Taxi-Portation : Menuju Lifestyle di Kota Medan


Masuknya moda taxi Bluebird di kota Medan sekitar akhir tahun 2010 menjadi angin segar bagi transportasi disana. Pada masa silam di Medan, taxi dianggap sebagai sesuatu kendaraan warga menengah keatas sehingga relatif mahal bila dibandingkan dengan moda transportasi lainnya.

Hal tersebut terjadi karena ulah para sopir taxi yang kebanyakan tidak mau menggunakan argo dalam transaksi pembayaran namun dengan skema nego. Alhasil, tarif menjadi melambung. Contohnya saja dari Polonia ke rumah saya, kalau menggunakan skema nego bisa dikisaran Rp60.000-100.000. Padahal bila dengan argo, paling banter 30.000.

Selain alasan mahal, keengganan banyak orang saat itu untuk menggunakan taxidi kota Medan disebabkan kualitas dari taxi itu sendiri. Kebanyakan taxi-taxi yang beredar (diluar Bluebird dan Express) adalah taxi lama yang bentuknya kurang apik dan sering AC-nya mati. Sehingga banyak orang memilih untuk menggunakan moda transportasi bentor (becak bermotor).

Dengan masuknya Bluebird, orang-orang sudah mulai untuk kembali melirik penggunaan taxi sebagai moda transportasi mereka. Beberapa alasannya sebagai berikut :

1. Tarif taxi masih dibawah tarif bentor (bila taxi tersebut menggunakan argo).
2.Kapasitas penumpang taxi-pun (4 orang) lebih besar daripada kapasitas bentor (secara normal hanya mampu diisi oleh 2 orang).
3.Tidak terkena panas dan debu kendaraan.
4.Di tengah suasana Medan yang superpanas saat ini, di dalam Taxi penumpang bisa sejenak keluar dari suasana tersebut.

Berikut adalah kontak taxi (menggunakan Argo) yang saya punya :
a. Express : 061-455 2211
b.Bluebird: 061-846 1234

Sayangnya kedua taxi tersebut tidak mendapat ijin untuk mengangkut penumpang di dalam bandara Polonia. Sehingga bila Anda berada di Polonia, dapat menemukan mereka berdua di SPBU milik Petronas yang berada di luar bandara.

Sekedar informasi, bila naik Bluebird di Petronas, Anda akan dikenakan biaya administrasi awal sebesar Rp5.000. Dari info yang saya dapatkan, uang tersebut digunakan untuk biaya penggunaan lahan ke SPBU Petronas tersebut.

 

 

 

Tentang andihendra

Andi hendra paluseri adalah perantau asal medan yang menyelesaikan pendidikannya S1 di ITB jurusan teknik elektro (Tenaga Listrik).
Pos ini dipublikasikan di pengalaman di ITB. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s