Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (1)


Sampah yang menghasilkan listrik adalah sampah organik. Pada umumnya sampah perkotaan memiliki komposisi 70% organik : 30% anorganik. Ada beberapa teknologi yang dilakukan untuk menghasilkan listrik, yaitu :

1. Sanitary Landfill

Sanitary Landfill adalah metode mengambil gas dari deposit-deposit sampah yang sudah diletakkan cukup lama. Adapun gas tersebut sebagian besar mengandung Methana dan Karbondioksida sebesar 99%, sedangkan sisanya adalah N2, O2 dll. Gas yang digunakan sebagai fuel engine diesel adalah gas methana tersebut. Teknologi ini sangat cocok diterapkan untuk pembangkitan listrik pada TPA yang mempunyai deposit sampah sangat besar dan sudah cukup lama.

2. Incenerator

Incenerator adalah teknologi pembakaran sampah pada suhu 800-900 derajat celcius untuk menghilangkan senyawa racun dioxin dan menghasilkan thermal yang akan diubah menjadi listrik. Teknologi ini sudah banyak digunakan di negara-negara maju dan dilengkapi dengan sistem kontrol yang baik. Sisa hasil pembakaran akan menjadi debu/pasir sebesar 5% volume semula. Debu/pasir ini juga dapat dimanfaatkan untuk bangunan rumah. Bahkan di Singapura, debu/pasir dari hasil incenerator digunakan untuk membangun pulau baru. Namun investasi yang cukup besar membuat para investor terutama di Indonesia harus berfikir kembali untuk menerapkannya.

3. Anaerob Landfill

Hampir sama dengan sanitary landfill, namun sampah yang digunakan tergolong sampah baru sehingga diperlukan bantuan mikroorganisme/bakteri untuk proses pembusukan sampah ini.

Adapun untuk rule of thumbs yang paling konservatif terhadap energi listrik dari pengolahan sampah adalah 1 ton sampah perhari setara dengan kapasitas listrik 10 kw atau energi listrik 240 kwh/hari. Sehingga dapat dihitung dengan mudah bila di Bantargebang sampah campuran yang dibuang sekitar 6 ribu ton/hari maka kapasitas listrik yang dapat dibangun sekitar =6 ribu x 10 kw = 60.000 kw = 60 MW. Kapasitas yang cukup besar dan dapat digunakan untuk melistriki sekitar 40.000 rumah penduduk.

Bayangin kalau di tiap daerah dibangun PLTSa, sepertinya tidak akan ada lagi krisis listrik karena sudah dapat ‘disembuhkan’ dengan ‘obat’ Pembangkit Listrik Tenaga Sampah ini.

Iklan

Tentang andihendra

andi hendra paluseri adalahperantau asal medan yang menyelesaikan pendidikannya S1 di ITB jurusan teknik elektro (Tenaga Listrik).
Pos ini dipublikasikan di pengalaman di ITB. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s