Memberdayakan Kaum TUNAWISMA dengan Program ‘Indonesia Bebas Tunawisma’


Setiap akan berangkat dan pulang kerja menyusuri Jln Thamrin, melewati Jembatan Sarinah terkadang Jembatan HI, pemandangan para tunawisma yang meminta-minta menjadi hal biasa. Mereka duduk terpaku menengadahkan tangan dan paling miris bila membawa anak bayi besertanya (entah itu anak mereka atau bukan). Sekali, dua kali, tiga kali dan berkali-kali akhirnya pikiran ini mulai bertanya ‘Bagaimana peran Dinas Sosial untuk mengatasi masalah ini?’, meski berat dan rumit tapi akan menjadi kebanggaan besar bagi dinas Sosial bila suatu saat terwujud ‘Indonesia Bebas Tuna Wisma’.

Bukan berarti program ‘Indonesia Bebas Tunawisma’ ini mengusir mereka ke tengah laut (kayak kate-kate orang ‘kelaut aje lu’) atau bahkan megenosida mereka, bukan! bukan itu!. Maksudnya tidak ada lagi mereka yang tidak memiliki tempat untuk berteduh. Caranya gimana?. Nah, tadi saya baru kepikiran. Kan Pemerintah sangat konsen terhadap penjagaan pulau-pulau terluar Indonesia tuh. Mereka (Para Tunawisma) yang ditangkap, dikumpulin lalu dikapalkan, dikirim ke Pulau terluar aja.

Eh bukan berarti dibuang begitu saja lho. Di Pulau terluar itu dibangun seperti barak penampungan gitu (awalnya doang), lalu tiap mereka diberikan tugas-tugas tertentu sesuai dengan keahlian mereka masing-masing (saya ahli tidur, bukan berarti tugas saya tidur melulu dan saya juga bukan tunawisma). Gak masalah kalau mereka cuma bisa menyapu, yah kerjaan mereka menyapu (tapi kalau menyapu seluruh pulau berat juga kayaknya).

Adapun untuk administrasi pemerintahannya, beberapa pegawai negeri yang magabut sebaiknya dikirimkan kesana untuk mengatur dan memberdayakan mereka. Intinya membuat komunitas baru dan bersih. Siapa tahu suatu saat dari komunitas-komunitas tersebut muncul anak-anak berprestasi bangsa, muncul tokoh-tokoh politik bangsa yang bijaksana. Oh iya, pns pns muda juga sebaiknya ditempatkan disana agar ‘virus’ laten tidak langsung menggerogoti mereka sehingga idealitaspun masih tetap terjaga dan terpelihara.

Gimana? Seharusnya Pemerintah lebih memilih program ini daripada memberikan subsidi bbm. Dan kalaupun gak sanggup, rakyat dengan mudah dapat membantu karena tujuannya jelas.

Iklan

Tentang andihendra

andi hendra paluseri adalahperantau asal medan yang menyelesaikan pendidikannya S1 di ITB jurusan teknik elektro (Tenaga Listrik).
Pos ini dipublikasikan di pengalaman di ITB. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s