Berfikir : Bagaimana Menghadapi Masalah Pembebasan Lahan di Indonesia?


Saat ini, Pembebasan lahan menjadi bagian yang paling menyulitkan dalam pembuatan infrastruktur di Indonesia. Meski si kepala proyek telah mencari-cari daerah yang bisa dikatakan tempat ‘jin buang anak’ pasti akan ada saja ‘penduduk jadi-jadian’ yang akhirnya minta agar lahannya dikompensasi karena terkena proyek tersebut.

Selain ‘penduduk jadi-jadian’, tingkah ‘raja-raja kecil’ yang juga tak kalah rusaknya membuat proses pelaksanaan suatu proyek berjalan tidak sebagaimana mestinya. Merekapun terpaksa harus ‘dijamu’ keinginan-keinginan yang pastinya menambah budget dari sebuah proyek.

Ketika saya kuliah dulu, petinggi perusahaan listrik negara mengesalkan sikap masyarakat suatu tempat yang bukannya membantu perusahaan tersebut untuk membangun jaringan listrik di tempat mereka dengan mudah dan cepat, malah secara ‘berjamaah’ mempersulit pembebasan lahan mereka dengan harga yang sangat tidak wajar. Terlebih lagi, dalam kasus ini banyak ‘mafia tanah’ yang terlibat ternyata.

Kalau hal ini dibiarkan berlarut-larut, tentunya akan mempengaruhi minat investor baik luar maupun dalam negeri untuk berinvestasi di Indonesia hanya karena ‘budaya’ rumitnya pembebasan lahan. Dampaknya, tentu saja tak akan ada namanya pembangunan dan perkembangan di Indonesia.

Memang pemerintah juga tidak boleh zhalim merampas tanah milik rakyatnya. Namun, rakyatpun harus sadar bahwa ‘mengambil untung di tengah kesukaran’ dalam proyek pembangunan adalah hal yang hina. Pemerintah tidak boleh bengis, masyarakatpun tidak boleh egois. Toh nantinya, manfaat pembangunan itu untuk mereka rasakan sendiri.

Lalu bagaimana solusinya?

Undang-Undang Pembebasan Lahan yang baru disahkan pada 15 Desember lalu  cukup menjadi angin segar bagi masa depan pembangunan Indonesia. Namun, apakah pelaksanaannya akan mudah? saya kira tidak.

Terlebih-lebih, beberapa media di Indonesia yang sangat terkenal ‘kampungan dan berlebihan’ sering menjadikannya kesempatan untuk memblow-up masalah dan membuat isu hangat yang pada akhirnya membuat komentar-komentar buta mengalir di masyarakat. Ujung-ujungnya, pemerintah ngalah, pembangunan terhambat, Indonesia tertinggal!.

Menurut saya, penyakit yang harus disembuhkan pertama kali adalah penyakit ‘kampungan dan berlebihan’ media media di Indonesia, dengan membuat kesepakatan bahwa isu sensitif yang berkaitan dengan kepentingan publik atau negara tidak boleh sembarang dipublikasikan. Apakah hal ini mengebiri pers di Indonesia?. Tentu tidak! pers juga harus sadar bahwa mempermainkan isu sensitif seperti ini sama saja seperti mempermainkan negara. Mungkin pers Indonesia perlu ‘studi banding’ ke negara-negara tetangga tentang bagaimana mereka membantu pemerintah dalam pembangunan bangsa.

Penyakit kedua yang paralel harus disembuhkan adalah penyakit ‘mabuk’ yang dialami oleh beberapa oknum yang menjadikan pembebasan lahan sebagai proyek mengambil keuntungan. LSM-LSM yang mengatasnamakan kepentingan rakyat yang sering menjadikan perkara pembebasan lahan ini sebagai proyek sampingan tentunya harus ‘divaksinasi’, agar ‘rabies’ yang mereka miliki tidak menyebar dan menular ke penduduk.

Penyakit terakhir yang tak kalah kritisnya dan kalau memang sangat akut sebaiknya diamputasi adalah penyakit ‘raja-raja kecil’. Penyakit yang sudah mulai mekar di Indonesia sebagai akibat negatif adanya desentralisasi yang belum matang, tentunya menjadi masalah umum di era reformasi. Raja-raja kecil itu seharusnya sadar bahwa dengan adanya pembangunan, daerah mereka akan lebih maju dan perekonomian disana lebih berkembang. Bukannya malah mempersulit pembangunan dengan meminta ‘upeti-upeti’.

Ketika ketiga penyakit diatas sudah mampu diatasi, Pemerintah memberikan pencerdasan ke masyarakat guna bersedia mendukung pembangunan di Indonesia dengan bersedia membebaskan lahan miliknya dengan harga wajar tanpa mark-up yang kelewatan.

Kalau semua sudah sinkron disaat Pemerintah (lokal maupun pusat) semangat, media mendukung dan rakyat membantu, maka dapatlah kita semua bermimpi untuk pembangunan dan perkembangan Indonesia. Namun, kalau masih gontok-gontokan seperti sekarang, mimpi Indonesia maju-pun saya tak berani.

Iklan

Tentang andihendra

Andi hendra paluseri adalah perantau asal medan yang menyelesaikan pendidikannya S1 di ITB jurusan teknik elektro (Tenaga Listrik).
Pos ini dipublikasikan di pengalaman di ITB. Tandai permalink.

7 Balasan ke Berfikir : Bagaimana Menghadapi Masalah Pembebasan Lahan di Indonesia?

  1. Ionut berkata:

    wow… amazing pic!!! it doesn\’t look like water… what is it??? and nice to see that u have potesd something other than astronomy 🙂 and don\’t forget astronomy… you are good at it…

  2. theloenkz berkata:

    yup, raja2 kecil itu mesti diberikan pengertian juga… tidak selamanya investor itu jahat…hehe

  3. Rizka berkata:

    Itu header-nya kurang satu….
    hehehe

    #komen gak mutu nih gw

    • andihendra berkata:

      haha.. iya iya.. abis gak ada fotografer lain sih..

    • Cassinette berkata:

      great interview and i like you even more now… you have great vibe aronud you and i can feel it reading this… and good luck with all your projects and i for sure will get myself a copy of your SKetchbook and also The Ginger Marmalade Toastmeister, i’m totally addicted to children’s literature and i don’t doubt your story will be a masterpiece… you also mention that you would like to direct the movie… well i find that idea great… with your visual gift i think it would be really great… btw which is your favourite movie? and which one you find most beautiful (i mean in visual way… for me the fall was one of most beautiful movies i’ve ever seen)greetings from sunny zagreb 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s