Pertamina Harus Jadi Pelopor Pembangunan Energi Terbarukan


Pemerintah diminta membentuk badan usaha yang fokus mengembangkan energi terbarukan dan segera mengakhiri wacana tentang pengembangan energi alternatif yang selama ini didengung-dengungkan. Pertamina dinilai sebagai badan usaha negara yang layak menjadi embrio dan pelopor pembangunan energi terbarukan.

Bidang usaha itu sekaligus mengantisipasi keberlangsungan bisnis Pertamina ketika 20 tahun ke depan cadangan minyak Indonesia sudah habis. Peneliti pada Pusat Studi Energi UGM Yogyakarta, Sudiartono, mengemukakan selama ini wacana energi terbarukan sebagai pengganti bahan bakar fosil sangat minim realisasinya.

Pemerintah tidak pernah membuat langkah kecil yang berarti bagi pelaksanaan pengembangan energi terbarukan. “Pemerintah hanya terus berwacana. Kita ini hanya gemar konsumsi tapi produksinya lemah. Sekarang menguras perut bumi, selanjutnya bagaimana, tidak dipikirkan,” kata Sudiartono ketika dihubungi, Selasa (5/6).

Perusahaan minyak negara Pertamina, menurut Sudiartono, sebetulnya memiliki kapasitas untuk membangun penguasaan teknologi energi terbarukan. Hanya dengan dana cost recovery minyak bumi Pertamina bisa mulai berinvestasi di sektor itu.

“Coba dulu, yang paling mudah bikin generator untuk energi angin agar kita melangkah menjadi bangsa produsen,” kata Sudiartono. Selama ini, realisasi energi terbarukan tidak berjalan karena birokrat dinilai sudah terlalu nyaman dengan pola “perburuan keuntungan” dari sektor minyak.

Energi alternatif dianggap akan menghilangkan potensi keuntungan tersebut dan menambah kerepotan birokrat Indonesia yang dikenal malas. Pengamat ekonomi, Agustinus Prasetyantoko, menambahkan kebuntuan proses politik di DPR terkait kebijakan bahan bakar minyak (BBM) mesti dijadikan momentum bagi pemerintah untuk mengubah kebijakan energi.

Pemerintah harus mulai menyediakan anggaran yang memadai untuk menginisiasi pembangunan energi terbarukan itu. “Saya kira Pertamina harus menjadi pelopor untuk mengampanyekan pembangunan energi terbarukan ini. Sebenarnya Pertamina sudah memunyai bisnis geotermal, namun tidak berkembang. Banyak sumber daya alam yang belum dimanfaatkan untuk pembangkit listrik tenaga air berskala kecil, biomassa, biogas, dan geotermal,” papar dia.

Tekan Rupiah Prasetyantoko mengemukakan penurunan produksi minyak dan kenaikan volume konsumsi minyak di Indonesia belakangan ini membuat Indonesia menjadi net importer minyak bumi. Hal itu harus menjadi momentum bagi pemerintah untuk mencari sumber energi alternatif guna mendukung kegiatan ekonomi dalam negeri.

Produksi minyak Indonesia saat ini rata-rata mencapai 930 ribu barel per hari (bph), namun sebagian produksi itu diekspor karena tidak sesuai dengan spesifi kasi kilang yang dimiliki pemerintah, sementara kebutuhan BBM di dalam negeri rata-rata 1,4 juta bph. Untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri, pemerintah harus mengimpor.

Dalam neraca pembayaran Indonesia yang dipublikasikan Bank Indonesia (BI) 11 Mei 2012, tercatat sejak triwulan I-2010 hingga triwulan I-2012, nilai impor minyak sudah lebih besar daripada nilai ekspor. Sebagai ilustrasi, pada triwulan I-2012, nilai impor minyak mencapai 10,127 miliar dollar AS, sementara nilai ekspor minyak kurang dari separo impornya, yaitu 4,683 miliar dollar AS.

BI menyatakan kenaikan impor, termasuk impor minyak, belakangan ini ikut menyumbang penurunan kurs rupiah. Prasetyantoko menambahkan konsumsi energi saat ini, yang sangat mengandalkan bahan bakar fosil, semakin mengikis cadangan minyak yang bisa mengancam Indonesia pada krisis energi. Jika hal itu terjadi maka akan menganggu pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Potensi energi terbarukan di Indonesia sangat besar, namun belum ada kebijakan dari pemerintah untuk mengembangkan energi alternatif,” ujarnya.

sumber : http://koran-jakarta.com/index.php/detail/view01/92659

Iklan

Tentang andihendra

Andi hendra paluseri adalah perantau asal medan yang menyelesaikan pendidikannya S1 di ITB jurusan teknik elektro (Tenaga Listrik).
Pos ini dipublikasikan di pengalaman di ITB. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s