Lesson Learned dari Kekacauan Jakarta Night Festival di Bundaran HI


Selasa (1/1), perayaan tahun baru 2013 di tanah air dilakukan dengan berbagai acara yang semarak termasuk di Jakarta. Sebagai pusat pemerintahan, kota yang saat ini berada dibawah kepemimpinan Jokowi-Ahok, mengadakan Jakarta Night Festival untuk menyambut kedatangan tahun ular air (penanggalan China).

Enam belas panggung hiburan didirikan dari awal jalan Sudirman sampai penghujung jalan Thamrin dengan Bundaran HI sebagai titik pusat acara. Sejak pukul 20.00 sepanjang jalan Sudirman-Thamrin memang sudah disterilkan dari pengguna kendaraan yang tidak lain meniru konsep Car Free Day yang diadakan tiap akhir pekan di Jakarta. Sejak saat itu pulalah, gemuruh tiupan terompet dan petasan pengunjung mulai meramaikan jalanan protokol Jakarta meskipun cuaca saat itu sedang hujan ringan.

Detik-detik menjelang pergantian tahun yang seharusnya bisa dinikmati oleh pengunjung di Bundaran HI ternyata berubah menjadi suasana panik dan sesak. Orang-orang mulai berdesak-desakan, korban pingsanpun sudah mulai berjatuhan. Salah satu korban pingsan yang diketahui bernama Evan (alumni UI 2005) akhirnya meninggal karena kehabisan oksigen. Tangisan bayi-bayi yang dibawa serta oleh orangtua mereka makin menambah kekalutan acara tersebut.

Jokowi yang saat itu berada di tengah Bundaran HI ‘mungkin’ tidak menyadari peristiwa ini namun sangat disayangkan sikap polisi-polisi yang berada di dekat kami (termasuk penulis) saat itu hanya bisa tersenyum sambil memfoto orang-orang yang sudah mulai mendorong satu sama lain padahal ratusan bahkan ribuan orang didekatnya sudah berteriak minta tolong.

Baru pada 00.30 dini hari, sebagian orang sudah mulai lepas keluar dan mengucapkan sumpah serapah untuk tidak akan ikut dalam acara serupa kedepannya. Hal ini mungkin bisa menjadi pertimbangan ulang bagi beberapa oknum yang menilai bahwa Jakarta Night Festival kemarin telah sukses diselenggarakan.

Pelajaran besar yang dapat diambil dari tragedi Bundaran HI tersebut, yang pertama adalah jangan menyamakan konsep Car Free Night dengan Car Free Day. Pada saat Car Free Day, orang-orang bisa mengetahui arah untuk bergerak keluar sedangkan hal ini akan sulit dilakukan pada saat Car Free Night.

Selanjutnya, membawa sepeda adalah hal yang sia-sia dilakukan pada saat Car Free Night. Pada saat kekacauan di Bundaran HI kemarin, terbukti bahwa sepeda harus dibawa dengan berjalan oleh pemiliknya dan ini cukup merepotkan bukan hanya bagi pemiliknya namun juga pengunjung yang lain.

Pelajaran ketiga, bila Jokowi berkeinginan mengadakan acara serupa di waktu lain, sangat disarankan untuk memastikan gerobak pedagang tidak berada di tengah-tengah jalan. Pada saat kekacauan berlangsung, gerobak-gerobak pedagang menjadi faktor penghalang utama dalam hal evakuasi pengunjung yang pingsan dan pergerakan pengunjung yang ingin keluar lokasi.

Keempat, perlu diberikan petunjuk bagaimana seharusnya jalan dipergunakan oleh pengunjung untuk bergerak. Dalam kasus kemarin, pengunjung bebas menggunakan sisi kanan dan kiri jalan semaunya sehingga kesan teratur sudah tidak ada lagi dan tabrakan antar pengunjungpun menjadi hal yang lumrah terjadi.

Pelajaran kelima adalah diperlukan himbauan bagi orangtua untuk tidak membawa bayinya karena suara petasan yang dibunyikan pada acara kemarin pasti merusak indera pendengaran dan jantung buah hati mereka (bila memang penggunaan petasan diperbolehkan dalam acara tersebut).

Terakhir, semoga dengan pelajaran yang sangat berharga ini, Pemda DKI belajar banyak dan introspeksi akan segala kekurangannya. Sudah cukup satu nyawa yang melayang karena kekurangsiapan dalam pelaksanaan acara yang tujuannya memang untuk dinikmati oleh semua orang.

Iklan

Tentang andihendra

Andi hendra paluseri adalah perantau asal medan yang menyelesaikan pendidikannya S1 di ITB jurusan teknik elektro (Tenaga Listrik).
Pos ini dipublikasikan di pengalaman di ITB. Tandai permalink.

9 Balasan ke Lesson Learned dari Kekacauan Jakarta Night Festival di Bundaran HI

  1. Afkar... berkata:

    Lebih banyak yang menginginkan acara ini diadakan lagi, soal kekurangan dijadikan bahan evaluasi…

  2. afgan berkata:

    mending tahun baruan di rumah. dzikir yang banyak… ^^

  3. Anonim berkata:

    paling di sayangkan orang tua yang membawa bayinya,,,, g habis fikir..

  4. Anonim berkata:

    pelajaran terakhir, tidak perlu menghadiri acara tahun baru, lebih baik di lab masing-masing berfikir untuk kemajuan bangsa.

  5. Zulfikar Hakim berkata:

    Wah kacau sampe ada yang meninggal. Btw dirimu melihat sendiri ada yang meninggal, atau ada sumber lain yang mengatakan demikian?

  6. otidh berkata:

    Setuju sama komen di atas ane ^_^

  7. ade berkata:

    wah serius ada yg meninggal bang ? Innalillahirojiun 😦
    baru tau juga kekacauan sebegitu parahnya setelah baca postingan ini, karena aku jg ikut Jakarta Night Festival kemaren. Ga ngerasain ada kekacauan cuma terlalu rame aja. aku ke bundaran HI nya sebelum ada pawai, masih bisa gerak (ramai wajar). tapi gak tau kondisi setelahnya soalnya abis itu stay di plasa BII.

  8. Anonim berkata:

    pelajaran besarnya, tidak usah mengikuti hal2 yg banyak mudharatnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s