Proyek Energi Terbarukan di Indonesia


Salah satu hal yang menjadi kendala dalam pertumbuhan energi terbarukan adalah besarnya investasi yang harus dikeluarkan. Pemerintah sebenarnya sudah memancing minat para investor dengan mulai  menerbitkan Feed-in-tariff. Feed-in-tariff adalah harga beli listrik oleh PLN yang ditetapkan pemerintah terhadap energi terbarukan dengan mempertimbangkan keekonomian bagi investor. Sampai saat ini, feed-in-tariff yang sudah diterbitkan adalah untuk energi biogas, biomassa dan sampah kota sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri ESDM No.4 Tahun 2012.

Dapat dikatakan ini adalah angin segar bagi investasi energi terbarukan di Indonesia untuk memanfaatkan energi biogas, biomassa dan sampah kota. Menurut pihak kementerian yang mengurusi energi terbarukan Indonesia, dalam waktu dekat Feed-in-tariff juga akan dikeluarkan untuk energi geothermal. Sebelumnya untuk geothermal di Indonesia hanya diberlakukan ceiling price yaitu batas harga maksimum yang dapat diberikan terhadap harga beli listrik oleh PLN.  Namun metode ceiling price ini ternyata dalam keberjalanannya kurang praktis karena memerlukan negosiasi yang cukup panjang.

Feed-in-tariff untuk energi biogas, biomassa, sampah kota dan  geothermal (nantinya) sebenarnya tidak terlalu istimewa karena selisih harganya tidak terlalu berbeda dengan harga jual PLN ke pengguna listrik. Lain halnya untuk energi surya yang sampai saat ini masih terus dalam perbincangan. Pada umumnya keekonomian dari energi surya baru akan dicapai bila Feed-in-tariffnya ditetapkan sekitar 30 sen USD (Rp2,700) perkWh.

Bila Feed-in-tariff energi surya ini benar-benar dikeluarkan, dunia pasti akan mengukuhkan citra bangsa Indonesia sebagai bangsa yang mensyukuri nikmat Tuhan di bidang energi terbarukan meskipun ongkos yang cukup besar harus dikeluarkan dari APBN untuk menutupi selisih harga listrik yang harus dibayarkan oleh PLN. Hal ini sebenarnya baik untuk masyarakat karena akan menjadi pembelajaran buat mereka bahwa energi itu tidak murah dan harus berhemat.

Dengan keluarnya feed-in-tariff untuk energi surya (nanti), pengembangan energi terbarukan lain akan tumbuh dengan masif seperti wind, minihidro, tidal dll karena investasi energi surya tergolong investasi yang paling mahal dibandingkan dengan energi terbarukan lainnya.  Dengan begini kita tidak semakin gigit jari bila melihat jerman yang sampai saat ini sudah menggunakan energi surya dengan total kapasitas 27 GW di seantero negerinya. Padahal Intensitas matahari di Jerman itu cuma sepersekian dari intensitas matahari di Indonesia.

Bila alasan kurangnya investasi masih menjadi kendala pemerintah dalam proyek energi terbarukan, saya mengusulkan ide. Idenya sih tidak akan terlalu berdampak signifikan yaitu ‘membebaskan perusahaan di Indonesia untuk mengalihkan kewajiban CSRnya ke Investasi Energi Terbarukan’. Jadi nanti dengan pengalihan tersebut, perusahaan tidak akan terlalu berisiko untuk trial & error investasi energi terbarukan. Selain itu manfaatnya juga akan diserahkan kepada masyarakat tentu tidak dengan gratis dan hasilnya digunakan untuk membangun energi terbarukan di tempat lain. Pelajaran berharga yang harus diketahui oleh bangsa ini adalah memberikan sesuatu secara gratis hanya akan membuat masyarakat menjadi pemalas dan tidak menghargai kerja keras.

Dengan pengalihan tersebut, semua pihak akan mendapatkan keuntungan. Perusahaan yang mengeluarkan CSR akan mendapatkan pengalaman tentang teknologi sehingga dapat berinvestasi energi terbarukan secara bisnis di proyek lain. Bangsa ini akan terbantu dengan meningkatnya rasio elektrifikasi dengan bertambahnya kapasitas pembangkit yang terpasang.

Bila tidak sekarang direalisasikan, mau kapan lagi potensi energi terbarukan di bangsa ini akan terus dipendam? Apa sampai menunggu bangsa lain mencaploknya?

Tentang andihendra

Andi hendra paluseri adalah perantau asal medan yang menyelesaikan pendidikannya S1 di ITB jurusan teknik elektro (Tenaga Listrik).
Pos ini dipublikasikan di pengalaman di ITB. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s