Si Biru dan Negeri Multiwarna


Saat ini, negeri multiwarna digoncang ‘gempa’ super hebat. Goncangan yang dikarenakan orang-orang biru ternyata saling menyalahkan satu sama lainnya. Padahal tetua suku biru ini sudah berusaha mendapatkan bayi-bayi biru baru sebanyak-banyaknya.

Adalah harta rampasan penyebabnya. Harta itu dinikmati bukan hanya suku biru tapi semua suku-suku yang lain. Yang kasihan sih suku non-warna yang jumlahnya paling banyak di negara tersebut. Mereka cuma dijadikan sapi perahan dan domba aduan para suku-suku ini.

Kembali ke cerita suku biru. Banyaknya jumlah bayi-bayi baru yang mereka miliki membuat penduduknya semakin banyak. Namun ternyata bayi-bayi tersebut kurang dibentuk kekompakannya dan kedewasaanya. Jadilah ketika ada masalah besar ini, orang-orang di suku biru kocar kacir. Saling tuduh menuduh dan cuci tangan.

Beda dengan suku merah, meski juga tidak terjamin bebas dari mengambil harta rampasan, namun kekompakan orang-orangnya tinggi sekali. Yah karena mereka diikat dengan satu ikatan ideologi. Namanya ideologi Merah. Kalau misalnya ada satu yang hampir ‘ketahuan’, mereka saling melindungi. Kalaupun ada yang terungkap, orang merah yang bersangkutan tidak akan menyeret-nyeret orang lain (meski sebenarnya otak dibalik itu semua tidak ditangkap).

Satu hal yang pantas disaluti dengan orang merah ini adalah kaderisasinya yang baik jadi ideologi merah itu mampu meresap ke orang-orang merah. Beda dengan orang-orang biru yang terkesan ‘karbitan’ meski jumlahnya lebih banyak dibandingkan suku warna lainnya.

Ada suku lain juga, suku putih. Suku ini bergerak dibawah tanah. Sebenarnya suku merah itu juga ada yang bergerak dibawah tanah. Pertentangan besar terjadi antara keduanya. Saling pengaruh mempengaruhi, cuci mencuci otak bagaikan timur dan barat terjadi. Perperangan opini yang jauh lebih dahsyat dampaknya menjadikan suku nonwarna sebagai objek sasaran mereka. Adapun tujuan suku putih ini tergolong baik. Mereka ingin menjadikan kewajiban hampir semua suku berjalan sehingga akan muncul apa yang disebut sebagai keselamatan di negara multiwarna itu.

Sementara itu, diluar suku ini ada suku-suku lain yang terkesan lugu. Suku biru,  kuning, hijau dan lainnya berperang di medan terbuka dan menjadi cibiran suku nonwarna. Sedangkan diluar itu, terjadi peperangan yang lebih besar di medan tertutup yang tidak disadari suku nonwarna. Peperangan ini akan terasa bila orang-orang pergi ke perpustakaan , forum diskusi dan debat.

Orang-orang nonwarnapun sekarang cenderung terpecah menjadi simpatisan dua warna. Warna merah dan putih. Dan orang-orang biru, kuning, hijaupun masih terperosok dalam film semu yang sedang mereka mainkan.

-hanyalah pemerhati warna-

Iklan

Tentang andihendra

Andi hendra paluseri adalah perantau asal medan yang menyelesaikan pendidikannya S1 di ITB jurusan teknik elektro (Tenaga Listrik).
Pos ini dipublikasikan di pengalaman di ITB. Tandai permalink.

3 Balasan ke Si Biru dan Negeri Multiwarna

  1. Insurance berkata:

    Never seen a better post! ICOCBW

  2. Essie berkata:

    All of these articles have saved me a lot of heaeachds.

  3. Yusuf Abdac berkata:

    Haha… Ngerti… ngerti… Istilah yang bagus… Gw tambahin ya?
    “Hanya background warna putih yang dapat menyatukan setiap warna menjadi warna warni. Karena saat semua warna bersatu, tanpa putih hanya akan menjadi hitam.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s