih untuk interview di Jakarta dibanding rafting bersama teman-teman power. Wuaa… awak mau rafting juga.. Lain kali insya Allah ikutan deh temen-temen. Nah, alarm yang sudah disetel sebelumnya jam 4 pagi akhirnya membangunkan saya tepat pukul 4 pagi teng. Dengan mudahnya saya perpanjang lagi jadwal tidur saya. Jam 4.30 memaksakan diri untuk bangun pagi dan segera mandi. Kali ini saya tidak takut mandi pagi karena fasilitas air panas Apartemen Cieumbeluit selalu memanjakan saya dua setengah bulan terakhir ini.

Setelah mandi, tak lupa menggosok gigi (haduh, gosok gigi mah udah included!). Sholat shubuh yang memang seyogyanya dilaksanakan oleh mukminin dan mukminat saya kerjakan. Udara dingin yang kaya oksigen mulai memasuki kamar saya ketika jendela mulai dibuka. Alhamdulillah masih diberi ‘hidup’ hingga saat ini. Setelah selesai menunaikan sholat, segala perbekalan ‘perang’ interview yang telah saya persiapkan mulai dimasukkan kedalam tas. Bistok Situmorang yang bertugas mengantarkan saya ke pos Baraya di UNPAD-pun mulai saya hubungi. Setelah semua selesai, tibalah untuk berangkat.

Sesampainya di simpang Cieumbeluit, si ibu penjual buah menyapa saya. Sapaan tersebut saya balas dengan membeli ½ kg buah pisang yang kerap saya nikmati. Dengan begini, bekal saya ke jakarta hanyalah 100.5ribu perak dan 1/2kg pisang. Berharap bistok akan segera menjemput dan mengantarkan saya ke pos Baraya. Karena uang yang miliki hanyalah 2 lembar 50ribuan dan 1koin 500perak dan waktu sudah menunjukkan pukul 5.43 saat itu.

Namun, entah dinyana ‘kereta’ bung bistok ternyata bocor sehingga tidak bisa menjemput saya. Alih-alih naik angkot Ciroyom-Caheum, saya malah berlari dari Cieumbeluit-Cisitu. Kenapa tidak naik angkot? Karena tidak mungkin saya membayarkan uang 50ribuan ke supir. Bisa-bisa ditabok hingga tak sadarkan diri nanti. Sepanjang berlari, saya melihat ke kanan-kiri dan bawah. Berharap bisa menemukan uang 1000-an atau lebih yang dapat saya pergunakan untuk membayar ongkos ke Baraya UNPAD.

Di depan terlihat kilauan kertas ungu, kontan saja saya mendekatinya dan mengira bahwa itu adalah uang 10ribu. Haduhh, mujur tak dapat diraih! Ternyata itu hanyalah potongan bungkus rokok yang telah usang. Mungkin pejalan kaki yang tepat berada di belakang saya tertawa lirih melihat adegan konyol yang saya lakukan saat itu.

Yup, lanjut berlari lagi. Akhirnya pukul 5.54 sampailah di Posko Ojek Cisitu dan bertanya,

‘Bang ke Baraya UNPAD Sabaraha?’

’10 ribu dek!’

Anjir sia…, 10 ribu? Emang awak orang baru apa.. langsung saja ditawar 5ribu gak pake lebih. Akhirnya si ojek mengalah. Untungnya sampai di Baraya UNPAD, travelnya belum pergi. Lalu saya ulurkan selembar uang 50ribuan ke mang ojek.  Awalnya dia bilang tidak ada kembalian sehingga saya harus mencari uang tukaran. Sambil ngomel ‘Ouchh… Shit, What the hell with my life’ saya berputar-putar mencari tukang tinju yang punya tukaran duit 50ribuan. Duh, ternyata gak ada. Hingga akhirnya si mang ojekpun membuka dompetnya dan memberikan 44ribu rupiah. Hmm, oke tak apalah. Anggap 1000-nya sebagai tambahan uang tukar. Setelah membayar travel baraya 50ribu dan ojek 6ribu, maka bekal yang saya punyai tinggal 44.5ribu dan ½kg pisang. Sambil berdoa semoga kereta Jakarta-Bandung yang 30ribu masih ada dan mendapatkan Lunch gratis di Pertamina siangnya. Setelah masalah dengan tukang ojek selesai, mulailah mobil travel berangkat.

Dari bandung pukul 6 pagi dan harus nyampe di Pertamina Pusat pukul 10-nya, membuat saya cukup deg-degan. Maklumlah hari ini senin pagi dan tujuannya adalah Jakarta, kota suntuk yang tak ada indah-indahnya bagi saya. Awalnya perjalanan cukup lengang, namun di kilometer 4 memasuki Jakarta mulailah semua kendaraan harus merayap. Benar-benar merayap!. Hadoohh, plis Pak Presiden segera pindahkan Ibukota negaraku ini.

Sampai di Sarinah pukul 9.45 dengan tubuh berpeluh keringat dan parfum non-alkohol yang digunakan sudah berubah menjadi bau asem :D. Lagi-lagi harus mengandalkan tukang ojek sepertinya. Dari sarinah ke Pertamina, saya bayar 10ribu ojeknya. Hmm, kalau tahu bakalan agak dekat, mungkin akan Cuma saya bayar 7ribu saja. Dengan membayar uang ojek, bekal sayapun mulai berkurang, tinggal 34,5ribu dan beberapa pisang yang masih saya sisakan.

Sesampainya di front office, wanita cantik dengan rambut tipis menyuruh saya untuk menitipkan KTP sembari memberikan kartu visitor. Kartu itu yang akhirnya saya gunakan untuk dapat masuk ke gedung utama. Wah ternyata saya mendapat teman baru, anak Akutansi Trisakti 2006 yang juga mendaftar di BPS Gas Pertamina. Sepanjang 1 jam, dia menjadi teman ngobrol saya. Sesekali melihat sekeliling, wah ternyata ada Ditto Power 06, Heni TI05 (Pengawas KOKESMA 2008).

Disana saya harus mengisi formulir peserta yang akan digunakan sebagai keterangan bagi User dan HR yang menginterview saya. Sambil mengambil form-nya, saya beritahukan kepada pihak administrasi bahwa teman saya, Dimas Aji Nugraha tidak dapat menghadiri interview karena sedang sakit. Akhirnya dengan bijaksana, mereka minta agar teman tersebut mengirimkan surat keterangan sakit ke pihak Pertamina agar dapat dilakukan interview susulan atau interview di Batch selanjutnya.

Jam 11 lewat, Lunch Box datang, Alhamdulillah!. Karena saya sudah tidak mempunyai bekal apa apa lagi selain beberapa buah pisang yang masih saya sisakan.  Sebelum menikmati Lunch, saya pergi ke kamar mandi. Ketika sedang asik-asiknya boker, ternyata nama saya dipanggil dan harus segera interview… Whattcauu!, boker kilat ala Chef Andi segera dilakukan.

Masuklah saya ke ruang interview, disitu berkenalan dengan Pak Ginanjar sebagai User dan Teh Eli sebagai HR. Ternyata Teh Eli itu alumni ITB juga lho, hehe. Pertanyaan demi pertanyaanpun mulai diutarakan ke saya. Mulai dari kapan lulus, wisuda, prestasi, non-akademik, penempatan kerja, sampai paper internasional (saya menyebut paper tim yang dipresentasikan di Kyoto University sebagai paper internasional yah, gak tau deh kalo isi dan bentuknya ternyata tidak internasional hehe..).

‘Apa satuan energi geothermal?’ Tanya Pak Ginanjar dengan cepat..

‘Waduh Pak, saya lupa. Tapi Entar bakalan dicari tau deh!’ Mampus gw..

Lalu pengalaman jadi Direktur Kantin Barat Laut ITB 2010 yang akhirnya bisa mengantarkan saya menyaksikan langsung Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan kemarin. Wahaha…

Kemudian Pak Ginanjar bertanya kepada saya tentang pengalaman KP saya, apakah jam kerja tersebut lama atau tidak.

‘masuk jam 7 pulang jam 4, itu lama banget Pak!’. Jawab saya polos

Waduh, sambil tertawa riang beliau memberitahu bahwa itu adalah jebakan batman. Karena di Pertamina Gas, bisa lebih lama jam kerjanya dan on-call gitu. Wuahhhhhh…, mamak, awak salah jawab pulak!. Namun saya mencoba ‘menjual diri’ dengan lebih baik di pertanyaan-pertanyaan berikutnya. Dan beberapa pertanyaan kemudian mulailah masuk dengan bahasa inggris. Yes God, I can!. Selesailah tahap interview kali ini. Sebelum pulang saya berterima kasih kepada mereka atas interview yang telah dilakukan. Oiya, mereka ngasih bocoran salary di Pertamina. Berikut bocorannya :

  1. Training Awal (2 Bulan) = 750.000/bulan dan konsumsi+transp+akomodasi ditanggung
  2. On Job Training (+/- 8 Bulan)=3jt/bulan
  3. Pengangkatan Pegawai = 6-7jt/bulan

Keluar dari tempat interview, saya menyempatkan ngobrol dengan teh heni lalu keluar dari gedung Perusahaan Kuda Laut itu. Sebelum beli tiket di gambir, saya menyempatkan diri melihat lapangan banteng tempat diadakannya medical check up berupa lari 4 kali keliling lapangan maksimal 12 menit. Ah, ternyata sama saja seperti lapangan Sabuga. Anak-anak ITB sudah dibiasakan lari 6 kali dalam waktu 12 menit malah. Kecil lah yah!.

Nah, yang mirisnya ketika saya bertanya kepada security lapangan Banteng tersebut tentang posisi jogging track yang biasa digunakan untuk test karyawan pertamina, si Security malah nanya,

‘Mas, di daerah sono noh (sambil nunjukin daerah kiri), mas mau tes sekuriti di Pertamina yah? Tanyanya dengan raut entah atau memang sengaja.

Demi apalah, masa’ saya capek-capek ke Jakarta hanya untuk jadi Sekuriti Pertamina!!!! Halooooo!. Dengan raut pria komik yang matanya berbinar, saya katakan bahwa saya mau mendaftar jadi karyawan Pertamina bukan Sekuriti Pertamina. Eh tapi kalo dipikir-pikir, bukankah sekuriti pertamina juga termasuk karyawan pertamina yah?. Ah, sudahlah jangan dipikirkan, asa lieur aing.

Continue to ep.2

Iklan

Tentang andihendra

andi hendra paluseri adalahperantau asal medan yang menyelesaikan pendidikannya S1 di ITB jurusan teknik elektro (Tenaga Listrik) dan saat ini sedang menempuh pendidikan S2 Ilmu Hukum di Universitas Jayabaya.
Pos ini dipublikasikan di pengalaman di ITB. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s