Kalangan Menengah Sulit Memiliki Aset Perumahan di Jakarta


Andi Hendra Paluseri

Memiliki rumah pribadi adalah keinginan semua orang, tak terkecuali saya. Setahun yang lalu ketika mengikuti pameran properti, harga rumah (Landed House) di Jabodetabek masih banyak yang dibawah 300 jutaan. Sementara itu rumah vertikal (Apartment) untuk tipe 2 bedroom (33 m2) masih berada di kisaran 200-300 jutaan.

Namun saat ini, kenaikan harga properti sangat ekstrim either rumah ataupun  apartemen. Hal ini terlihat dari pameran properti yang diadakan pada bulan Oktober lalu. perumahan minimalis yang dulu dibanderol di angka 75-100 juta sudah merangsek naik ke angka 150-200juta sedangkan apartemen tipe 33 saat ini sudah di kisaran 450-600 juta.

apartmnOrang-orang yang memiliki modal besarlah yang sering menjadi pembeli pertama dan membelinya dalam jumlah yang banyak dengan harapan akan mendapatkan gain seoptimal mungkin. Dengan semakin larisnya penjualan ini, para developer akan terus membangun tower/blok yang baru dengan harga yang lebih tinggi.

Harga unit dari tower/blok yang lebih tinggi tersebut juga akan laris manis mengingat orang-orang masih menginginkan mendapatkan gain dari investasi properti dan berharap harganya akan tetap melejit. Hal ini akan terus berlangsung sampai akhirnya daya beli orang-orang sudah tidak ada lagi karena harga properti yang sangat ekstrim tersebut. Di saat inilah, kemungkinan terjadi bubbling properti.

Sebenarnya solusi yang dilakukan oleh pemerintah DKI adalah pemberian KPR/KPA bersubsidi kepada rakyat bawah. Dengan pemberian KPR/KPA bersubsidi ini, masyarakat yang berpenghasilan kecil juga memiliki kesempatan untuk memiliki rumah. KPR/KPA bersubsidi tersebut biasanya mensyaratkan maksimal gaji dari masyarakat yang akan mendapatkannya.

Melihat fakta tersebut, dapat disimpulkan bahwa kalangan yang paling menderita akhirnya adalah kalangan menengah karena fasilitas pembiayaan rumah bersubsidi tidak akan didapat namun daya beli untuk apartemen/rumah non-subsidi pun sangat kecil.

Untuk itu, alternatif yang mungkin dilakukan oleh masyarakat kalangan menengah untuk memiliki rumah adalah dengan membeli kavling tanah sedini mungkin. Saat ini, Hampir mustahil untuk kalangan menengah kebawah untuk membeli kavling tanah dengan luas yang cukup di daerah pusat Jakarta sehingga daerah daerah Satelit seperti Depok, Bekasi, Tangerang dan Bogor menjadi incaran yang cukup tepat bagi mereka yang ingin membeli kavling tanah dengan harga yang masih terjangkau.

Iklan

Tentang andihendra

andi hendra paluseri adalahperantau asal medan yang menyelesaikan pendidikannya S1 di ITB jurusan teknik elektro (Tenaga Listrik).
Pos ini dipublikasikan di Energi Indonesia. Tandai permalink.

6 Balasan ke Kalangan Menengah Sulit Memiliki Aset Perumahan di Jakarta

  1. Manish berkata:

    Hey nice website. You shuold also write a post or two about Gold Mine International , its a network marketing company. If you’ve got any question you can contact me via my website Kontactr Form . We can also have a link exchange:Let me know if you’re interested. Nice website. Shared n Bookmarked!

  2. Asop berkata:

    Idealnya memang begitu ya, beli dulu kavling lahan sewaktu masih ngontrak di tempat lain atau waktu numpang di rumah ortu. Lalu dari gaji yg disisihkan sedikit demi sedikit membangun rumah, sampai akhirnya jadi rumah utamanya dan bisa ditinggali. Nanti rumah utamanya bisa dikembangkan dikit-dikit. 🙂

  3. Doni berkata:

    Solusinya gimana ndi?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s