Sunnah Sunah dan Sunat


Alkisah di negeri Antah Berantah, terdapat seorang pemuda yang usianya sudah sangat matang namun memiliki keengganan untuk menyempurnakan agama. Mengetahui hal tersebut, pemimpin kampung tempat pemuda tersebut tinggal mendatanginya dan menanyakan alasan keengganannya tersebut.

Hai fulan, apakah yang menyebabkan engkau tidak ingin menikah? Apakah tidak ada keinginan di dalam dirimu untuk menyempurnakan agama ini? Tanya si pemimpin kampung.

Pak pemimpin, mau tau aja atau mau tau banget? Lha kan menikah itu Sunnah, jadi kalau saya kerjakan saya berpahala namun bila tidak saya kerjakan saya tidak berdosa. Bukankah hukum islam terkait sunnah seperti itu? Pemuda mencari justifikasi.

Apaaaa…. ? That’s totally wrong. Sunnah yang kamu maksud itu sunah yang hukum islam. Akan tetapi sunnah yang dimaksud menyempurnakan agama adalah Sunnah nabi. Coba perhatikan hadist nabi berikut ini :

Rasulullah SAW bersabda: “Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku !”(HR. Ibnu Majah, Aisyah)

Secara hukum islam, nikah bisa saja menjadi Wajib, Sunah, Makruh, Haram maupun mubah. Namun pelaksanaannya adalah termasuk Sunnah Nabi. Kalau dari pelajaran SD sih biasanya para siswa diberitahu bahwa Sunnah adalah segala sesuatu yang datangnya dari Nabi Muhammad saw. baik berupa perkataan, perbuatan dan ketetapan. Nah perkataan, perbuatan dan ketetapan inilah yang harus ditiru dalam menjalankan kehidupan sebagaimana sabda nabi berikut :

“Telah kutinggalkan untuk kalian dua perkara yang (selama kalian berpegang teguh dengan keduanya) kalian tidak akan tersesat, yaitu Kitabullah dan Sunnah-ku.” Diriwayatkan oleh Hakim (I/172), dan Daruquthni (hadits no. 149). Diriwayatkan oleh Hakim (I/172), dan Daruquthni (hadits no. 149).

Nah untuk pemuda tersebut, rupaya sang pemimpin kampung sudah cukup yakin bahwa pernikahan bagi pemuda tersebut sudah wajib hukumnya didasari dengan berbagai pertimbangan.

Adapun Sunah yang kamu maksud adalah Sunah hukum islam yang memang benar berpahala bila dilakukan dan tidak berdosa bila ditinggalkan misal Sholat Rawatib, Sholat Dhuha, Sholat Tahajud dll.

Setelah Sunnah dan Sunah dijelaskan, Pemimpin kampung melanjutkan wejangannya dengan membahas Sunat. Sunat atau khitan adalah memotong kulit luar bagian yang tidak berguna pada pria maupun wanita. Dalam keadaan normal hukumnya wajib dilakukan sebagaimana hadist berikut :

Rasulullah bersabda: “Khitan itu sunnah bagi lelaki dan keutamaan bagi wanita” (HR. Baihaqi)

Setelah Pemimpin kampung selesai memberi wejangan terkait sunnah nabi, maka dengan segera sang pemuda yang enggan tadi mulai mempersiapkan diri.

Iklan

Tentang andihendra

andi hendra paluseri adalahperantau asal medan yang menyelesaikan pendidikannya S1 di ITB jurusan teknik elektro (Tenaga Listrik).
Pos ini dipublikasikan di pengalaman di ITB. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s