(Lagi:) Menggunakan Istilah-istilah Medan


Kemarin saya bertemu dengan beberapa teman SMP Negeri 18 Medan (alumni 2004) yang sudah menetap di daerah Jakarta. Plaza Semanggi sebagai ditentukan sebagai tempat kami bertemu. Ternyata semuanya adalah alumni kelas 3-1 yang sama-sama berasal dari kelas 1-2.

Nah, hal yang lumrah ketika berkumpul dengan teman-teman lama adalah memorizing kisah-kisah konyol waktu 7 tahun silam. Waduh ternyata saya dulu orangnya sangat polos sekali (sekarang juga masih kok :D).

Ada guru SMP yang menghukum dengan menggunakan jarum lah (seriusan!), ada teman yang minum topi miring waktu sedang belajar di kelas, sekolah yang terkenal sbg sekolah ‘terbanyak muridnya’ saat itu (kalo gak salah ada 42 kelas waktu itu) dan berbagai peristiwa konyol bin edan yang kalo diceritakan lagi dijamin mengundang tawa membahana.

Nah, pada moment itu ada satu hal yang saya rasakan. Istilah Medan akhirnya dipakai kembali (setelah sekian lama). Contoh beberapa istilah ;

1. Acem = Bagaimana, gimana

2. Nokoh = Menipu

3. Palak = Emosi

dll.

Istilah-istilah itu yang sebenarnya menjadi pembeda utama(Al-Furqon, make bahasa2 Quran awak) antara orang Medan dan non-Medan. Bukanlah nada huruf ‘e’ tekan seperti ‘hebat’ ‘heran’ dll. Tapi kebanyakan orang menyangka bahwa semua orang Medan membaca ‘e’ tekan untuk seluruh huruf e.  Meskipun hal ini memang tidak seluruhnya salah.

Pernah suatu ketika, pada Juli 2007 lalu saat penulis sedang daftar ulang di STT Telkom DaeyehKolot, mencari angkot yang bertuliskan ‘Mengger’ dari Kalapa. Karena menurut penulis kata ‘Mengger’ tersebut paling pas kalo dibaca dengan ‘e’ tekan maka penulis menggunakannya, dan alhasil orang-orang pada tidak mengetahuinya. Setelah akhirnya mengerti bahwa ‘e’ itu ternyata menggunakan ‘e’ lemah maka orang-orang disana pada tertawa. -_-‘

Balik ke topik semula. Di Medan, kata sapa penunjuk orang itu ada dua, ‘Aku’ dan Kau. ‘Aku’ sering juga digantikan dengan kata ‘awak’. Namun kata sapa penunjuk orang yang lain jarang digunakan seperti ‘kamu’,’kowe’,’aing’. Bahkan jangan coba-coba menggunakan ‘Elu’ dan ‘Gw’ di Medan. Kedua istilah ini masih dianggap tabu dan haram untuk digunakan disana. Yah, agar tidak disangka sebagai orang sok kota Jakarte kali ye…

Tentang andihendra

Andi hendra paluseri adalah perantau asal medan yang menyelesaikan pendidikannya S1 di ITB jurusan teknik elektro (Tenaga Listrik).
Pos ini dipublikasikan di pengalaman di ITB. Tandai permalink.

Satu Balasan ke (Lagi:) Menggunakan Istilah-istilah Medan

  1. Quareeblahi berkata:

    Can I merely say what a aid to seek out soomnee who definitely is aware of what theyre speaking about around the internet. You definitely know learn how you can carry a problem to light and make it important. Extra individuals have to learn this and perceive this aspect from the story. I cant believe youre not much more well-liked since you undoubtedly hold the gift.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s