Jakarta : Bis Penuh, Kota Pemalak dan Asmiranda. (3 Alumni EL-2007)


Hari ini, minggu pagi tepatnya 11 September 2011, tiga orang alumni elektro ITB 2007 yang sedang mencari nafkah di Jakarta berencana untuk berjalan bersama mengelilingi kota. Rencana ketemu jam tujuh pagi karena awalnya ingin menyaksikan Car Free Day di salah satu sudut kota. Tapi entah kenapa, ada seseorang yang masih harus mengurus surat ijin keluar dormitorinya sehingga turut berkontribusi mendelay beberapa jam perjalanan mereka.

Sembari menunggu teman yang ketiga, dua orang anak elektro yang telah bertemu (double- andi) melanjutkan perjalanan mereka dengan berjalan kaki tentunya, dari halte simprug menuju halte palmerah. Memang agak jauh perjalanan itu tapi perjalanannya inspiratif karena diisi dengan obrolan masa depan membangun bangsa khususnya daerah masing-masing. Meminjam istilah Batak, Martabe (Marsipature Hutanabe) yang kira-kira artinya merantau ke kota dan akhirnya kembali membangun desanya.

Akhirnya ketiga pemuda ini bertemu dibawah fly over palmerah. Bis 86 yang sebenarnya tidak layak untuk dimuati lagi, tetap saja dinaiki. Tak lain tak bukan karena bujukan sang kondektur yang masih menyisahkan beberapa petak kosong untuk kami. Ternyata kami bukan penumpang terakhir di bis penuh itu. Saat ada beberapa orang yang ingin masuk lagi, si kondektur memaksa para penumpang yang didalamnya untuk lebih merapatkan diri. Aduh,..! Lebih kasihan lagi ngeliat ibu muda dengan bayinya yang lucu harus berdiri sambil berhimpit-himpitan.

Sampailah kami di tujuan pertama, Kota Tua. Kota ini diperkaya dengan berbagai peninggalan Belanda. Sehingga merangsang setiap orang untuk berkamera ria di tempat ini tak terkecuali kami bertiga. Beberapa letak yang dianggap menarik, kami datangi dan mulai beraksi. Entah kenapa feeling saya waktu itu ada seseorang pria yang mengikuti kami. Ah, tak apalah, pikir saya. Pun, kelihatannya pria tersebut dungu, ingusan, tolol dan menjijikkan. Eh, tanpa dinyana di salah satu tempat dia mendatangi kami, mengajak jalan sampai akhirnya meminta rokok.

Aksinya hampir saja akan sangat fatal bila kami mau mengikuti sarannya untuk masuk ke dalam stasiun Jakarta Kota. Ketika melihat seorang polisi, pria menjijikkan ini agak ketakutan tapi tetap meminta dan keluarlah uang 45ribu dari dua orang teman saya. Saya tidak berani membuka dompet karena hari itu baru saja mengambil uang saku dari ATM. Eh, aksi si pria biadab itu mungkin akan bertambah lagi bila kami menghiraukan panggilannya ketika menuju salah satu halte. Andi Batam, teman saya, sudah hampir mau mengejar dan berantem dengannya. Tapi, untuk kali ini safety sepertinya sangat diutamakan sehingga saya mengajaknya untuk masuk kembali ke halte tersebut.

Mengapa saya berfikiran demikian?, hal terekstrim yang mungkin kami alami adalah dikeroyok habis-habisan oleh teman-temannya yang pastinya sudah stand-by di tempat tersebut. Perkara ini tentu sangat meresahkan. Kota tua sebagai salah satu objek wisata daerah ibukota yang kerap dikunjungi wisatawan ternyata digandrungi oleh orang-orang brengsek seperti itu. Tentunya keamanan adalah hal yang wajib untuk setiap tempat khususnya objek wisata. Namun peristiwa ini membuat saya harus berfikir berkali-kali untuk mengunjungi tempat seperti ini.

Btw, kalau teman ada yang punya koneksi dengan pihak kepolisian Jakarta. Tolong sampaikan pesan penting ini. Semestinya di tiap-tiap sudut terutama lokasi wisata disterilkan dari adanya premanisme. Untuk yang satu ini, saya sangat setuju dengan metode ‘Petrus’ jaman Pak Harto yang efektif untuk memusnahkan bibit-bibit preman di Indonesia.
Emosi kami masih belum mereda meskipun sudah berada di busway yang telah mengembuskan udara-udara dingin melalui AC-nya. Mall mungkin satu-satunya tempat yang aman di kota ini. Pondok Indah Mall menjadi tujuan kami berikutnya. Perut yang tidak berkompromi memaksa kami untuk segera mengisinya. Meskipun kami sudah bekerja, namun tetap saja makanan murah, meriah, muntah tetap menjadi prioritas utama haha… tapi kali ini ditambah dengan prinsip enak. Bakmi GM di Mall tersebutlah yang akhirnya terpilih untuk masuk ke perut kami. Dan akhirnya emosi ini berangsur-angsur hilang.

Selepas sholat dan menghibur diri di zona permainan, kami berkeliling-keliling sampai akhirnya terlihat di depan ada wanita cantik yang sedang berjalan ke arah kami. Kalau tidak salah namanya Marisanda,… eh Asmiranda!. Eh ternyata dia bersama teman-temannya cuma berlalu saja. Teman di sebelah saya sebenarnya cukup penasaran sampai-sampai ingin mengajak untuk bersalaman dengannya. Ah, tapi untuk apa!. Belum tentu tangan asmiranda lebih bersih dari tangan saya :D. Dan belum tentu juga si asmiranda mau salaman dengan kami haha… tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul tiga sore. Sudah saatnya kami harus kembali, terutama saya.

Perjalanan ini cukup menyenangkan dan menegangkan.

Iklan

Tentang andihendra

andi hendra paluseri adalahperantau asal medan yang menyelesaikan pendidikannya S1 di ITB jurusan teknik elektro (Tenaga Listrik).
Pos ini dipublikasikan di pengalaman di ITB. Tandai permalink.

6 Balasan ke Jakarta : Bis Penuh, Kota Pemalak dan Asmiranda. (3 Alumni EL-2007)

  1. asmarinda itu siapa q kok gak kenal

  2. Anonim berkata:

    Jalan jalan seru ya ndi. awalnya dipalak preman, tapi endingnya ketemu artis euy. haha..Oh Asmirandaa.. 😀

  3. ashlih berkata:

    hahaha…
    asmiranda berjalan ke arah kami…

    mimpi kali… :p

    • andihendra berkata:

      haha,… beginilah nasib kaum pria slih.

    • Aravind berkata:

      komentarom ma byt riesenie? tak sa o njkeae pokusim. 🙂 tato uloha ma rozculovala uz dva dni, takze sa asi musim pochvalit s tym, na co som prisla. odpoved a) je nie. to bolo celkom lahke: bielych policiek je na sachovnici 40, kym ciernych len 38 a kedze kazda kocka domina musi pokryvat jedno biele a jedno cierne policko, je zrejme, ze pokrytie nemoze ani teoreticky existovat, lebo dve biele policka nam ostavaju \’visiet vo vzduchu\’.prist na odpoved po b), alebo aspon nieco, co povazujem za odpoved, mi dalo viac prace.:-) ale hovorim, ze v tomto pripade tiez nie je mozne sachovnicu pokryt: \’pozdlzne\’ tromina mozu byt dvoch typov: bud pokryvaju policka \’biele-cierne-biele\'(BCB) alebo \’cierne-biele-cierne\'(CBC). ak tych prvych bude v pokryti x a tych druhych y, tak sa z podmienok, ze vsetkych bielych policok je 40 a vsetkych ciernych 38, da zistit, ze ak tromina maju sachovnicu pokryvat, musi ich byt 14 typu BCB a 12 typu CBC. no a teraz klucova vec: ak si to clovek dobre rozmysli (dufam, ze som si to rozmyslela naozaj dobre 🙂 ), cez vsetky policka trominami vyplenenej sachovnice by sa malo dat po trominach(t.j. iba horizontalnymi, resp. vertikalnymi pohybmi) poprechadzat. prechadzka po tromine vyzera tak, ze z jedneho jeho konca prejdeme na druhy a tam pokracujeme na susedne policko, ktore je krajnym polickom dalsieho tromina. navyse, zda sa mi, ze by mala existovat cesta, na ktorej sa tromina budu striedat: BCB(zaciname v lavom hornom rohu), CBC, BCB,… to vsak pri pocte 14 BCB a len 12 CBC tromin nie je mozne dosiahnut. viem, ze som tu pouzila vela nematematickych \’zda sa mi\’, ale vie to niekto zdovodnit sofistikovanejsie, ako len \’it\’s easy to see\’ ( a tentokrat doslova)? o odpoved c) sa uz v tejto nocnej dobe nepokusam, aj ked by som si tipla, ze to bude zas \’nie\’.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s