Mempercepat Program Pembangunan 35.000 MW


Andi Hendra Paluseri
Alumni Teknik Tenaga Listrik (Elektro)
Institut Teknologi Bandung

Rekan-rekan pasti masih pada ingat kan dengan program pembangunan pembangkit listrik 35.000 MW kan?. Apa kabarnya sekarang yah?

Program pembangkit listrik 35.000 mw itu adalah program yang dicanangkan di era kepemimpinan Pak Jokowi dan ditargetkan pada akhir tahun 2019, seluruh proyek tersebut dapat beroperasi.

Dari awal disahkannya pemerintah kabinet kerja sampai dengan saat ini kira2 sudah berjalan 1.5 tahun. Nah, selama 1.5 tahun ini coba tebak sudah berapa persen yang berhasil nyala? 30%? 20%? 10% atau bahkan 5%? Data dari detik.com perhari ini kapasitas pembangkit yang sudah nyala baru 223 MW. Jadi coba hitung berapa persen angka itu dari target 35.000 MW.

Oke, tidak fair kalo dihitung berdasarkan target total kayaknya. Tapi angka tersebut juga sudah dibawah target tahunan RUPTL tahun lalu.

Nah, kalau dibiarkan terus dengan cara yang biasa bukan tidak mungkin target 35.000 hanya akan menjadi mimpi di siang bolong saja.

Harus ada perubahan! Yang fundamental! Pemerintah wajib sekali memonitor lebih dari hari ke hari dengan lebih ketat terkait progress pengembangan megaproyek ini.

Memang ada tim dari pemerintah yang bertugas untuk memonitor megaproyek tsb yang berada di bawah kepemimpinan Pak Nur Pamudji. Namun kewenangannya perlu ditambah agar para pelaksana dapat bekerja lebih optimal.

Apa saran dari saya?

1.perbanyak proyek tunjuk langsung atau setidaknya pemilihan langsung.
Percaya deh, hal ini juga akan memudahkan pln karena satu proses lelang saja itu bisa menghabiskan waktu lebih dari 12 bulan untuk proses pra-bidnya. Bayangkan kalau untuk prabid saja butuh 12, bagaimana dengan ppa? Financial close? Epc dan cod? Waktu tinggal 3.5 tahun lagi lho

2.lahan dan data2 lahan dipersiapkan oleh pln.
Salah satu masalah utama dalam proyek pembangkit adalah pembebasan lahan. Dengan mengamankan lahan dari awal, berarti pln telah menghemat waktu para bidder untuk mencari lahan setelah proses RFP. Mungkin PLN dapat melakukan hal ini paralel dengan persiapan dokumen prakualifikasi proyek. Selain membantu para bidder, hal ini juga membatasi membengkaknya komponen A harga listrik atas pembelian lahan.

3.Sinergi BUMN
Tak dapat dipungkiri bahwa kondisi keuangan PLN juga cukup terbatas. Dengan keterbatasan ini, mau tidak mau dan suka tidak suka, pln juga tidak dapat mengerjakan seluruh proyek dengan uang sendiri. Perlu ada kerja sama dengan perusahaan lain. Sinergi dengan BUMN sebagai langkah yang tepat.

Mungkin cukup 3 saja saran dari saya karena sekarang sedang mengantuk (perjalanan menuju ke bandung)
Salam semuanya

Iklan

Tentang andihendra

andi hendra paluseri adalahperantau asal medan yang menyelesaikan pendidikannya S1 di ITB jurusan teknik elektro (Tenaga Listrik).
Pos ini dipublikasikan di pengalaman di ITB. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s