Mari Memanen Energi Sampah Indonesia


Mungkin masih melekat di ingatan kita tentang peristiwa longsor di TPA Leuwigajah pada tahun 2005 yang menewaskan 157 orang. Setelah peristiwa tersebut, Bandung yang awalnya dikenal sebagai Lautan Api mendapat julukan baru yaitu Lautan Sampah akibat tidak ada lagi TPA yang dapat digunakan untuk menampung sampah Bandung. Perlu waktu yang cukup lama untuk mengatasi masalah tersebut salah satunya dengan membangun TPA baru di Gedebage.

Kisah tersebut merupakan salah satu contoh sekelumit problematika pengolahan sampah di Indonesia. Pemerintah harus bekerja ekstra keras untuk berjibaku dengan sesuatu yang dianggap useless ini. Eitss, tapi anggapan sampah adalah barang useless sepertinya akan berubah dengan gencarnya pemanfaatan sampah di negara-negara lain menjadi sumber energi. Kata ‘sampah’ mungkin tidak akan dipakai lagi sebagai kata cacian karena kesadaran akan berharganya barang yang satu ini.

Salah satu bentuk panen energi sampah adalah dengan memanfaatkan gas methane yang dihasilkan dari tumpukan sampah tersebut menjadi fuel bagi gas engine untuk menghasilkan listrik atau biasa disebut sebagai Teknologi Landfill Gas.

Bayangin deh, dulu untuk mendapatkan gas alam, perusahaan migas harus drilling lapisan bumi ratusan meter dengan risiko kegagalan yang besar dan investasi yang diperlukan juga sangat besar. Ternyata di depan mata kita, gas alam juga tersedia berlimpah ruah, yaitu dari tumpukan sampah. Dengan potensi sampah yang sangat besar di Indonesia, tidak perlu ditakutkan lagi akan kelangkaan migas kedepannya. Kita tinggal berusaha memanfaatkan energi sampah ini dari sekarang sehingga bila nanti migas sudah benar-benar habis, energi dari sampah ini menjadi salah satu alternatif utama energi pengganti.

Dari sisi lingkungan, emisi gas methane hasil landfill gas tersebut yang bahayanya 21 kali lebih merusak dibandingkan gas karbondioksida dalam hal global warming dapat berkurang signifikan karena dimanfaatkan sebagai fuel pembangkit listrik. Jadi selain memanfaatkan energi sampah sebagai bisnis, investor juga sudah menabung pahala dengan bertindak sebagai pendekar lingkungan yang mengurangi efek rumah kaca.

Malah di beberapa negara Eropa, gas methane yang berasal dari sampah tersebut digunakan sebagai bahan campuran (blending) 20% dari BBG untuk kendaraan-kendaraan disana. Jadi tidak usah heran bila di masa depan di setiap TPA di Indonesia akan dibangun stasiun pengisian bahan bakar yang berasal dari gas methane dari sampah di tempat tersebut.

Teknologi yang lebih efektif dalam menghasilkan listrik dari sampah adalah Incenerator. Prinsipnya sederhana, sampah-sampah tersebut dibakar lalu akan memanaskan air sehingga menghasilkan uap yang akan menggerakkan turbin uap. Namun karena saat ini teknologi tersebut masih menghasilkan by-product yang cukup berbahaya berupa dioksin, tar, SOx dan NOx, penggunaannya masih menjadi masalah tersendiri. Lihat saja rencana proyek PLTSa Gedebage di Bandung yang sampai saat ini belum jalan. Masalah utamanya karena isu lingkungan ini. Meski para pakar sudah menjamin bahwa by-product handlingnya akan berjalan dengan baik sehingga plant akan berjalan dengan aman, tetap saja masih mendapat penolakan dari masyarakat.

Sebenarnya ini karena syndrome NIMBY (Not In My Back Yard) masih sangat kuat di masyarakat Indonesia sehingga sangat resistan terhadap ide proyek energi. Bila mau membuka mata saja, di Singapura malah sudah menggunakan byproduct incenerator tersebut untuk mereklamasi pulau Semakau. Berikut adalah 10 TPA terbesar di Indonesia untuk menghasilkan listrik dari sampah di daerah tersebut dengan menggunakan teknologi Incenerator.

No. Lokasi Nama TPA Potensi Sampah (ton/hari) Potensi(MW)
1 DKI Jakarta Bantar Gebang, Sumurbatu 8,733 157.19
2 Kota & Kab.   Tegal Sarimukti 3,519 63.34
3 Kota Surabaya Benowo 2,562 46.12
4 Kota Medan Namo Bintang, Terjun 1,812 32.62
5 Kota Tangerang Rawakucing 1,352 24.34
6 Kota Semarang Jatibarang 1,345 24.21
7 Kota Depok Cipayung 1,217 21.91
8 Kota Palembang Sukawinata, Karya Jaya 1,171 21.08
9 Kota Malang Supit Urang 761 13.70
10 Kota Padang Air Dingin 682 12.28

*Data TPA dari EBTKE dan Potensi dihitung dengan ketentuan 1 ton sampah/hari setara untuk pembangkit 18 kw (menurut Dr. Ir. Ari Dharmawan Pasek. Ketua Tim FS PLTSa Gedebage).

Alternatif teknologi lain yang lebih ramah lingkungan dibandingkan incenerator adalah Gasifikasi. Dengan teknologi gasifikasi, Sampah yang masuk akan dibakar tanpa mengalami oksidasi sempurna sehingga dihasilkan syngas (synthetic gas) berupa CO dan H2. Syngas yang diproduksi tersebut selanjutnya dapat dibuat menjadi bahan baku biofuel ataupun listrik. Kapasitas reduksi sampah dengan teknologi gasifikasipun lebih bagus dibandingkan dengan incenerator.

Adapun bentuk improvisasi yang telah dilakukan dari teknologi gasifikasi saat ini adalah dalam bentuk plasma gasifikasi. Plasma gasifikasi adalah gasifikasi yang dilakukan terhadap sampah namun dengan suhu yang super tinggi (4000-5000 derajat celcius). Dengan teknologi ini, syngas yang dihasilkan akan lebih banyak, reduksi sampah sangat optimal dan minim dampak lingkungan. Bila takut akan bahaya lingkungan yang ditimbulkan oleh Incenerator, plasma gasifikasi bisa menjadi teknologi alternatif yang ramah lingkungan namun berefisiensi tinggi. Dengan potensi yang besar, Indonesia selayaknya bisa menjadi salah satu pelopor realisasi teknologi plasma gasifikasi ini karena beberapa negara termasuk India-pun sudah mulai mengembangkannya tidak hanya sebagai pilot project namun sudah berskala besar.

Bila saja tiap daerah memanfaatkan sampah yang mereka miliki untuk menghasilkan listrik bagi kebutuhan lokal, PLN-pun  akan semakin terbantu dalam penyediaan tenaga listrik. Untuk memancing appetite para investor di bidang energi ini, awal tahun 2012 Pemerintah-pun sudah mengeluarkan Feed-in-tariff. Feed-in-tariff ini salah satunya tertuang dalam Peraturan Menteri ESDM No.4 tahun 2012 terkait harga beli listrik dari energi biomassa, biogas dan sampah kota.

Feed-in-tariff adalah harga beli listrik yang ditetapkan oleh Pemerintah terhadap energi yang dihasilkan dari jenis energi tertentu dengan telah mempertimbangkan kelayakan keekonomian dari bisnis energi tersebut. Feed-in-tariff ini sangat diperlukan oleh investor untuk menjamin keekonomian bisnis yang mereka jalankan. Berikut adalah daftar harga listrik yang ditetapkan dari Permen No.4 tahun 2012 :

Energi Terbarukan Harga Beli
1.Biomassa & Biogas 975/kWhxF
2.Sampah Kota dengan Teknologi Incenerator&Anaerob Digestion 1,050/kWh
3.Sampah Kota dengan Teknologi Landfill 850/kWh

Ket :

F = 1, untuk wilayah Jawa, Madura,   Bali dan Sumatera
F = 1.2, untuk wilayah Sulawesi,   Kalimantan, Nusa Tenggara
F = 1.3, untuk wilayah Maluku dan   Papua

Dahulu sebelum feed-in-tariff diterbitkan, investor harus melakukan negosiasi dengan PLN dan biasanya memakan waktu yang cukup lama. Dengan ditetapkannya feed-in-tariff selain tidak perlu bernegosiasi dengan PLN terkait masalah harga, investor juga diuntungkan karena dalam peraturan tersebut PLN diwajibkan untuk membeli energi listrik yang dihasilkan. Jadi selain bahan baku yang melimpah ruah, regulasi dari pemerintahpun sudah mendukung untuk realisasi ‘Panen Energi Sampah ini’.

Dengan begini saya yakin Target bangsa untuk merealisasikan 100% elektrifikasi di ulang tahun yang ke-100 pada tahun 2045 sepertinya bukan hanya mimpi lagi.

Terakhir dari saya, Jangan Lagi Habiskan Energi Untuk Sampah. Mari Habiskan Sampah Untuk Energi.

Iklan

Tentang andihendra

Andi hendra paluseri adalah perantau asal medan yang menyelesaikan pendidikannya S1 di ITB jurusan teknik elektro (Tenaga Listrik).
Pos ini dipublikasikan di Pertamina dan tag , , . Tandai permalink.

65 Balasan ke Mari Memanen Energi Sampah Indonesia

  1. Leo berkata:

    klo untuk tgl 22 n 27 des itu perbedaan dgn low ssoaen apa aja? krn da beda hrga 1,5jt. apakah ada acara khusus yg dbuat oleh vine travel atau hanya acara dinegara yg qta kunjungi?persisnya di mlm thn baruny qta ada dnegara mana n ada acara apa biasanya?kalau andai saya daftar tour tgl 22des tapi pulangnya bareng dengan yg rombongan tgl 27 bsa ga? kalau bisa tambahannya brp ya utk 2 org?terima pembuatan paspor tdk? klo iya brp biayanya? maaf bnyk tanya krn lg butuh info utk plan tour des. thnx.

  2. rendy yudhistira berkata:

    Wah, artikelnya cukup menarik Di, Meminimalkan produksi sampah dirasa cukup penting sekarang ini, apalagi dengan adanya teknologi baru yg bisa mengolah sampah menjadi sumber energi seperti ini. Selain mengurangi polusi, manfaat lainnya jg bisa didapat.
    Semoga implementasi pengelolaannya yg baik ini bisa segera cepat terlaksana ya.

  3. affanibnu berkata:

    luar biasa..!
    tidak disangka, hal – hal yang kita pandang remeh akhirnya dapat menjadi sesuatu yang dapat menyambung nafas kita..

  4. Ria Amitya berkata:

    Lupa nulis id, ud main submit aja haha

  5. Anonim berkata:

    Andi, mantap!! Nice article 🙂
    “Jangan Lagi Habiskan Energi Untuk Sampah. Mari Habiskan Sampah Untuk Energi”
    Great quote tuh Ndi
    Ya apalagi kamu di Pertamina sekarang, semoga semakin bs berkontribusi untuk negeri ini aaminn
    Sorry for late response, baru bisa online hehe
    Good luck for you 🙂

  6. suharsa berkata:

    Nothing impossible, and we never know until we try. Talking about Gas is out of mind, because my economics majoring background . But from business side, it could be a great opportunity for future. hope it can be implemented soon. Nice idea, and wunderbares writing, good luck for andy!

  7. didit berkata:

    Gooddddd..

  8. Sarinah Club berkata:

    Konversi energi dari sampah memang bagus, namun bagi anak TL pemusnahan sampah dengan insinerator bukanlah jawaban karena menghilangkan masalah dengan masalah.

    Perlu diperhatikan juga mengenai karakteristik Sampah di TPA-TPA Indonesia karena 70% adalah sampah basah yang punya nilai kalori rendah dalam artian sulit terbakar.

    Mungkin lebih oke klo konversi energi dari air banjir (kota2 besar yg punya drainase buruk banjir mlulu bukan?), hehee….

    • andihendra berkata:

      Mas sarinah club terima kasih atas tanggapannya

      Untuk yang konversi energi dari air banjir, dosen saya pernah mencoba menghitungnya namun tidak signifikan energi banjir karena intermittent dan water handlingnya juga susah berhubung air banjir umumnya air kotor yang harus ditreatment lagi.

      Benar 70% sampah di Indonesia adalah sampah basah/organik, menurut saya sampah organik ini tetaplah dijadikan sebagai sumber gas landfill. Bila memang tidak ekonomis dijadikan fuel untuk gas engine, jadikan saja BBG minta subsidi dari pemerintah. Sedangkan sampah nonorganiknya kita gunakan untuk fuel pembangkit incenerator.

      Sebaiknya jangan takut akan incenerator ini, bermacam2 negara sudah sukses mengaplikasikannya. Contohnya negara terdekat Singapura. Jepang dll. Bila mereka bisa, kenapa kita tidak? 😀

      Salam
      Andi Hendra P

      • Sarinah Club berkata:

        – konversi energi dari air banjir sudah ada yang studi toh. Btw, treatment apa ya yang harus dilakukan ke air banjir sebelum dipake buat ngegerakin turbin? (diendapin aja dah cukup keknya)

        – yup betul sekali di singapura & jepang sudah berhasil, malah casing reaktor2 insineratornya dibuat layaknya gedung perkantoran. Tapi hal ini dilakukan setelah mereka menerapkan 3R di masyarakatnya. Lagipula insinerator punya mereka harganya mahal-mahal deh. Pada akhirnya balik lagi ke tujuan awal sih, mau konversi energi atau mereduksi sampah? 🙂

        • andihendra berkata:

          Mas sarinah club thanks atas komentarnya

          Bisa aja sih kalau diendapin tapi yah udah keburu banjir duluan deh dan nantinya bukan pembangkit tenaga banjir tapi pembangkit tenaga sisa banjir hehe.. tapi oke juga tuh sarannya

          Bener incenerator itu memang tujuan utamanya untuk mereduksi sampah, makanya tipping fee untuk incenerator ini gila2an. Rencana ITF yang di jakarta setahu saya tipping feenya mencapai 400.000 perton sampah. Kalau yang di Gedebage kan masih 250.000 perton (kalau tidak salah).

          Teknologi semakin proven akan semakin murah, pemenangnya adalah yang berani mulai seawal mungkin dan Indonesia pasti bisa menjadi salah satu penggerak di bidang ini. Insya Allah optimis…

  9. Shana Fatina berkata:

    Energi dari sampah memang selalu menarik, dan angkanya cukup signifikan untuk diperhitungkan sebagai alternatif. Namun, selama ini di Indonesia, kita tahu bahwa TPS maupun TPA merupakan badan terpisah yang dikelola oleh operator swasta tertentu, dimana selama ini sudah menjadi rantai pasok yang sangat panjang dan detil, tentunya merupakan hajat hidup orang banyak. Mulai dari pemulung, sampai penguasa TPA berkepentingan terhadap bisnis sampah ini.
    Challenge kita di Indonesia untuk penerapan waste-to-energy antara lain, bagaimana kita reformasi metode pengelolaan sampah yang sudah begitu solid sejak dulu kala menjadi sampah yang terorganisir sehingga bisa dikelola menjadi energi. Kedua, sampah yang tersebar dimana-mana tidak akan memberi nilai tambah signifikan, kecuali memang dikumpulkan di satu tempat sebelum diubah menjadi energi. Biasanya TPA atau TPS jauh dari pemukiman karena kita cenderung tidak mau tinggal ‘bersama’ sampah. Sehingga, PR berikutnya adalah mentransport si listrik ke grid lokal terdekat.
    Secara investasi, waste-to-energy ini cukup menarik, tapi hanya dengan supply yang kontinu. Di luar, kebanyakan memang sampah sudah terkelola sehingga menambah equipments pembangkitan saja. Di sini, sebagai alternatif, kita bisa mulai dengan memanfaatkan sampah industri (perkebunan, dll) yang memang memiliki jumlah cukup besar dan signifikan untuk dijadikan energi. Good point adalah, sampah ini memang bisa menjadi pengisi kekurangan energi yang saat ini terjadi di berbagai wilayah, terutama di pelosok.
    Yuk kita ubah potensi sampah menjadi energi. Dengan demikian, kita komit untuk mengubah tata kelola sampah yang ada saat ini, tidak hanya mengumpulkan sampah di ujung rantai namun dari proses produksi atau konsumsi awal sudah memperhitungkan kemanakah sampahnya nanti bermuara *cradle to cradle*. Terima kasih info updatenya ya Andi, sukses ya dan tetap semangat!

    • andihendra berkata:

      Mbak shana terima kasih atas tanggapannya.
      1. Benar sekali pemanfaatan sampah rantainya sangat panjang dan detail. Oleh karena itu menurut saya bila energi sampah ini dilakukan sebaiknya memanfaatkan sampah dari bahan organiknya saja karena yang dibutuhkan para pemulung itu adalah sampah nonorganiknya seperti besi, kaca, dan plastik

      2. Untuk tpa yang tersebar-sebar, benar sekali solusinya adalah TPA Regional. Selain biaya pengolahan sampah menjadi relatif lebih murah/ton-nya, investasi yang diperlukan untuk EPCnya pun akan lebih murah untuk tiap MW pembangkitnya.

      3. Untuk mendapatkan Feedstock sustainability, para investor haruslah melakukan contract of supply sehingga tidak akan seperti yang terjadi di sebuah negara dimana pembangkitnya harus tutup karena kekurangan pasokan feedstock.

      Salam
      Andi Hendra Paluseri

  10. gatra berkata:

    Wah, mantaps benar ulasannya bung andi….
    1. Kalau bicara sampah di Indonesia, saya jd ingat dengan perilaku kebnykn orang Indonesia yg buang sampah sembarangan. Mungkin dengan sosialisasi yg efektif dan efisien terkait pemanfaatan sampah ini sebagai sumber energi alternatif, masyarakat indonesia bisa lebih teratur buang sampah dan ngolahnya.

    2. Setuju dengan poin 2 master daud terkait pemerintah juga harus nekanin 3R terkait sampah ini. Kalau bisa dikuranginlah sampah2 nonorganik di Indonesia ini. Moga perusahaan2 juga ikut partisipasi mikirin sekaligus ciptain produk yg awalnya gunain bhn anorganik ke depanny gunain bahn organik.

    3. Bicara TPA terbesar Bantar Gebang, saya sudah pernah mengunjunginya satu kali. Saat itu, saya ikut kegiatan bakti sosial yg diorganize dan disponsorin sama General Electric (GE). Kalau lihat dari pengaturan tata letk sampah di sana, berantakan sekali, campur aduk sampah organik dan nonorganik. Kasihan juga sama anak bangsa yg kerja di sn harus misah2in sampahny.Kan kalau udah dipshin dari asal, merk jd mudah kerjanya. Moga masyarakat indonesia lain sadar untuk lebih mengorganisaikan sampahny. Setahu saya, GE juga punya teknologi pengolah sampah ini, tp sy kurg tahu teknologi persisnya sperti apa. Kalau bisa ngasilin teknologi yg byproduct nya enviro-friendly pasti sangat bagus.

    sekian dulu pandangan dari saya
    salam hangat,

    Peran Gatra Pinem

    • andihendra berkata:

      Peran Gatra

      setuju sekali bila melihat kondisi pemulung disana yang sangat tidak higienis salah satunya karena memang campur aduk sampah yang organik dan nonorganik yang kamu sebutin diatas.

      Oiya, ngasi tau fakta juga kalo sebenarnya kesalahan pemilahan sampah itu juga bukan pada user pembuang sampah lho, tim yang mengumpulkan sampah juga ternyata gak gitu aware. Coba deh misal kamu di rumah milahin sampah organik dan nonorganik, nah nanti yang mengumpulkan sampah tetep aja mencampurkan sampah yang sudah kita pilah sebelumnya. Nah ini kan sama aja sia-sia wae pekerjaannya.

      Nah, untuk menyelesaikannya adalah penyadaran ke semua pihak bahwa pemilahan sampah memang sangat dibutuhkan sejak saat ini..

      Salam
      Andi Hendra Paluseri

  11. Daud Bonatua berkata:

    1. Secara engineering mengubah sampah, produk yang tidak berguna, menjadi energi listrik yang dibutuhkan oleh rakyat banyak merupakan teknologi yang sangat baik.

    2. Sampah pada dasarnya harus dikurangi. Walaupun PLTSa ini dapat mengolah sampah, tetap saja pemerintah harus menekankan konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle) kepada masyarakyat untuk mengurangi produk sampah. Pengurangan sampah akan mengakibatkan berkurangnya output listrik pada PLTSa, tetapi kita harus mengingat bahwa PLTSa dibuat sebagai salah satu cara untuk mengolah sampah, PLTSa tidak dibuat untuk mengoptimalkan input pembangkitannya (dalam hal ini, sampah).

    3. Pengelolaan pembangkitan harus selalu diperhatikan, karena gas CH4 maupun teknologi incenator akan menghasilkan gas2 beracun. Juga proses distribusi sampah ke PLTSa harus diperhatikan karena akan menimbulkan pencemaran bila sampah berjatuhan atau mengeluarkan bau sewaktu melewati rumah warga. Penentuan lokasi PLTSa juga harus dipertimbangkan dengan baik, mengingat tidak sedikit warga yang menolak untuk tinggal di dekat tempat penampungan sampah yang mengeluarkan bau tidak sedap, dimana hampir setiap hari jalanan depan rumahnya dilalui mobil pengangkut sampah, sebagai contoh ketika PLTSa Gedebage Bandung dibuat berdampingan dengan perumahan Griya Cempaka Arum, yang menimbulkan keresahan warga.

    Sukses proyekannya ya bg Andi Hendra Paluseri, kalau ke bdg kabari ya, hahaha.

  12. Muh Nahdhi Ahsan berkata:

    Saya sepakat mas. Tapi bukan berarti kita harus memproduksi sampah lebih banyak untuk menghasilkan energi lebih banyak kan? Hehehe….
    Suatu ketika saya membayangkan seandainya di masa depan itu manusia Indonesia sadar untuk tidak nyampah, nanti PLTSa jadi bangkrut karena kekurangan bahan baku. Jadi nanti ada seruan “ayo nyampah demi mempertahankan produksi energi”. #ngenes

    • andihendra berkata:

      terima kasih atas komennya mas nahdhi,

      wkwkwk tidak sampai begitu juga dong,
      Kan untuk landfill dan incenerator yang dimanfaatkan sampah organiknya which is pasokannya akan selalu ada sepanjang tahun meski kita tidak usah menyampah. Contohnya sekam padi sisa padi yang yang digiling, bonggol jagung, ampas tebu, daun2 yang berguguran dsb. Sampah2 organik tersebut memang akan ada tanpa perlu kita harus menyampah

      Sedangkan untuk sampah non-organiknya akan didaur ulang seperti kaca, plastik dll.

      Salam
      Andi Hendra P

    • Joy berkata:

      I was really confused, and this answered all my queoitsns.

  13. riss berkata:

    Nice article ndi..
    Well, handling proses side-product yang dikeluarkan oleh incenerator itu bentuknya seperti apa ndi?? Efisiensinya berapa persen?

    Fyi, Kalo di Singapura sih setahuku, mereka memberdayakan sampah dikarenakan lahan yang terbatas sehingga produksi sampah rumah tangga atau pabrik itu dibatasi, kalo buang sampah lebih dari batas, ya disuruh bayar. Jadi keadaan ini jg yg maksa gimana caranya sampah mereka “terberdayakan”. Hoho.

    Good luck, semoga lombanya menang ya. Aamiin,

    • andihendra berkata:

      Mbak riss,

      kalau tidak salah side-product yang dihasilkan kan berupa tar,dioxine NOx dan SOx. Biasanya kalau limbah udara/gas, harusnya dicapture dulu sebelum direlease ke udara. Kalau limbah cair seperti air leachate itu ditreatment dulu disuatu kolam khusus.

      dan setahu saya kalau incenerator itu efisiensi reduksi sampahnya sekitar 70-80%. Jadi cukup besar kemampuannya untuk mengatasi permasalahan sampah di Indonesia yang volumenya gila-gilaan (sebagaimana tercantum dalam tabel 10 tpa terbesar).

      Benar di singapura memang ada peraturan seperti itu. Bayangkan singapura yang negara kecil dan potensi sampahnya pun pasti jauh lebih kecil daripada Indonesia namun masih bisa memanfaatkan sampahnya menjadi listrik, apalagi kita?

      Salam
      ahp

  14. Mantap Mas Andi H. Paluseri, semoga lancar proyeknya, demi kemandirian energi bangsa. Waste to energy perlu segera direalisasikan untuk menciptakan siklus energi yang berkelanjutan di Indonesia

    • andihendra berkata:

      wah proyek sampah ini bukan hanya proyek saya,
      tapi proyek kita sebagai pemuda bangsa indonesia mas alex hehe…

      Amin semoga cita2 akan adanya sustainable energy dapat terwujud dalam waktu dekat..

      Salam
      ahp

  15. Niam R Arifuddin berkata:

    ini dulu kakak saya pernah usaha wiraswasta daur ulang sampah. saya diajak sebagai logistik.. (angkut2 aja).. hahaha
    tapi akhirnya bangkrut karena ada karyawannya malah menggelapkan uang yang udah diraih… sampe dilaporin ke polisi.
    makanya ide yang menarik ini perlu pemikiran yang se-visi diantara anggota2 yang menggerakkannya dan saling menjaga nih bang.. hehe
    salam pembaca blog bang.. wkwk

    • andihendra berkata:

      Bener itu, sense of belonging dan kredibilitas dari masing2 pihak yang terlibat harus menjadi hal utama dalam menjalankan bisnis ini..

      wah saya jadi inget bisnis peternakan ayam yang pernah saya kembangin niam hehe.. 😀

      • Open berkata:

        Untuk paket Sing-Thai-Msia 7d/6m setiap bulan kita pasti ada kerabengkatan 2x hanya utk Oktober dan tahun depan kita belum buka tgl karna.Kalau sudah buka tgl kita akan update di website, sering di lihat aja..Tkss

  16. sinyoegie berkata:

    Dik coba kenalan sama bapak Fence (tetangga saya) ini link-na saya kasih di blog saya yang lain. :
    http://menyonyo.wordpress.com/bio-qita/

  17. otidh berkata:

    Mantap ulasannya Mas Andi.

    Kalau tidak salah sudah ada perusahaan yang memanfaatkan ‘sampah’ utk menghasilkan energi listrik. Dulu sewaktu saya pernah main ke kompleks PT Gunung Madu Plantation di Lampung, dikasih tahu bahwa mereka menghasilkan listrik secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan listrik kompleks mereka dengan memanfaatkan ampas tebu.

    Oh ya, untuk sampah yang akan ‘dipanen’ ini ada perlakuan khusus nggak antara sampah organik dan non-organik?

    • andihendra berkata:

      Mas dhito, emang di Indonesia sudah ada yang melakukannya. yaitu PT Navigat Organic Energi Indonesia di TPST Bantargebang. Wew, saya malah baru tahu kalau di Lampung ada yang memanfaatkan biomassa ampas tebu untuk menghasilkan listrik.

      Nah mengingat potensi biomassa di Indonesia 49.000 MW (menurut EBTKE), kalau bisa kita kembangkan 60% saja, pembangkit lain sudah tidak diperlukan lagi, Cukup make potensi energi baru terbarukan biomassa saja,

      Gila gak tuh?

      Hayu ah kita buat perusahaan kecil2an untuk membangun bisnis pembangkit dari biomassa ini.. berani gak? 😀

      • andihendra berkata:

        Lupa jawab pertanyaan terakhir,

        Mas dhit, kalau untuk yang landfill langsung ditimbun gak perlu pemisahan
        Namun yang incenerator dilakukan pemisahan, dulu waktu di ITB kan kita pernah dapet selebaran terkait pola kerja pemanfaatan sampah disana, salah satu proses yang dilakukan adalah pemisahan sampah organik dan anorganiknya…

        Salam
        ahp

  18. Newbie Tora berkata:

    Tulisan yang mantab OM,…..

  19. chrhad berkata:

    Artikel yang sangat bagus demi kemajuan bangsa Indonesia. Ilmiah tetapi cukup mudah dimengerti.

    Dari segi SDM, mengingat risiko dari hasil samping tersebut, apakah sudah siap? Menurut bayangan saya, operator yang akan mengoperasikan pembangkit listrik di lapangan mungkin berasal dari kalangan teknisi yang terampil karena pengalaman/pelatihan. Sementara teknologi ini masih baru, menurut saya belum cukup SDM yang berpengalaman langsung dalam pengelolaan ini.

    • andihendra berkata:

      Bung christian Hadiwinoto terima kasih atas pertanyaannya

      Begini bung, karena teknologi landfill itu sudah common dan simple saya yakin 100% SDM kita mudah untuk mengoperasikannya.

      Namun untuk teknologi yang lebih modern seperti Incenerator, Gasifikasi, Pirolisis kita memang masih perlu banyak belajar sehingga perusahaan manufakturing yang menciptakan benda dan teknologinya haruslah diikat kontrak untuk melakukan sharing knowledge kepada operator/SDM yang akan menjalankannya.

      Ditunggu yah partisipasi dan aplikasi ilmu yang didapat di NUS untuk diterapkan di Indonesia bung Christian hehehe… 😀

      • Ferdi berkata:

        kalau tgl 3 juli sudah penuh blm? oya,kalau airport tax itu dykbiaraan ke mana yah? (maklum blm pnh ikut tour).. ada tidak yg berangkat dari jogja? terima kasih..

  20. Faruqi berkata:

    hmmm,, menarik2,, setuju sama benefit2nya. pengen nanya aja, kan sampahnya dibakar ya? incineratornya pake apa sih? apa pake BBM juga? lalu energi dari BBM itu apakah surplus? soalnya ga semua sampah bisa dibakar dengan mudah kan?

    • andihendra berkata:

      Iqbal faruqi,
      terima kasih atas pertanyaannya
      kalo incenerator itu memang pake BBM, tapi tentu saja dalam jumlah kecil dan hasil energinya pun jauh lebih besar dibandingkan energi yang dikeluarkan dari penggunaan BBM tersebut,

      Benar tidak semua sampah memang mudah dibakar. Dulu waktu kita masih kuliah di itb, ada selebaran terkait PLTSa gedebage, nah yang saya lihat itu ada proses separation treatmentnya sebelum dijadikan fuel pembangkit.

      Salam
      Andi Hendra Paluseri

  21. soal teknologi landfill gas ini,
    bisa dijelaskan hingga orang awam ngerti ga?

    biar tulisannya lebih bermanfaat buat pencerdasan publik

    • andihendra berkata:

      Bang adit,
      makasih atas masukannya

      Begini bang, landfill gas itu adalah gas yang keluar secara alamiah dari sampah yang ditumpuk dalam waktu lama. Secara teorinya sih, bila sampah dalam jumlah yang besar ditumpuk dalam suatu lokasi maka akan mulai menghasilkan landfill gas sejak setahun ditumpuk sampai 20 tahun sejak penumpukan.

      Nah, komposisi landfill gas ini terdiri dari Methane (55%),CO2 (35-40%) dan yang lain. Landfill gas yang berisikan dominan methane dan CO2 tersebut bila keluar dari tumpukan sampah awalnya tidak dimanfaatkan hanya keluar begitu saja.

      Hasilnya? methane dan CO2 akan menimbulkan emisi ke udara dan merusak ozon. Methane sendiri yang memiliki kekuatan merusak 21kali lebih buruk terhadap ozon dibandingkan CO2.

      Nah, cara pemanfaatan landfill gas ini sangat sederhana. Landfill gas yang dihasilkan disedot melalui pipa-pipa yang sudah ditanam di tumpukan sampah tersebut melalui blower. Lalu akan diproses di Knock out drum untuk menghilangkan/mengurangi kandungan moisture didalamnya dengan harapan yang masuk ke Gas Engine adalah gas yang kering.

      Setelah didapat gas yang kering, langsung saja dimasukkan di Gas Engine untuk dicombusted dan jadilah listrik.

      Sederhana bukan?

      Salam
      Andi Hendra Paluseri

      • Buma berkata:

        Dear all,mau minta confirm tour saonipgre thailand malaysia genting untuk keberangkatan pertengahan bulan november 2010. apa masih sama rate nya dengan yg di atas. minta confirm nya yah..thanks..

  22. rinaldimunir berkata:

    Andi, apakah listrik yang dihasilkan dari sampah bernilai ekonomis? (maksud saya sebanding atau lebih besar keuntungan yang diperoleh daripada biaya prosesnya kah?)

    • andihendra berkata:

      Pertanyaan super sekali pak, saya lupa nyantumin di tulisan kalo program waste to energy di negara manapun itu sampai dengan saat ini revenue utamanya adalah dari tipping fee. Tipping fee adalah biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah setempat untuk pengelolaan sampah tersebut. Kalau tidak salah yang di gedebage itu tipping feenya antara 200 sampai 300ribu untuk tiap ton sampah yang masuk ke tpa. Nah dengan menggabungkan tipping fee dan hasil penjualan listrik, baru bisnisnya akan feasible…

      Wih gak nyangka review pak rinaldi sudah sedalam ini

      Makasih banyak pak

  23. salmi berkata:

    nice share bang.. 🙂
    sampah, sesuatu yang “habis manis sepah dibuang”. tapi setelah dibuang diabaikan begitu saja. akhirnya menjadi masalah.
    nah, manajemen limbah sangat diperlukan untuk menangani menggunungnya sampah ini, salah satu solusinya ialah dg PLTSa, apakah dengan Landfill ataupun insenerator , namun satu masalah disini ialah dalam segi sortir sampahnya bang, soalnya di Indonesia sampah2 itu masih selalu bercampur dari berbagai jenis sampah dalam satu tempat TPA sehingga lebih banyak sampah basah. sedangkan untuk PLTSa sendiri harusnya sampah kering agar mudah untuk dikonversikan.
    salah satu upaya ini yaitu penyediaan tempat sampah dengan jenis yang berbeda, ya kembali lagi ke pemerintah yang membuat tempat penampungan akhir dengan sortir jenis sampah. kemudian disosialisasikan kepada masyarakat, sehingga terjadi kerjasama yg baik untuk kebaikan semuanya.. semoga untuk kedepannya manajemen limbah indonesia semakin baik dan berkembang agar sampah tidak menggunung begitu saja.
    #maaf panjang, hehe
    senang bisa sharing ilmu, mudah2n brmnfaat yaa..
    terima kasih juga atas kunjungannya k blog saya bang http://bit.ly/Energi10
    😀

  24. Anonim berkata:

    kalo ibarat kata, sekali tepuk 2 kena. sembari mengurangi sampah, menghemat energi juga. salut buat pemikiranya. Namun perlu dipikirkan juga konsep pembakaranya agar efisiensinya tinggi dan sesedikit mungkin meninggalkan sisa pembakaran.

    mau topik yang menarik lainya? kunjungi [http://bit.ly/Energi17]

  25. aris rinaldi berkata:

    Mantap di, Semangat terbarukan 🙂

    silahkan mampir : http://bit.ly/Energi4

    • andihendra berkata:

      asek, gw ngetag MacBook 13″ yah bang. Abang hadiah yang lain aja hahaha…
      silahkan kunjungi http://bit.ly/Energi60

      • Aaron berkata:

        Hallo Vine; trims ya kita sudah diantar ke Sin, Hatyai, KL and Genting hidlganhs dari tanggal 16 22 Desember ’09. Harganya boleh lah, Hotelnya OK apalagi yg di Genting; keren bangets- berada diantara lbh dari 6000 manusia dr sepelosok dunia, makanannya Tom Yam maknyus abis. Besok-besok ajak kita ke museum juga di negara itu supaya tambah OK!, ajak naek KL tower dong Untuk pak Haddy-tour leader- trims atas segalanya, ga emosian, selalu on the track. Sangat menolong karena boarding passnya sudah diisi, so tinggal tidur di pesawat. Besok-besok souvenirnya lbh bagus yaSalam Manis u/ Vine- tour STAFF

  26. leo berkata:

    punya list kapasitas TPA se-Indonesia gak kak/

  27. andre berkata:

    Lalu bagaimana dengan rencana ITF di jakarta?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s