Belajar Optimis dan Rendah Hati dari Pengalaman JYJ


Tahukah Anda JYJ? Itu lho boyband korea pecahan dari DBSK (eh saya juga baru tahu belakangan ini gara-gara konfliknya dengan manajemen kenamaan di korea SM-Entertainment).

Boyband ini merupakan singkatan dari Junsu, Yoochun (pemain utama Sungkyunkwan) dan Jae-joong yang memilih keluar dari group yang membesarkan namanya yaitu DBSK dan membuat group baru JYJ. Alasan klasik yang memang sering kita dengar dari beberapa kasus sebelumnya yaitu kontrak budak dan tidak transparannya pembagian honor.

Namun, masalah yang mereka hadapi tidak berhenti sampai disitu. Pihak SM-Entertainment ternyata masih menghambat karir mereka dengan membuat beberapa stasiun televisi di Korea untuk melakukan pencekalan yang masih terjadi sampai saat ini (acara Lee Sang Ho’s Palm News).

Berkat ketekunan dan kerja keras mereka, pencekalan yang dilakukanpun tidak mematahkan semangat mereka untuk maju. Ini yang harus ditiru oleh semua orang bahwa ketika Anda sedang berada di masa yang sulit, harapan dan kesempatan untuk bangkit dan maju itu selalu ada.

Meski jalan yang ditempuh cukup berat untuk memulai dari awal lagi, tapi mereka membuktikan bahwa mereka bisa. Kalo JYJ aja bisa bangkit lagi, kenapa kita enggak?.

Akan tetapi, yang perlu dipelajari disini juga perihal kerendahan hati. Tragedi pembatalan konser yang sejatinya diadakan 9 April 2011 lalu di Sentul International Convention Center, mengingatkan saya kembali akan ilmu padi yaitu semakin berisi semakin merunduk. Saya rasa kejadian ini sebagai bentuk keegoisan pihak manajemen mereka yang meminta tambahan biaya yang sebenarnya tidak ada dalam kontrak juga permintaan secara tiba-tiba yang tidak mampu dipenuhi promotor Indonesia.

Sebagai orang Indonesia, saya sangat setuju dengan sikap promotor  DreamCatcher Indonesia yang tidak menyetujui permintaan berlebihan tersebut meskipun berdampak dengan tragedi pembatalan konser.

Sebagai informasi, pembatalan ini bukan hanya terjadi di Indonesia namun juga di Singapura. Adapun tahun lalu, pihak promotor di Malaysia juga tidak puas dan mengatakan manajemen CJES bersikap tidak responsif.

Ini mungkin catatan penting bagi Anda yang sudah mulai mampu bangkit untuk maju untuk tidak lupa diri terhadap diri Anda sekarang. Karena kejayaan itu tidak permanen hanya temporer. Tak perlulah melakukan manuver-manuver berlebihan. Dalam hal ini tentu saja selain promotor, pihak yang dirugikan adalah JYJ dan penggemarnya sendiri. Berdampak ke banyak orang bukan?

Tentang andihendra

Andi hendra paluseri adalah perantau asal medan yang menyelesaikan pendidikannya S1 di ITB jurusan teknik elektro (Tenaga Listrik).
Pos ini dipublikasikan di pengalaman di ITB. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s