Analogi Kenaikan Harga Minyak dengan Kenaikan Biaya Kuliah di ITB


Saat di masih berkuliah, ada beberapa teman yang mempertanyakan kenaikan biaya kuliah pertahunnya. Dengan semakin meningkatnya biaya kuliah dianggap menghalangi peluang anak-anak yang kurang mampu untuk mengenyam bangku pendidikan di ITB. Hal ini sama seperti kenaikan BBM, dengan naiknya harga tersebut dianggap rakyat kecil akan ditinggalkan begitu saja.

Padahal kenaikan biaya kuliah tersebut sebagai subsidi silang yang diberikan oleh orang-orang mampu kepada mereka yang kurang mampu agar dana yang sangat besar yang dikucurkan oleh pemerintah untuk membantu pendidikan tidak salah sasaran. Kalau mampu, yah harus bayar lebih! , kalau tidak mampu, akan dikasih keringanan!. Lihat saja sekarang betapa banyak jenis beasiswa yang bisa dinikmati oleh mereka yang kurang mampu. Begitu juga dengan kenaikan bbm, dinaikkan untuk ‘meluruskan’ sasaran penerima yang sebelumnya telah menyimpang. Kalau sudah naik, bentuk pelurusannya dengan memberikan santunan yang bersifat sementara. Harapannya dengan santunan sementara itu mereka dapat meningkatkan taraf hidupnya.

Beberapa hari kemudian, teman sayapun bertanya lagi tentang kenaikan biaya kuliah tersebut “sekarang masih keadaan susah, mengapa harus sekarang kenaikannya, kasihan junior-junior kita!”. Kalau tidak sekarang mau kapan lagi? biaya yang dibutuhkan untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar juga semakin meningkat, kalau ditahan terus, bisa-bisa suatu saat ketika biayanya sudah sangat tinggi lalu kampus tidak mampu lagi melaksanakan kegiatan belajar mengajar, biaya pendidikan dinaikkan secara drastis dan malah membuat orang mati berdiri.

Maka dibuatlah kenaikan secara bertahap tujuannya agar orang tidak terjadi perubahan besar yang malah akan membuat pendidikan berantakan.

Lalu teman lain menimpali “lha, sebenarnya kan uang kita itu udah cukup buat beli spidol ama bayar listrik, berarti kampus untung dong, udahlah gak usah macem2, buat murah aja biaya kuliahnya”. Kuliah bukan hanya sekedar spidol dan listrik doang. Masih banyak pos-pos lain yang harus diisi dengan duit. infrastruktur (Gedung), kesehatan (Bumi Medika) dan lain-lain yang juga layak mendapatkan anggaran. Nah, itu juga yang terjadi dengan kenaikan bbm.Ada pos-pos lain yang lebih berhak untuk mendapatkan anggaran bahkan multiplier effect bisa diperoleh seperti pembangunan infrastruktur dll. Ada seorang mantan menteri yang idenya menghambur-hamburkan pendapatan dari minyak tanpa perlu pandang bulu. Ibaratnya kayak ngasi beasiswa bantuan mandiri (BBM) yang tujuannya untuk orang kurang mampu namun yang dapat sebagian besar malah orang kaya.

Tapi ada beberapa hal juga yang harus dipersiapkan ketika kenaikan biaya kuliah. Pertama, Lurah mahasiswa yang bersangkutan harus paham benar dengan kondisi mahasiswa. Jangan hanya karena status orangtuanya PNS lalu gak diberi SKTM. Begitu pula dengan kenaikan harga bbm, lurah/camat harus benar-benar bijak dalam memberikan rekomendasi penerima santunan sementara tanpa perlu mengurangi isi amplop yang akan mereka terima.

Iklan

Tentang andihendra

andi hendra paluseri adalahperantau asal medan yang menyelesaikan pendidikannya S1 di ITB jurusan teknik elektro (Tenaga Listrik) dan saat ini sedang menempuh pendidikan S2 Ilmu Hukum di Universitas Jayabaya.
Pos ini dipublikasikan di pengalaman di ITB. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Analogi Kenaikan Harga Minyak dengan Kenaikan Biaya Kuliah di ITB

  1. Redrik berkata:

    What a pleasure to find someone who ideenifits the issues so clearly

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s