Urgensi Kepemilikan Channel TV dalam Kemenangan Politik dan Prediksi Konstalasi 2014


Andi Hendra Paluseri
Mahasiswa Magister Ilmu Hukum 
Universitas Jayabaya

Di era modern saat ini, televisi merupakan pemegang peran utama dalam sosialisasi maupun publikasi informasi. Selain jualan produk, kita juga sering mendapati promosi seorang tokoh maupun partai di televisi.

Bila melihat sekilas ke belakang, salah satu contoh paling nyata adalah kemenangan SBY dan Partai Demokrat dalam Pemilu sebelumnya. Saat itu Demokrat memiliki hubungan yang cukup romantis dengan beberapa stasiun televisi hingga memuluskan langkah mereka untuk sosialisasi partai.

Namun saat ini, romantisme itu tak lagi ada dikarenakan pemilik-pemiliknya juga memiliki kendaraan politik lain yang perlu untuk diangkat.

Memang ada usaha penyeimbang lain yang dilakukan seperti bekerja sama dengan media massa elektronik, namun itu tidak akan cukup untuk mengangkat kembali pamor partai yang telah terjungkal dengan kasus-kasus mereka yang lalu dan telah ditelanjangi secara besar-besaran oleh berbagai media khususnya media televisi. Akses informasi sebagian besar masyarakat Indonesia yang saat ini masih didominasi oleh televisilah yang membuat usaha tersebut akan kurang signifikan.

Menurut saya, satu-satunya cara yang harus dilakukan Demokrat sekarang adalah membangun stasiun televisi pribadi setidaknya untuk tidak semakin terjatuh dengan opini negatif yang telah terbentuk saat ini.

Ada peristiwa lain seputar “bos media massa Indonesia” yang sempat membuat heboh dengan tindakan sensasionalnya. Bila kita menyaksikan di media massa dan media elektronik, tindakannya dinilai sangat fantastis dan waooww.., namun kondisi sebaliknya akan ditemukan dalam beberapa siaran televisi.

Untuk masyarakat yang memang memiliki akses berita dari televisi dan media elektronik, akan cukup matang untuk menyimpulkan namun opini sebagian masyarakat yang memang hanya mengutamakan informasi dari televisi pasti setidaknya akan menggunakan opini yang telah digiring oleh media televisi tersebut. Kesimpulan saya, aksi sensasional “bos” tersebut useless karena memang dia tidak memiliki media televisi.

Contoh terbaru dari luar negeri, kita mendapati setelah kejatuhan  Morsi, hal yang pertama dilakukan oleh Militer di Mesir adalah menutup stasiun televisi milik Ikhwanul Muslimin. Hal ini dilakukan untuk menghentikan propaganda IM yang dapat membangkitkan semangat anti-perbudakan rakyat Mesir.

Jadi kesimpulannya, pemenang di 2014 adalah mereka yang memiliki atau setidaknya berafiliasi dengan salah satu atau beberapa media televisi. Hanura setidaknya sudah memiliki posisi aman dengan menempatkan Hary Tanu sebagai Cawapresnya yang memiliki beberapa “kuda perang”. Hanya perlu beberapa polesan isu positif yang dapat mengangkat nama Hanura. Golkar dan Nasdem-pun serupa dengan memiliki “kuda perang”nya masing-masing.

Bagaimana dengan PAN? Aksi iklan di bioskop-bioskop yang dilakukan oleh Mantan Ketua IA-ITB ini kurang efektif menurut saya. Hal tersebut utamanya dikarenakan jalan cerita yang dipakai dalam iklan tersebut kurang nyambung dalam konteks kampanye.

Kalau PKB hanya mengandalkan suara dari golongan Nahdiyin yang kinipun makin terpecah suaranya, saya pesimis di 2019 PKB dapat mencapai Electoral Treshold. Hal ini diperparah dengan olok-olokan Partai Kesatria Bergitar yang pernah disematkan ke partai ini.

Berbicara tentang PKS. Partai ini termasuk partai yang loyalitas kadernya paling kuat. Aksi memegang peran di berbagai lembaga rohis kampus terutama kampus-kampus ternama membuat kelangsungan hidup ini dapat dipastikan akan bertahan panjang.

Bila saja PKS dapat meyakinkan ormas-ormas muslim yang saat ini memilih golput seperti FPI,Salafi, Jamaah Tabligh, HTI, MMI, DDI dll untuk mendukung cara perjuangan mereka, dapat dipastikan PKS akan memenangkan pemilihan, persis seperti yang terjadi di Mesir.

Gerindra. Partai ini adalah partai yang paling cepat populer terutama sejak kemenangan Jokowi-Ahok dalam Pilgub Jakarta. Meski hanya menempatkan kadernya sebagai Wagub, namun Gerindra adalah pihak yang paling diuntungkan dengan kemenangan tersebut karena memang Gerindra yang berada dalam Garda terdepan saat pemenangan Jokowi-Ahok saat itu.

Sama seperti PKS, kader PDI-P merupakan kader yang paling loyal. Paham Soekarnoisme yang masih mendarah daging di Indonesia akan membuat partai ini selalu eksis. Duet PDIP-Gerinda dalam pilpres 2014 merupakan duet yang paling cocok namun PDIP perlu mewaspadai politik simpatis yang dapat hanya menguntungkan Gerindra, salah satu caranya adalah memunculkan tokoh karismatis dalam Pilpres. Meskipun Megawati adalah tokoh karismatis namun menurut saya sudah bukan masanya lagi bagi Megawati untuk menduduki bangku kepresidenan.

Untuk partai-partai lain seperti PPP, PBB dan PKPI, bila tidak ada isu positif yang dapat meningkatkan pamor mereka, menurut saya kemungkinan besar akan berada sebagai juru kunci di 2014 nanti.

Iklan

Tentang andihendra

andi hendra paluseri adalahperantau asal medan yang menyelesaikan pendidikannya S1 di ITB jurusan teknik elektro (Tenaga Listrik).
Pos ini dipublikasikan di pengalaman di ITB. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s