Unjuk Rasa tidak akan Pernah Bermanfaat


Di Indonesia ini, sudah pernah terjadi 2 kali Unjuk Rasa besar yang mampu menumbangkan rezim yang tiran. Sebut saja tahun 1966 yang mendesak Soekarno untuk turun dari kursi empuknya dan 1998 terjadi hal serupa dengan Soeharto. Mungkin istilah ‘kebebasan semu’ yang memang sedang dicari banyak orang. Tapi terlepas dari semua itu, marilah berfikir, apakah semuanya itu bermanfaat? terutama semakin kesini unjuk rasa juga sudah menjadi ‘bisnis’ menjanjikan bagi banyak orang untuk menjatuhkan saingan dan lawan politiknya.

Sebagai umat Muhammad bin Abdullah, marilah kita belajar darinya tentang bagaimana mengaspirasikan suara. Bila pemerintahannya muslim, maka yang terlebih dahulu diutamakan adalah sami’na wa athona namun bila memang dirasa melanggar al-quran dan ‘sunnah’ maka wajib mengingatkan pemimpinnya untuk kembali ke dua perkara tersebut. Mengingatkannya-pun dengan cara yang baik. Kalau bisa anonim, independen dan rahasia.

Namun bila pemerintahannya non-muslim, coba lihat apa yang dilakukan nabi saat di Mekkah dulu. Meski ada ‘entitas’ resmi yang mengatur kota Mekkah bernama Darun-nadwah yang dipimpin oleh Abu Jahal saat itu, beliau memilih untuk tidak bergabung dengannya. Mungkin hal ini bisa menjadi bahan renungan kita bersama.

Andai Rasulullah mau melakukan kegiatan unjuk rasa menentang kesewenang-wenangan, mungkin hampir semua orang Makkah akan serempak ikut mendukungnya melakukan aksi unjuk rasa karena memang Rasulullah dikenal sebagai sosok Al-Amin (yang dipercaya) sekalipun oleh para musuhnya. Ini juga bisa menjadi renungan.

Intinya dari seluruh unjuk rasa yang ada, tidak ada satupun yang menghasilkan manfaat nyata terkait kesejahteraan masyarakat. Apalagi sekarang sudah banyak ‘demo-demo pesanan’ yang memang sengaja dibuat untuk menghancurkan bangsa ini. Cara yang terbaik dan jua benar adalah cara Rasulullah, semua umat muslim percaya itu. Mari kembali ke Sunnah yang dicontohkan oleh manusia panutan kita.

Iklan

Tentang andihendra

Andi hendra paluseri adalah perantau asal medan yang menyelesaikan pendidikannya S1 di ITB jurusan teknik elektro (Tenaga Listrik).
Pos ini dipublikasikan di pengalaman di ITB. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s