Problematika SKTM di Dunia Kampus (ITB)


SKTM adalah surat keterangan tidak mampu yang biasanya digunakan oleh orang-orang untuk mendapatkan kemudahan-kemudahan dalam kehidupannya baik di bidang sosial, pendidikan, kesehatan, ekonomi dan sebagainya. Dalam hal ini, saya akan lebih menekankan di bidang pendidikan.

Dalam dunia pendidikan, SKTM sudah menjadi syarat wajib bagi mahasiswa kurang mampu guna mencukupi kebutuhan hidup dan biaya pendidikan yang ditanggungnya dalam menuntut ilmu. Posisinya sama seperti KTP, KK dan KTM bagi mahasiswa. Di ITB sendiri, mahasiswa biasanya harus membuat 2 kali SKTM dalam setahun karena biasanya beasiswa diperbaharui tiap semester.

Cara mendapatkannya pun bisa dibilang susah-susah gampang. Dikatakan gampang bila mahasiswa yang membutuhkan SKTM tersebut berasal dari keluarga super miskin alias untuk beli air putih di kampus aja susah. Dikatakan agak susah bila mahasiswa yang memerlukan SKTM, berasal dari keluarga pas-pasan. Seperti saya, pas ada anggota keluarga yang sakit maka jatah buat yang lain harus dikurangi. Lalu dikatakan susah bila mahasiswa yang memerlukan SKTM, berasal dari keluarga agak mampu.

Masalahnya para petugas kelurahan (hampir di seluruh Indonesia) yang biasanya mengurusi pembuatan SKTM ini membuat standardisasi bahwa ‘Setiap Pegawai Negeri tidak boleh mendapatkan SKTM’. Hal ini tentu saja sangat menyulitkan bagi mahasiswa yang orangtuanya berstatus PNS. Padahal Anda semua pasti tahu bahwa kesejahteraan PNS golongan menengah kebawah (kalau TIDAK KORUPSI) itu sangat memprihatinkan. Ayah saya seorang tentara berpangkat rendah beristri satu beranak empat. Gajinya yang tiada seberapa saja sudah tidak cukup untuk biaya hidup dan biaya pendidikan adik saya yang SMA. Lalu tidak layakkah kami mendapatkan SKTM?

Yah, saya sudah sebulan yang lalu tidak lagi berstatus sebagai mahasiswa karena sudah lulus dan sekarang menempuh pendidikan di salah satu BUMN. Akan tetapi, saya prihatin terhadap banyak junior yang nasibnya sama seperti saya. Kesulitan untuk membayar biaya kuliah dan memenuhi biaya hidup selama menjadi mahasiswa di ITB. Saya yakin kondisi ini bukan hanya terjadi di ITB saja, mungkin di kampus-kampus lainpun sama.

Dalam hal ini ada dua solusi yang saya pikirkan untuk dilakukan,

1. Pihak perantara kampus yang bertugas untuk menyebarkan beasiswa tidak lagi menjadikan SKTM sebagai syarat wajib administrasi beasiswa yang ada. Mungkin pihak perantara kampus bisa memberikan pengertian kepada para donatur seperti Tanoto, Eka Tjipta, DIKTI, Sampoerna dll bahwa banyak mahasiswa di kampus yang masih kesulitan mendapatkan SKTM padahal mereka sangat membutuhkan

2. DIKTI melalui Kemendiknas menginstruksikan/menyadarkan seluruh pihak pemerintah daerah dalam kasus ini kelurahan untuk memperbolehkan mahasiswa-mahasiswa yang kesulitan dalam memenuhi kehidupan perkuliahan untuk mendapatkan SKTM.

Parameter pihak kelurahan yang tidak mau mengeluarkan SKTM bagi mahasiswa dari golongan PNS memang sudah keterlaluan. Padahal biaya Perguruan Tinggi itu tidak seperti biaya SD dan SMP yang sudah digratiskan. Tidak masuk akal bila para PNS golongan rendah untuk membiayai pendidikan perguruan tinggi anaknya yang sekarang ini sudah sangat mahal terutama di ITB.

Saya harap parameter-parameter yang tidak masuk akal seperti ini secepatnya diubah. Contoh lain parameter yang tidak masuk akal seperti kriteria orang miskin. Kriteria orang miskin yang diberlakukan di Indonesia adalah mereka yang pengeluarannya dibawah 211ribu perkapita perbulan[sumber vivanews]. Jadi bila Anda mempunyai tetangga yang memiliki pengeluarannya 240ribu perkapita perbulan atau sekitar 8ribu perhari, mereka sudah tidak dianggap miskin lagi oleh pemerintah. Masuk akal kah? saya tidak tahu apa motif parameter yang tidak masuk akal ini. Tapi yah sudahlah lain kali akan saya bahas. Sekarang yang penting, prosedur SKTM yang begitu menyulitkan ini harus segera dituntaskan.

Iklan

Tentang andihendra

andi hendra paluseri adalahperantau asal medan yang menyelesaikan pendidikannya S1 di ITB jurusan teknik elektro (Tenaga Listrik).
Pos ini dipublikasikan di pengalaman di ITB. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Problematika SKTM di Dunia Kampus (ITB)

  1. Ahmad PNS Gol Rendah berkata:

    iya mas saya juga pns anak 3,…. biaya pendidikan untuk anak saya sma dan kuliah dirasa cukup berat ……dengan gaji pns gol IId yang saya terima…ditambah biaya ngontrak dan makannya ……belum buku dan praktek ……. sangat memprihatinkan….. tolong pemerintah perhatikan gaji pns tingkat bawah……pns juga kalo golongan rendahmah…. ripuh mas , apalagi nggak punya gebetan/ sampingan ……..anak bisa kuliah juga gadaikan SK ke bank loh mas……. tapi itulah jalan terbaik walaupun makan sehari hari jadi kurang Gizi ………… ini kenyataan hidup

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s