Permainan Persepsi Agar Sistem Kredit tidak dianggap Riba


Kemarin, saya baru membeli galaxy tab dengan sistem kredit 18 bulan menggunakan kartu kredit. Beberapa rekan menyarankan untuk membeli sesuatu yang bunga kreditnya 0%, alhamdulillah ini termasuk yang 0%.

Setelah dipikir-pikir, apa yang salah dengan bunga beberapa persen yang digunakan untuk mengkompensir administrasi bank tersebut selama periode kredit kita?. Yah, memang benar Setiap kelebihan pembayaran adalah ‘RIBA. Lalu mulailah berfikir bagaimana untuk menghindar dari ‘persepsi’ kategori riba di zaman ini.

Nah ada solusinya. Kita sebaiknya tidak bermain di persepsi ‘Kelebihan Pembayaran’ namun ‘Diskon Pembayaran’. Konsekuensinya yah pedagang harus menaikkan harga barangnya untuk dijual di periode terakhir dan menjadikan harga barang di periode terakhir tersebut menjadi harga normal.

Contohnya seperti ini :
1.Misal harga sebuah gadget dari distributornya adalah 3juta. Nah, asumsi harga di bulan ke-18 naik sekitar 20%. Jadi harga di bulan ke-18 menjadi 3,6juta dan dijadikan sebagai harga normal. Berarti cicilan perbulannya adalah Rp200,000 selama 18 bulan.
2.Setelah 3.6juta dijadikan sebagai harga normal, mulailah ditarik mundur dengan memberikan diskon sesuai keinginan. Misal untuk pembayaran selama 12bulan, akan diberikan diskon sebesar 5%* menjadi 3,42juta. Berarti cicilan perbulannya adalah Rp285,000 selama 12 bulan.
3.Untuk pembayaran selama 6 bulan, potongan yang diberikan adalah 10%* menjadi 3.24juta. Berarti cicilan perbulannya adalah Rp540,000 selama 6 bulan.
4.Untuk pembayaran tunai akan diberikan diskon sebesar 15%* dan harganya menjadi 3.06juta.

*besar diskon tergantung dengan kondisi distributor

Setidaknya untuk pembelian tunai-pun, distributor tersebut masih mendapatkan keuntungan dari penjualan.

Mungkin mekanisme seperti tersebut sudah banyak diterapkan oleh beberapa penjualan via kartu kredit. Tapi sadarlah bahwa ini hanya permainan persepsi tentang ‘RIBA’. Nantikan tulisan saya berikutnya tentang makna riba sebenarnya.

 

 

 

Iklan

Tentang andihendra

andi hendra paluseri adalahperantau asal medan yang menyelesaikan pendidikannya S1 di ITB jurusan teknik elektro (Tenaga Listrik).
Pos ini dipublikasikan di pengalaman di ITB. Tandai permalink.

4 Balasan ke Permainan Persepsi Agar Sistem Kredit tidak dianggap Riba

  1. Anonim berkata:

    lha, ga konsisten amat sih, awalnya bilang riba, sekarang sah,,,

  2. andi berkata:

    Itu temen2 ane yg salaf jg pada bingung tentang kredit. Klo dbaca dr awal, intinya kredit itu sah

  3. theloenkz berkata:

    trus kalo kayak karyawan rendahan seperti di kantor ane, operator yg gajinya ga nyampe 2jt, banyak dari mereka yg kredit motor selama bertahun2… kalo ga gitu, sulit memang bisa beli motor cash langsung….hmmm ada solusi?

  4. theloenkz berkata:

    lha, bukannya ngambil keuntungan itu bebas ya? bisa 20% bahkan 100% kalo pasar emang se-bodoh itu untuk membeli barang yang terlampau mahal, apalagi bila dibandingkan dengan kompetitornya, misal i-pad yang ngambil untung 50%… sudah pasti galaxy tab ga bakal naroh harga jauh2 dari pesaingnya, karena pasar sangat kompetitif…

    jadi ga boleh pake sistem kredit sama sekali gitu ya ndi?? kalo dari tulisan yang ane baca, ane nangkepnya gitu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s