Pengalaman Mudik Lintas Timur Sumatera 2018 (Jakarta Medan 76 Jam)


Setelah beberapa hari menghabiskan waktu di jalanan Sumatera, kemarin pagi saya akhirnya tiba di kota Medan. Beberapa teman meminta untuk dibuatkan tulisan terkait pengalaman perjalanan ini. Baiklah, here you go,,

photo0. Persiapan (Jumat, 8 Juni 2018)

Di hari persiapan ini, saya masih kerja, masih sempat mengantarkan koper dan peralatan travelling para konsumen https://koper.lease di pagi hari. Mobil juga sudah dicuci bersih oleh penyedia jasa cuci mobil di gedung Wisma Nusantara. Menjelang maghrib, saya dan istri memulai perjalanan dimana tujuan awalnya adalah rest Area KM 43 Jakarta-Merak untuk bertemu dengan rombongan 8 Road to Sumatera (“RTS”) Lintas Timur. Oiya, setiap tahunnya ada lho program RTS ini.

Fasilitas rest area KM 43 Jakarta-Merak cukup lengkap, mulai dari Alfamart, Mesjid, Rumah Makan Padang dll. Oiya di rest area ini juga tersedia tempat penjualan tiket ferry Merak-Bakaheuni temporer dimana hanya akan digunakan bila di pintu masuk Merak sudah padat. Nah, karena jumat malam belum padat, kami diminta oleh petugasnya untuk membeli langsung di pelabuhan Merak. Setelah semua rombongan 8 lengkap, kami memulai perjalanan ke pelabuhan Merak.

Tim sampai di Merak pukul 11.20 dengan kondisi tidak terlalu padat. Alhamdulillahnya, kami berhasil naik ke ferry pukul 11.40 dan ferry mulai perjalanan pukul 12.00. Pengalaman saya sebelum-sebelumnya, bila kurang beruntung, kita harus menunggu 2-5 jam untuk naik ferry bila kondisi pelabuhan Merak sudah padat.

Total jarak dari kantor saya ke Merak sekitar 120 km. Biaya yang dikeluarkan sampai dengan saat ini adalah sekitar Rp1.050.000 (bensin 250.000, tol 76.000, persiapan snack 350.000, ferry 374.000)

1. Hari Pertama (Sabtu, 9 Juni 2018) Merak-Bakeheuni-Lampung-Palembang

Kami tiba di Bakaheuni pada pukul 02.00 dini hari. Selanjutnya perjalanan dilanjutkan sampai dengan pukul 03.30. Kemudian kami istirahat sejenak di Mesjid Baiturrohim-Lampung Timur untuk bersih-bersih, sahur, sholat shubuh dan tidur.

IMG-20180613-WA0007

Perjalanan dilanjutkan kembali pada pukul 06.00. Sejauh ini jalanannya masih bagus. Lubang-lubang juga sudah ditambal. Truk tetap banyak, jadi kami harus tetap waspada. Sesampainya di restoran Pagi Sore, kami berhenti sebentar untuk mandi dan sarapan pagi bagi tim yang tidak puasa. Restoran Pagi Sore ini, sangat direkomendasikan. Airnya bersih, lokasinya luas dan musholanya juga lapang. Kemudian kami meneruskan perjalanan.

Y974412005Pukul 11.30 kami sudah sampai di Tulang Bawang-Lampung, jalannya macet karena aktivitas pasar. Kemudian pada pukul 13.51 kami sudah tiba di Ogan Komering Ilir-Sumsel. Kami tiba di Palembang pukul 19.00 dan memutuskan untuk bermalam disana tepatnya di Wisma al-Mukarrohmah Palembang. Lokasinya Besar, Bersih dan Biaya Murah (“BBM”). Permalam kami mendapatkan rate Rp 200.000. Dari namanya juga sudah menenangkan hati hehe..

Karena istirahat yang kurang dan tidak ada supir pengganti ditambah dengan kondisi lagi berpuasa, saya mengalami microsleep di siang hari. Sangat risky dan saran saya bagi teman-teman bila tidak mempunyai supir pengganti, sebaiknya ambil rukhshoh saja untuk tidak berpuasa karena berbahaya selama perjalanan.

Total jarak dari Bakaheuni ke Palembang sekitar 500 km. Tepatnya melewati Bakaheuni- Maringgai- Sukadana- Menggala- Bandar Agung- Tulang Bawang- Mesuji-Simpang Pematang -Lempuing-Kayu Agung-Seberuk-Tanjung Raja-Indralaya-Palembang

Biaya yang dikeluarkan untuk perjalanan hari ini sekitar Rp550.000 (bensin 250.000, hotel 200.000, makan 100.000)

2. Hari Kedua (Minggu, 10 Juni 2018) Palembang-Tempino-Jambi-Indragiri Hulu

20180610_084151.jpgSetelah segar bugar, kami memulai perjalanan pukul 06.00 dari Palembang. Jalannya mulai tuh naik turun. Di perjalanan Sumatera ini, saya baru sadar ternyata saya memiliki jiwa pembalap juga haha..

Sesampainya di daerah Sungai Lilin-Sumsel, terjadi kemacetan luar biasa. Karena beberapa mobil sudah mulai menggunakan lajur kanan, maka kami pun mengikuti. Tak lama setelah itu, polisi pun datang dan memaksa kami untuk berhenti dan kembali ke lajur kiri. Ternyata kemacetan ini dikarenakan proses pembangunan/perbaikan jembatan sungai lilin dan diperparah lagi dengan aktivitas pasar yang berada setelah sungai tersebut. Setelah itu, jadi pembalap lagi.

Memasuki wilayah Jambi tepatnya di Muaro Jambi, perjalanan kami juga tersendat. Ternyata telah terjadi kecelakaan yang melibatkan mobil pick up dan satu mobil jenis lain. Kaca-kaca mobil berserakan di tepi jalan. Semoga tidak ada korban jiwa. perjalananpun kami lanjutkan ke provinsi Riau.

Picture2Berbuka puasa memang enak dengan air dingin. Nah, karena di mobil belum tersedia kulkas portable, saya mendapatkan ide lain supaya mendapatkan air dingin. Saya ambil minuman botol yang akan saya minum untuk berbuka, lalu saya taruh ke salah satu lubang keluaran di dashboard mobil saya. It works ternyata..

Karena 2 (dua) kemacetan tadi, kami hanya bisa menempuh sampai ke Indragiri Hulu pada hari ini. Selanjutnya memutuskan untuk istirahat 2 (dua) jam di SPBU terdekat.

Oiya, info dari ketua rombongan untuk membedakan apakah kita masih berada di perbatasan Jambi atau sudah masuk ke perbatasan Riau adalah tinggal melihat kondisi jalannya saja. Apabila jalannya sudah berbeton, berarti kita sudah memasuki wilayah Riau haha..

Total jarak dari Palembang ke Indragiri Hulu sekitar 600 km. Tepatnya melewati Palembang- Pangkalan Balai- Air Batu- Sungai Lilin-Tungkal jaya- Bayung Lencir- Musi Banyuasin- Tempino- Jambi- Muaro Jambi- Jabung Barat- Tungkal Ulu- Keritang- Seberida- Belilas- Rengat (Indragiri Hulu)

Biaya yang dikeluarkan untuk perjalanan hari ini adalah sekitar Rp350.000 (bensin 250.000 dan makan 100.000)

3. Hari Ketiga+ (Senin, 11 Juni 2018) Indragiri Hulu-Pekanbaru-Dumai-Lab Batu-Medan

Picture1Karena target sahur di Pekanbaru, pukul 02.00 kami melanjutkan perjalanan melewati hutan di Indragiri Hulu. Meskipun sudah menggunakan kecepatan yang maksimal, kami tetap belum dapat mencapai Pekanbaru dan terpaksa sahur di Hutan. Untungnya ada rumah makan mas Boy Jogja, alhamdulillah keisi nasi.

Setelah selesai sahur, kami melanjutkan kembali perjalanan. Sesampainya di Kerinci, rombongan kami berkurang karena ada yang sudah tiba di kampung halamannya. Kami sholat subuh dan istirahat di mesjid daerah Kerinci. Mesjidnya bagus dan luas. Sepenglihatan saya, hampir semua mesjid-mesjid di Provinsi Riau ini megah-megah lho.

Pagi harinya kami tiba di kota Pekanbaru. Kemudian dilanjutkan sampai ke Duri, tempat mudik salah satu rombongan. Di Duri, kami istirahat sebentar di kediaman rombongan tersebut. Alhamdulillah bisa mandi dan istirahat sebentar. Info dari teman-teman di sosial media, bahwa sebelum masuk Rantau Prapat harus waspada karena banyak razia polisi. Untungnya istri saya sudah dibekali surat sakti dari Inspektoratnya, jadi aman.

Sesuai ashar, kami tiba di daerah Labuhan Batu-Sumatera Utara. Di kanan kiri jalan, kita disuguhi dengan pemandangan kebun kelapa sawit yang seakan tak ada habisnya. Kebun sawitnya juga tertata dengan rapi. Saat berbuka, kami tiba di daerah Aek Kanopan namun karena tidak menemukan rumah makan, akhirnya perjalanan tetap dilanjutkan.

Di daerah Kisaran, lagi-lagi saya merasakan microsleep. Lebih parahnya saat melewati daerah Lima Puluh, menyetir mobil sudah tidak teratur. kadang ke trotoar kiri, kadang malah ke kanan dan hampir menabrak truk. akhirnya saya memutuskan untuk istirahat di SPBU daerah Lima Puluh. Setelah istirahat, dini harinya saya lanjutkan perjalanan ke Tebing Tinggi. Untungnya sudah ada tol di Tebing Tinggi sehingga perjalanan saya lebih cepat.

Oiya karena istirahat yang kurang, saya masih mengalami microsleep di sepanjang tol Tebing Tinggi. Namun karena tidak ada rest area di tol tersebut, saya tetap meneruskan perjalanan. Di tengah perjalanan, karena sudah tidak kuat lagi menahan kantuk, akhirnya saya memutuskan untuk menepikan mobil di bahu jalan tol guna istirahat. Ini berbahaya sih. Saran saja, kalau boleh untuk tol yang cukup panjang disediakan rest area-lah. Setelah sudah mendingan, saya lanjutkan kembali perjalanan dan sampai di rumah pada Selasa pagi pukul 04.00 dan dilanjutkan dengan sahur.

Total jarak dari  Indragiri Hulu ke Medan sekitar 880 km. Tepatnya melewati Rengat-  lirik- Ukui- Sorek- Pelalawan- Pekanbaru- Minas- Kandis- Duri- Bangko- Balam- Baganbatu- Aek Kanopan- Rantau Prapat- Kisaran- Lima Puluh- Tebing Tinggi- Tanjung Morawa- Medan

Biaya yang dikeluarkan sampai untuk perjalanan hari ini adalah sekitar Rp400.000 (bensin 250.000 dan makan 150.000)

Selesailah sudah perjalanan mudik Jakarta-Medan tahun ini sejauh 2100 km yang menghabiskan waktu sekitar 76 jam serta biaya sebesar Rp 2.350.000. Untuk perjalanan balik, saya memutuskan untuk menggunakan pesawat dan mengkargo-kan mobil saja.

Saran untuk Pemudik Lintas Darat ke Sumatera:

  1. Usahakan berombongan –> Hal ini akan mengurangi risiko tindakan kriminal di sepanjang daerah Lintas yang anda lewati dan tentu saja mengurangi risiko tersesat/salah arah
  2. Bawa Uang Cash –> Bawalah uang cash secukupnya sekitar 2-4 Juta yang akan saudara gunakan untuk membeli bensin, makan, parkir serta hotel.
  3. Gunakan Supir Pengganti –> Perjalanan mudik ribuan km akan terasa mudah bila teman-teman menggunakan supir pengganti. Nah, istri saya belum bisa menyetir, otomatis sepanjang perjalanan saya menjadi driver tunggal
  4. Perbanyak istirahat –> Microsleep menjadi pertanda alami bagi Anda untuk segera istirahat. Bila ada supir pengganti, anda bisa beristirahat di mobil juga.

Oke, cukup sekian sharing dari saya. Semoga tahun depannya dapat ikut kembali dalam perjalanan darat ke Sumatera.

Tentang andihendra

Andi hendra paluseri adalah perantau asal medan yang menyelesaikan pendidikannya S1 di ITB jurusan teknik elektro (Tenaga Listrik).
Pos ini dipublikasikan di Budaya Bangsa, Ide, kisah hidupku. Tandai permalink.

5 Balasan ke Pengalaman Mudik Lintas Timur Sumatera 2018 (Jakarta Medan 76 Jam)

  1. Anonim berkata:

    mantap mas bro.. kalo kami dari batam menyeberangi laut pelabuhan buton ( mengkapan ) – pekanbaru – palembang lewat lintas timur karna nyetir sendiri emang trasa lelah tapi luar biasa enak sekali, lebih irit heheheh

  2. otidh berkata:

    Mantap bang Andi! Suami siap siaga 👍
    Kupikir baliknya tadi mau nyetir lagi. Nggak kebayang capeknya.

  3. Anonim berkata:

    Have a nice lebaran day pak Direktur Kabayan sekeluarga

  4. andihendra berkata:

    Terima kasih pak firman
    Mauliate godang pak

  5. Oman Omjo berkata:

    Alhamdulillah bang Andi dan isteri sampai di Medan dalam keadaan sehat wal afiat, semangat bersilahturahim ke Ayah Ibu dan saudara-saudara serta handaitolan, akhir perjalanan mudik selama 76 jam memberi hikmah. Mauliate godang bang Andi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s