Kosan Saya Ternyata!


Andi Hendra Paluseri
Analyst Power Generation
BUMN di Indonesia

Seusai menjalani masa class-room yang diselenggarakan oleh tempat saya bekerja, tibalah saya dan teman-teman ditugaskan untuk mulai on-job-training pada Januari 2012 lalu di lokasi kerja masing-masing dan saya kebagian di daerah Thamrin, Jakarta dan setelah mencari-cari cukup lama akhirnya mendapatkan kosan di kebon kacang XXXVI.

Sebulan setelah menetap di kosan tersebut, saya memutuskan untuk pindah ke kosan baru di kebon kacang I dimana di tempat tersebut saya dipertemukan dengan teman kuliah di Bandung, Julino Sentosa. Tapi bukan itu hal pokok yang ingin saya ceritakan saat ini :D.

Kosan kedua yang saya tempati ini bisa dikatakan paling paling aman se-antero Jakarta. Mengapa? Karena lokasinya berada di dalam kompleks mesjid sehingga bila ingin masuk ke lokasi kosan saya, teman-teman harus melalui beberapa ‘pintu penjagaan’ yang cukup ketat. Penjagaan pertama adalah mesjid itu sendiri, penjagaan kedua adalah gerbang kecil yang cukup tajam, penjagaan selanjutnya adalah gerbang yang super tinggi, penjagaan keempat adalah rumah pemilik kosan, penjagaan kelima adalah pintu utama kosan saya dan terakhir masih harus melalui pintu kamar masing-masing.

Aturan disini cukup ketat, sehingga para penghuninya adalah pria yang baik-baik karena bila tidak baik akan sulit untuk beradaptasi (emang saya baik?). Selidik punya selidik, ternyata kosan kami itu dibangun pada tahun 40-an. Mesjid ini berdiri sebagai tempat para pejuang untuk mengaji serta menimbun senjata. Di kawasan ini, mesjid ini adalah mesjid tertua kedua dibangun setelah mesjid tanah abang.

Dahulu pada jaman perjuangan di mesjid ini, para pejuang muslim mengaji dan salah satu pematerinya yang terkenal adalah Natsir. Nah, pemiliknya adalah seorang tukang jahit. Para mujahid datang dengan membawa kain-kain yang berisikan senjata untuk selanjutnya ditimbun di areal mesjid ini, tepatnya di kamar-kamar kami. Woww….

Selain karena keamanannya, nilai sejarah yang sirat makna menjadi kebanggaan sendiri bagi saya untuk tinggal di kosan ini terlebih lagi karena rate-nya yang cukup murah namun tetap representatif untuk dihuni. Hmm, jangan-jangan dibawah lantai saya masih banyak terdapat senjata yang belum dimanfaatkan pada zaman perang lalu? Bisa saja!.

Tak jauh di lokasi kosan saya, juga berdiri tegak sekukuh tombak rumah makan nasi uduk H.Suryani yang merupakan cikal bakal nasi uduk Tanah Abang yang terkenalnya sampai selosok Nusantara. Tambah lagi nilai budaya untuk kosan saya. Kira-kira apalagi yah fakta sejarah yang dekat dengan kosan ini?

Tentang andihendra

Andi hendra paluseri adalah perantau asal medan yang menyelesaikan pendidikannya S1 di ITB jurusan teknik elektro (Tenaga Listrik).
Pos ini dipublikasikan di pengalaman di ITB. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Kosan Saya Ternyata!

  1. Saya sampe penasaran baca judulnya 🙂 ternyata kos anda dekat rumah makan nasi uduk yang legendaris itu….jreng jreng……dulu saya masih kos di seputaran slipi, tiap malming pasti makan disana…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s