Ibu Penjual di Jalan Kidang Pananjung


Sejak tingkat 2, Jalan Kidang Pananjung adalah jalan yang biasa saya lalui menuju kampus karena saat itu temporary address sudah berubah menjadi Asrama Kidang Pananjung dari sebelumnya di Cisitu Lama IX.

Saat melalui jalan itu, orang-orang pasti mendapati seorang Ibu (kadang Bapak2) yang mengemis, Ibu penjual yang sudah berusia lanjut, para pencukur rambut dan tempat reparasi alat-alat elektronik yang rusak.

Nah, awalnya tidak begitu tertarik dengan barang dagangan Ibu Penjual tersebut karena dagangannya berupa bahan masak yang tentu saja tidak pernah saya gunakan (boro-boro masak, menyetrika aja susah :D). Akan tetapi, saat keesokannya Ibu tersebut menambahkan aneka buah dan roti di barang dagangannya, saya mulai berniat untuk membeli.
Si Ibu sedang merapikan Barang Dagangannya

Jadilah, saya pelanggan tetapnya sehingga saat lewat selalu ditawari untuk membeli buah (pepaya adalah favorit saya) dan roti yang beliau jajakan. Dan kami semakin akrab.

Karena sepengetahuan dan sepenglihatan saya, dagangan beliau kurang begitu laku maka suatu ketika saya memberanikan diri untuk bertanya, dan jawabnya ‘Yah, Den (panggilan Den, rasanya berlebihan menurut saya) rezeki itu datangnya dari Allah, saya hanya berusaha disini. Yah kalau dapet Alhamdulillah, kalau enggak yah Alhamdulillah juga’.

Cessss…. langsung merintih batin saya, beliau yang sudah tua renta masih memiliki semangat hidup dan istiqomah yang kuat, sedangkan saya mendapatkan cobaan yang tidak ada apa-apanya aja, sering mengeluh.
Hal seperti ini yang harus ditiru.

Barang Dagangan

Meskipun tidak begitu membutuhkan barang dagangan yang beliau jual, saya sering menyempatkan diri untuk membeli. Kalau memang tidak selera, misalnya roti atau kerupuk, saya akan membagikannya ke teman-teman di Lab SCADA ITB ataupun di kosan.

Kalau tidak begitu terburu-buru, saya sempatkan ngobrol dengan beliau terutama mengenai kehidupannya. Ternyata beliau hidup sendiri di Bandung dengan menyewa kamar yang saya yakin cukup kecil. Setiap pagi selalu membawa keranjang-keranjang yang cukup besar satu persatu ke tempat dagangnya di areal pos RT setempat. Hmm, meskipun beliau mempunyai anak di kota lain tapi ada keinginan untuk tidak ingin menyusahkan anak-anaknya. Terkadang pergi ke rumah anak untuk memberikan oleh-oleh bagi cucu-cucunya.

Setiap akan kuliah atau mengikuti tes kerja/s-2 saya selalu meminta Ibu ini untuk mendoakan saya. Alhamdulillah doa-doanya banyak yang terkabul.

Yah, beginilah perjuangan hidup seorang Ibu dhuafa yang masih memiliki semangat hidup. Semangat yang tidak ingin dikasihani. Mengais rizki dengan berjualan semampunya. Saya yang masih muda belajar tentang semangat berjuang darinya. Terima kasih Ibu yang saya belum tahu namanya.

Iklan

Tentang andihendra

Andi hendra paluseri adalah perantau asal medan yang menyelesaikan pendidikannya S1 di ITB jurusan teknik elektro (Tenaga Listrik).
Pos ini dipublikasikan di pengalaman di ITB. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Ibu Penjual di Jalan Kidang Pananjung

  1. adhi tbk berkata:

    Iya saya ingat ibu tua ini. Dulu sekali pas msh kuliah s1 di awal 2000an, pernah ngeliat si ibu mengemis, bedanya si ibu mobile, sdgkn ibu yg 1nya lbh sering terlihat duduk2 d ujung jalan gang menuju kidang pananjung. Bbrp waktu lalu pas mampir k tizi, si ibu yg dulunya ngemis mobile skrg malah berjualan, salut bu !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s