Oposisi di Indonesia


Dimana-mana yang namanya oposisi itu adalah pihak yang mengkritisi program pemerintah agar pelaksanaanya berjalan dengan benar. Namun di negeri ini, fenomenanya dikaburkan luar biasa. Bukan lagi untuk mengkritisi tapi tampaknya mencari-cari kesalahan dan menjelek-jelekan program yang sudah direncanakan dengan baik.

Contohnya saja rencana redenominasi uang rupiah. Padahal tidak ada efek besar yang muncul kalau redenominasi ini terjadi. Tapi ada seseorang tokoh yang membesar-besarkan sambil menyindir program dengan sindiran yang amat sangat tak terpelajar dan kekanakan.

Coba lihat Barack Obama dan Hillary Clinton (saya bukan pendukung sistem mereka, hanya saja ada pelajaran berharga disini). Saat kampanye, luar biasa pertarungan image yang mereka lakukan tapi setelah Obama dinyatakan menang, saat itu juga Hillary mengakui kekalahannya dan bersedia membantu pemerintahan Obama tersebut.

Coba di Indonesia! saling jelek menjelekkan menjadi tontonan utama masyarakat saat kampanye sampai akhir penentuan pun masih ada muncul isu penggelembungan suara dll yang akhirnya bukannya mengakui kekalahan malahan ‘pundung’, tak mau bersalaman (alhamdulillah kalau ini mah, bukan muhrim kan hukumnya) apalagi bertatap muka.

Lihat Hillary! saat itu juga dia bersedia membantu Obama menjalankan pemerintahan menjadi menteri luar negeri (sekali lagi saya tegaskan, saya bukan pendukung negara ini, amit-amit deh). Coba kalau di Indonesia, kalah yah berarti oposisi dan tidak boleh ada kadernya yang menduduki posisi menteri. Mungkin saja diantara kadernya tersebut ada putra/putri bangsa yang memiliki talenta luar biasa untuk mengelola bangsa ini. Tapi yah beginilah oposisi.

Oposisi yang unik dan satu-satunya di dunia.

Iklan

Tentang andihendra

Andi hendra paluseri adalah perantau asal medan yang menyelesaikan pendidikannya S1 di ITB jurusan teknik elektro (Tenaga Listrik).
Pos ini dipublikasikan di pengalaman di ITB. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Oposisi di Indonesia

  1. lareangon berkata:

    betul betul betul, demikianlah, dinegeri ini pemahamannya kurang substansial. Pola pikir prosedural dalam segala hal, termasuk berdemokrasi. Bukankah DPR memang seharusnya adalah oposan (dalam pengertian positif) terhadap pemerintah. Lha disini ada partai (kok pendukung), dan yang lain oposisi. Belum apa apa sudah berposisi mendukung. Sial memang, giliran ada partai mengambil posisi yang seharusnya (oposisi) namun lebih didasari oleh karena sakit hati (kalah).
    Yang anda ambil contoh sangat baik, nyata dan efektif, negara adidaya, barometer demkorasi dunia, amerika (Obama vs Hillary), cuma jadi blungker ‘hanya’ kenapa anda ‘harus’ menegaskan bahwa anda bukan pendukung (kok tampaknya anti AS, sementara disisi lain harus kagum, karena kenyataannya tak ada negara lain yang lebih demokratis dan pemimpin2nya elegan dibanding negara yang manapun)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s